Trends Economic Issues

Sindir Negara Maju, Jokowi: Komitmen Pendanaan Iklim Hanya Retorika

Jokowi (kanan) dan Presiden AS Joe Biden di KTT G20. (dok Setpres)

Presiden Joko Widodo pada gelaran KTT G20 2023 di India kemarin, secara terang-terangan mengemukakan kekesalannya. Melalui akun Instagram pribadinya, Jokowi mengungkapkan bahwa komitmen negara maju soal pemberian pendanaan untuk perlindungan kelestarian Bumi sebatas retorika.

“Percepatan transisi ekonomi rendah karbon menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan. Sayangnya, komitmen pendanaan negara maju, masih sebatas retorika dan di atas kertas, baik itu pendanaan climate US$100 miliar per tahun, maupun fasilitas pendanaan loss dan damage,” kata Jokowi dalam unggahannya.

Presiden RI mengatakan bahwa Bumi ini sedang sakit. Hal tersebut dibuktikan dengan tanda bahwa suhu Bumi semakin meningkat mencapai titik tertinggi Juli lalu dan diprediksi akan terus meningkat.

“Pada bulan Juli lalu, suhu dunia mencapai titik tertinggi dan diprediksi akan terus naik dalam lima tahun ke depan. Ini akan sulit ditahan, kecuali dunia menghadangnya secara masif dan radikal,” ujar Jokowi tegas.

Mantan Wali Kota Solo ini mengklaim bahwa Indonesia telah melakukan sejumlah aksi nyata untuk mengatasi perubahan iklim. Upaya tersebut diwujudkan melalui deforestasi hingga restorasi mangrove. “Tahun lalu di Bali, Indonesia telah menginisiasi G20 Bali Global Blended Finance Alliance,” ucapnya.

Selanjutnya Jokowi mengajak para kepala negara untuk melakukan aksi nyata terkait kelestarian Bumi. “Sesi pertama KTT G20 India hari ini mengangkat tema One Earth. Pada kesempatan berbicara, saya mengajak para pemimpin negara G20 untuk melakukan aksi nyata dalam melindungi kelestarian Bumi,” ungkapnya.

Jokowi tidak mengatakan kepada siapa sindiran tersebut dilontarkan. Namun, pada unggahannya Jokowi mencantumkan foto bersama Presiden AS Joe Biden. Dilansir dari Reuters, negara-negara maju telah menjanjikan pendanaan tahunan sebesar US$100 miliar untuk membantu negara-negara berkembang mengurangi emisi dan mengelola dampak perubahan iklim.

“Mereka belum mencapai tujuannya. Dari tahun 2015 hingga 2020, 35 negara melaporkan total lebih dari $182 miliar dalam bentuk hibah, pinjaman, obligasi, investasi ekuitas, dan kontribusi lainnya,” tulis Reuters (11/09/2023).

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved