Trends

Terobosan Xavier Marks di Bisnis Broker Properti

Daniel Sunyoto, Presiden Direktur Xavier Marks Indonesia

Selama ini, bisnis broker properti mengenal sistem franchise dan local brand (independent office). Nah, PT Xavier Marks Indonesia, brand jaringan perusahaan pemasaran properti yang berdiri di Surabaya sejak 2017, memperkenalkan konsep baru, yaitu “manajemen partnership (kemitraan)”.

Sistem tersebut memberikan dukungan lebih optimal kepada kantor broker properti. Risiko kegagalan pun bisa ditekan sekecil mungkin. Sistem baru tersebut juga ditunjang kecanggihan teknologi informasi yang menghubungkan seluruh kantor Xavier Marks secara real-time online.

Tidak mengherankan, Xavier Marks pun mengklaim dirinya sebagai “the largest digital real-estate agency di Indonesia” karena telah melakukan transformasi digital. Hal ini dilakukan sejalan dengan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku konsumen di industri properti.

Transformasi digital Xavier Marks ditandai dengan hadirnya berbagai inovasi digital untuk para agen dan kliennya. Antara lain, melalui Xmart, aplikasi yang menjadi platform terintegrasi bagi semua aktivitas terkait properti.

Aplikasi Xmart tidak hanya mempermudah interaksi antara agen dan klien, tapi juga meningkatkan efisiensi dan pengalaman dalam bertransaksi. Xavier Marks mengutamakan teknologi digital dalam setiap layanannya, dan aplikasi ini menyediakan jangkauan listing yang lebih luas dengan mengoptimalkan fitur-fitur yang telah disediakan.

Selain itu, real-estate agent ini pun memiliki XMarks Digital Academy, yang diklaim menjadi satu-satunya real-estate agent yang memiliki program Certified Digital Agent (CDA) dan Certified Digital Office (CDO) dengan layanan digital video content, video home viewing, dan digital marketing strategy, yang memberikan kemudahan untuk memaksimalkan potensi diri dan eksplorasi para agennya.

Saat ini, Xavier Marks memiliki kantor pusat seluas 2.100 m2 di kawasan strategis di pusat Kota Surabaya. Kantor ini memiliki berbagai fasilitas modern, seperti digital administration office, training classroom, executive lounge, merchandise store, indoor sports hall, ATM gallery, AI fresco cafe, dan spacious car park.

Xavier Marks juga telah memiliki 77 kantor cabang yang tersebar di 17 kota besar di Indonesia. Di antaranya, di Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang, Surabaya, Sidoarjo, Jember, Bali, Kupang, dan Pontianak.

Lalu, bagaimana awal mula Xavier Marks didirikan dan misinya apa? Apa yang membedakan Xavier Marks dengan yang lain?

Daniel Sunyoto, Presiden Direktur Xavier Marks Indonesia, mengatakan bahwa meski usia perusahaan ini baru enam tahun, para pelopor dan pendirinya sudah berpengalaman di dunia properti. Pendiri Xavier Marks adalah Iman Sutedjo dan Maria Ratna Tulus (Darmo Group) yang sudah lebih dari 20 tahun di dunia properti.

Sebelumnya, Iman dan Maria bekerja di brand franchise dari Australia. Lalu, keduanya bermitra dengan Petrus Susanto Darmawidjaja dan Tjandra Setyawati (Tjandra Group) yang dulunya di bawah master franchise brand dari Amerika Serikat.

Daniel sendiri terjun di dunia properti sejak 1996. Ketika itu, dia bergabung sebagai agen pemasaran properti di salah satu brand franchise internasional. Pada 2016, dia sudah menjadi prinsipal atau pemilik kantor properti. Dia punya tujuh kantor properti dari brand yang lama tersebut. “Di Februari 2017, kami mulai Xavier Marks. Saat itu, kami tidak menggunakan konsep franchise, tetapi manajemen kemitraan,” katanya.

Perbedaannya, franchise biasanya menyediakan merek, menjual lisensi, dan menyediakan sejumlah training yang diperlukan sesuai dengan standar mereka. Semua franchise untuk bidang properti itu tidak ada satu pun yang terlibat di dalam pengelolaan kantor-kantor tersebut.

“Jadi, kalau kami membeli franchise, berarti setiap kantor kami dikelola dan dimiliki secara mandiri, master franchise tidak pernah terlibat,” Daniel menjelaskan.

Pada saat memulai Xavier Marks, dia berpikir bahwa persaingan selama 20 tahun di dunia properti membuat dunia ini jadi medan yang berbeda. Bagi mereka yang pertama kali masuk atau terjun, mungkin medannya akan jauh lebih keras karena jumlah brand-nya cukup banyak.

Daniel melihat mereka yang bergabung dalam dunia pemasaran properti, kalau hanya diberi training dan merek, sepertinya kemungkinan untuk survive cukup berat.

Dengan demikian, perusahaannya menciptakan sebuah konsep sistem bisnis yang bernama manajemen partnership. Artinya, Xavier Marks Indonesia sebagai pemilik lisensi juga punya kepemilikan saham pada setiap kantor cabangnya.

“Kami juga mempunyai akses pengelolaan. Jadi, kami ikut mengelola kantor-kantor tersebut. Karena kami terjun langsung di dalam pengelolaan kantor-kantor cabang ini, harapannya sebisa mungkin risiko untuk gagal itu lebih kecil. Berbeda dengan franchise, mereka tidak masuk di dalam pengelolaannya,” ungkap Daniel.

Jadi, Xavier Marks adalah sebuah brand yang bukan franchise. Xavier Marks mengklaim dirinya sebagai brand pertama yang menggunakan sistem manajemen partnership.

Artinya, Xavier Marks memiliki saham di semua kantor cabangnya yang ada dan turut mengelola, menjadi konsultan strategis, serta memantau monitoring secara agresif setiap pertumbuhan kantor cabang. “Konsep ini adalah sebuah konsep yang pertama kali ada di dalam dunia properti brokerage,” ucapnya.

Xavier Marks tidak memiliki sendiri? “Karena, konsentrasi kami lebih kepada mengembangkan sistem bisnisnya. Kami tidak berkonsentrasi di dalam memasarkan propertinya,” Daniel menjelaskan. Biasanya, kepemilikan Xavier Marks di setiap cabang sebesar 10%-20%, karena mereka yang mengelola sehingga mereka mendapat slot yang lebih besar.

“Jadi, kami betul-betul murni sebagai badan usaha dengan kepemilikan saham masing-masing (kerjasama pemegang saham), tetapi di setiap cabang Xavier Marks selalu komisaris utamanya adalah saya karena kami harus mengontrol dan mengevaluasi pertumbuhan setiap perusahaan. Sementara para partner adalah direktur utamanya. Dengan konsep ini, posisi kami sama. Kami punya kepentingan yang sama agar perusahaan ini terus tumbuh,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya selama enam tahun berdiri, Xavier Marks mengambil langkah untuk mengembangkan teknik pemasaran properti secara digital sehingga sangat berdampak positif terhadap pertumbuhan bisnisnya. Saat ini pun, pihaknya tengah mengembangkan sebuah aplikasi yang ditargetkan menjadi super apps ke depannya.

Aplikasi tersebut yang akan mendorong pertumbuhan bisnis para agen propertinya serta membantu customer untuk bisa menemukan properti mereka dengan cepat. Aspek ini yang membuat Xavier Marks bisa tumbuh dengan baik.

Selain itu, kebutuhan properti yang kian melonjak juga membuat revenue Xavier Marks terus naik, pada 2022 sebesar 21,2%. Selain itu, 5.800 agen telah bergabung dan lebih dari 119 ribu listing properti.

Yang menarik, dari peringkat nasional secara tahunan, omzet terbesar Xavier Marks berasal dari area Tangerang, disusul Surabaya, Jakarta, dan kota lain. Memang, saat pandemi, pihaknya melihat banyak sekali migrasi, mungkin banyak customer yang dulu terbiasa tinggal di Jakarta akhirnya memilih pindah ke Alam Sutera, Gading Serpong, atau BSD City. “Ini cukup dominan menguasai omzet transaksi kami,” ujar Daniel.

Selama 2017-2022 gross revenue Xavier Marks terus tumbuh. Di 2017, pendapatannya masih Rp 28,79 miliar, di 2018 naik 56,32% menjadi Rp 45,01 miliar, dan di 2019 naik 46,55% menjadi Rp 65,96 miliar. Di 2020, memang sempat terimbas pandemi, tetapi masih tumbuh 9,17% menjadi Rp 72,01 miliar, di 2021 tumbuh 24,36% menjadi Rp 89,55 miliar, dan di 2022 naik 21,16% menjadi Rp 108 miliar.

Dari segi omzet, di 2020 omzet transaksi Rp 6,68 triliun, di 2021 Rp 6,71 triliun, dan meningkat cukup signifikan di 2022 sampai Rp 7,56 triliun. “Target kami di 2023 ini Rp 10 triliun,” ujar Daniel optimistis.

Jika disarikan, kunci sukses mengibarkan Xavier Marks ialah, pertama, inovasi. Banyak sekali orang pada saat melakukan bisnis properti, inovasinya agak lambat.

Kedua, strategi. Daniel melihat saat ini strategi bisnis di setiap wilayah dan demografi betul-betul harus bisa sangat customizable karena banyak pemain lain yang sangat bersikukuh dengan sistem bisnis. Sistem bisnis ini tidak akan bisa berkelanjutan jika tidak dibarengi dengan strategi yang betul-betul customizable. Pasar di Jakarta dengan pasar di Bandung, Bali, dan Surabaya sangatlah berbeda.

Ke depan, ada dua target Xavier Marks yang ingin diwujudkan. Pertama, go international. Kedua, sebelum akhir 2024 bisa mencapai 100 kantor cabang. Lalu, di 2025, mulai melakukan persiapan untuk IPO. “Tapi ini masih rencana manusia, ya. Itu impiannya,” ujar Daniel.

Defie Wibifono, Influencer, Home Reviewer & Property Key Opinion Leader (KOL), sekaligus prinsipal Xavier Marks, mengatakan bahwa sebelum bergabung dengan Xavier Marks, dia hampir tiga tahun di brand properti lain. Defie menjalankan pekerjaan sebagai agen properti sampai menjadi prinsipal itu semuanya dengan cara konvensional.

Ketika bermitra dengan Xavier Marks, kantor pertamanya di Jabodetabek. “Jadi, pada pertengahan 2017, saya sudah buka kantor di Gading Serpong,” ujar Defie.

Ketika itu, Xavier Marks termasuk pemain baru, bahkan namanya di Jabodetabek itu bukan siapa-siapa. Yang meyakinkan Defie bermitra dengan Xavier Marks ialah pendirinya adalah orang lama di bidang properti.

Mereka juga mempunyai program yang berbeda. Di brand broker lain, setiap pemasar diajari cara menjual properti sebanyak mungkin dan sampai tua tetap menjadi agen properti. Di Xavier Marks, setiap agen properti diajari supaya bisa mempunyai kantor sendiri. Selain itu, diajari juga digital marketing untuk berjualan properti.

“Itulah mengapa saya sampai saat ini sudah punya empat kantor: di Gading Serpong, di BSD ada dua, dan di City Resort. Dari empat kantor ini, ada sekitar 200 agen properti yang terdaftar. Omzet paling besar masih di Gading Serpong dan BSD,” ungkap Defie. (*)

Dede Suryadi dan Vina Anggita

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved