Ferry Sutanto, Tingkatkan Kualitas Talenta Digital Indonesia

Berkarier selama 19 tahun di Amerika Serikat (AS) tidak membuat Ferry Sutanto terlena dan lupa dengan Indonesia sebagai tanah airnya. Bahkan, pria yang berpengalaman di Silicon Valley ini melihat potensi besar pertumbuhan digital di Indonesia sehingga bertekad membangun talenta digital yang lebih berkualitas di negeri ini, demi mendukung potensi industri digital di masa depan. Selain itu, dia juga melihat prospek internet di Indonesia yang tumbuh pesat.
Tak hanya itu. Ketika masih di Negeri Paman Sam pada 2010, Ferry berkenalan dengan para petinggi Grup Djarum, yang memintanya kembali ke Tanah Air untuk memajukan bisnis di industri digital di Indonesia. Hal inilah yang semakin mendorongnya pulang ke Indonesia pada 2011, dan kemudian dalam perjalanannya mendirikan G2 Academy.
Pria kelahiran Jakarta, 1989, ini memulai kariernya di AS sebagai Software Engineer Metrowerks, sebelum naik menjadi Senior Software Engineer Redback Networks dan Technical Team Leader Cisco Systems pada 2007. Ketika kembali ke Indonesia, dia mengawali karier di Kaskus. Awalnya, dipercaya mengurus Kaskus selama enam bulan. “Saya seperti masuk masa probation di Kaskus, kalau di Amerika kan tidak ada itu,” ujarnya sambil terbahak.
Kemampuannya dalam memimpin perusahaan –yang memberdayakan individu, profesional, dan organisasi global dengan keunggulan teknologi end to end— membuat Ferry dipinang Grup Djarum. Dia didapuk menjadi Business Development Manager GDP Venture, dan akhirnya menjadi Head of Technology Blibli.com pada 2012.
Menurut Ferry, ada yang menarik dari dunia digital di Indonesia karena dianggap semudah mengakses Instagram atau Facebook. Kebanyakan yang bergelut di dalamnya menganggap menghasilkan solusi teknologi itu begitu mudah. “Padahal kenyataannya, semakin mudah sebuah aplikasi, semakin rumit persiapan back end-nya,” ungkapnya.
Sebagai pemimpin teknologi di sebuah e-commerce grup besar, dia merasa tantangan terbesarnya adalah mengubah pola pikir (mindset). Kesabaran dan kekuatannya membangun talenta menjadi kuncinya. Beruntung, kegigihannya ini didukung oleh pemegang saham Djarum.
“Awalnya, mereka menggunakan solusi IBM, sudah jadi, tapi kan solusi itu di Blibli di-set, kalau pengguna masuk bersamaan seperti ketika ada super sale, pasti chaos. Ini kemudian benar terjadi,” Ferry menjelaskan.
Lulusan Computer Science University of Texas ini melihat sejatinya talenta teknologi dan informatika di Indonesia tidaklah kalah dari talenta luar negeri, hanya saja masih perlu diasah lagi dari sisi hard skill dan soft skill. “Saya pribadi merasakan hal ini ketika bekerja 19 tahun di Amerika, terutama ketika di Silicon Valley, 11 tahun di sana, belajar menyampaikan pendapat, suka maupun tidak,” katanya.
Pria yang pernah bekerja di bidang Content Delivery Network (CTN Network) ini bisa dibilang orang yang membangun fondasi teknologinya Blibli. Kala itu, di dalam tim teknologi Blibli sudah ada 11 orang.
Selama memimpin, dia juga membangun fondasi SDM TI Blibli, terutama mindset developer. Dia mencontohkan mindset di Silicon Valley: kalau kita mau bikin e-commerce, kita langsung buat software-nya sendiri. Adapun di Indonesia, terutama ketika di Blibli, mereka sudah membeli software-nya dari IBM.
Ferry bukan hanya mengubah mindset kerja tim TI dan tim developer Blibli, tapi juga tim manajemen serta top level. Dia sangat memahami grup bisnis tempatnya bekerja.
“Kebetulan saya beruntung, bisa bicara langsung ke Martin, yang orangnya we can make mistake. Dia very open to ideas sehingga kami bisa do the as it is now, ya gitulah, karena beliau open mind sehingga lanjut ke orang-orangnya. Dari team idea sendiri, yang saya bangun itu yang mencolok banget adalah kami mesti confident kan,” paparnya.
Tantangan yang dihadapi Ferry ketika itu, harus bisa membangun kepercayaan diri tim dan mau bicara, meski di forum ada yang membicarakan dan menjatuhkan kepercayaan diri mereka. Terlebih pada 2012, TI dianggap sebagai cost center.
“Padahal, sudah ada pengalaman platform down karena diserbu (pelanggan) saat festival belanja. Ada 10 ribu orang sekaligus menyerbu sehingga (platform) langsung mati dan tim juga panik,” katanya.
Akhirnya, Ferry bersama tim membangun software sendiri. Beruntung, dengan segala kendala, upayanya tidak ditentang manajemen, walaupun tidak ada yang mendukung penuh. Setelah jadi, mereka bisa dengan mulus switch dari internet langsung ke engine, tanpa mengganggu kenyamanan pelanggan.
Setelah tiga bulan berhasil membangun fondasi teknologi di Blibli, Ferry memutuskan membangun startup sendri dan keluar dari Blibli. Startup pertama yang dia bangun adalah Grya, semacam e-commerce untuk barang-barang rumah, tapi sayang tidak berjalan dengan baik. Lalu, dia pun menjadi Chief Technology Officer SiCepat Xpress pada 2018, tapi hanya bertahan lima bulan.
Jiwa membangun startup tetap tinggi, dia pun melihat pentingnya membangun talenta digital yang lebih baik untuk Indonesia. Dalam membangun G2 Academy, dia didukung Angkora dan Sebastian Togelang. Selain mempersiapkan talenta dari level dasar hingga profesional, G2 Academy juga menyediakan layanan konsultansi teknologi dan solusi.
Klien pertama mereka adalah SiCepat Xpress dan Lakuemas. G2 Academy –G2 singkatan dari Gifted Geeks– merupakan perusahaan yang menyediakan platform edukasi dan solusi teknologi digital, jasa penyaluran talenta di bidang teknologi digital, serta platform edukasi umum berbasis artificial intelligence.
G2 Academy menyediakan solusi teknologi digital yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Selain mencetak talenta dan solusi yang sesuai dengan kebutuhan industri, perusahaan ini pun mempertemukan supply dan demand dari sisi talenta digital. Didirikan pada 2018, sekitar 200 ribu alumni telah dilahirkannya.
G2 Academy saat ini juga tergabung dalam program Kartu Prakerja, dengan menawarkan pelatihan singkat untuk pemula seputar desain grafis, pemasaran digital, hingga fotografi. Selain kelas umum, G2 Academy juga menyediakan corporate training bagi perusahaan yang ingin meningkatkan talenta pegawainya. Sekitar 30 perusahaan pernah memanfaatkan jasanya, antara lain AstraPay, DANA Indonesia, dan Telkomsel.
Jadi, yang disediakan G2 Academy bukan saja solusi end to end, tapi juga ekosistem yang memudahkan sebuah produk diterima pasar. Ferry sangat memahami bahwa kebutuhan perusahaan akan talenta yang siap kerja itu sangat penting, maka silabus bahan pelajaran disusun sesuai dengan kebutuhan nyata di dunia kerja. Mentor pun merupakan profesional berpengalaman di bidangnya, sehingga dapat mengajarkan aspek teknis dan best practice.
Untuk mendapatkan pendidikan yang bagus, memang dibutuhkan dana tidak sedikit. Karenanya, G2 Academy pun menawarkan beberapa alternatif. Contohnya, program SNPL (Study Now Pay Later): pelajar bisa membayar biaya pelatihan setelah mendapatkan pekerjaan.
Ferry mengaku, di tahun ketiga G2 Academy sudah break even point (BEP). Dengan kliennya saat ini, sebanyak 20-30 perusahaan, dia pun semakin fokus pada pengembangan program dan talenta di dalam perusahaan agar lebih baik lagi memberikan layanan.
“Saya ingin talenta digital Indonesia bisa berkiprah di dunia internasional,” demikian harapan Ferry. Itu sebabnya, dia juga bekerjasama dengan berbagai perguruan tinggi dan sekolah, antara lain BINUS dan BSI. (*)
Herning Banirestu dan Dede Suryadi
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.