Marketing

Jurus Tiga Sekawan Tancap Gas di Bisnis Cold Chain

Larry Ridwan, salah satu pendiri Fresh Factory.
Larry Ridwan, salah satu pendiri Fresh Factory.

Bisnis cold chain memang diyakini banyak pihak akan tumbuh pesat di masa depan seiring dengan meningkatnya kebutuhan tempat penyimpanan barang (storage) yang memungkinkan produk-produk tetap tersimpan dan terdistribusi secara fresh. Kebutuhan alat penyimpanan yang berpendingin ini diprediksi akan semakin masif ke depan dan itu telah terjadi di pasar negara maju seperti Jepang.

Peluang itu sudah mulai disergap para pemain logistik besar dan para pendiri startup. Salah satu yang sudah aktif membidiknya ialah sekawan Larry Ridwan, Widijastoro Nugroho, dan Andre Septiano. Tiga sekawan ini sejak 2020 telah merintis Fresh Factory, startup bidang fullfilment rantai berpendingin (cold chain).

Fresh Factory menyediakan jaringan cold storage berpendingin sebagai pusat fulfillment. Ini memungkinkan pelaku bisnis untuk menyimpan, mengambil, mengemas, dan mengirimkan produk mereka ke pelanggan.

“Kami melihat kebutuhan itu. Sekarang banyak e-commerce dan pemilik brand yang ingin direct ke consumer, dan butuh alat penyimpanan yang lebih efisien, butuh cold chain. Ini khususnya untuk UMKM yang memiliki produk yang life cycle-nya pendek, seperti daging, buah, sayur, susu dan olahannya,” kata Larry Ridwan, Founder & Chief Executive Officer Fresh Factory, menjelaskan mengapa dia dan rekan-rekannya tertarik mendirikan bisnis itu.

Tiga sekawan ini mulai melakukan R&D pada 2019, dan mulai jalan eksekusi bisnisnya pada 2020. Ketiga founder ini berbagi peran di Fresh Factory. Larry Ridwan sebagai Chief Executive Officer, Widijastoro Nugroho sebagai Chief Commercial Officer, dan Andre Septiano sebagai Chief Financial Officer.

Bisnis cold chain ini kata kuncinya memang pada luasnya jaringan kepemilikan cold storage selain aspek pemasarannya, tentu saja. Tak mengherankan, pendiri startup ini juga langsung tancap gas sejak 2,5 tahun lalu.

Untuk mempercepat penetrasi, Larry dkk. tidak mendirikan cold storage sendirian. Selain lama, itu pasti juga butuh modal besar. Yang dilakukan ialah menggandeng perusahaan logistik yang punya jaringan luas dan punya visi sama. Tak mengherankan, sekarang sudah berpartner dengan NCS dan Bulog.

“Kami sudah ada 42 gudang yang kami handle sendiri. Titik lokasinya sudah lebih dari 100 lokasi karena seperti Bulog itu sendiri punya 1.500 gudang,” kata Larry. Konsep yang dikembangkan Fresh Factory mirip Air BnB di bisnis hospitality.

“Kami itu ibarat Air BnB untuk pemilik cold storage. Fresh Factory yang punya teknologinya untuk mempertemukan gudang dingin dengan para penggunanya,” dia menjelaskan.

Fresh Factory berfokus pada pengembangan teknologi untuk mendukung service. “Service yang kami sediakan, pertama, gudang. Kedua, transportasinya. Mau itu first mile, middle mile, last mile, itu kami sediakan. Dan, tentunya karena Fresh Factory ini tech-logistic company, kami sediakan sistem yang kami bangun. Yaitu, WMS (warehouse management system) dan TMS (transportation management system),” tutur Larry.

Lewat sistem-sistem itu, para mitra akan terbantu dalam memantau stok produk di gudang, seberapa banyak produk in and out, dan sistemnya juga ter-connect langsung ke marketplace seperti Tokopedia dan Shopee. Bila ada order dari marketplace, bisa langsung bisa masuk ke tim gudang Fresh Factory dan timnya bisa bisa langsung mengemas produknya.

“Fresh Factory ini ada di tengah-tengah, menjadi jembatan untuk UKM-gudang-distribusi-konsumen,” ujar Larry. Alurnya, si UKM memasok produknya di gudang-gudang Fresh Factory, lalu sistem Fresh Factory di-connect-kan dengan sistem UKM mitra (baik itu yang berjualan di marketplace maupun di tempat lain). Jadi, kalau ada pembelian, ordernya langsung masuk ke gudang Fresh Factory, langsung dilakukan pick & pack, dan diantarkan ke tujuan akhir.

Menurut Larry, pihaknya bisa melakukan end-to-end dari order masuk, pick & pack, hingga pengirimannya. Dia bersama teman-temannya sudah menyiapkan timnya untuk pengelolaan warehousing, transportasi, inventory, procurement, reseller, order, dll. Fasilitas yang mereka tawarkan: gudang, armada, store operator, dan teknologi.

Otomatis, karena ini cold chain, yang terpenting ialah menjaga stabilitas suhu agar produk terjaga titik beku atau titik dinginnya, jangan sampai suhunya tidak stabil (naik). Tak mengherankan, dalam bisnis rantai berpendingin ini prosedur sangat ketat karena menangani produk-produk yang rentan. Gudang pun harus dilengkapi dengan sensor berbasis IoT untuk menjaga suhu. Begitu juga armada mobil, semua harus benar-benar under-controlled dari sisi suhu.

Sekarang perusahaan ini masih fokus melayani segmen UKM, khususnya yang punya bisnis makanan dan minuman (F&B), agar persebaran produk mereka lebih luas. Pihaknya bisa membantu untuk penyimpanan produk fresh dan ada olahan (processed), farmasi (obat-obatan dan vaksin), biological (beauty and personal care), dan chemicals (essence, flavour, dll.).

“Kami juga ada mitra dari large enterprise, sudah ada beberapa yang jadi mitra. Tapi, secara jumlah akun, lebih banyak UKM walaupun nilai transaksinya memang masih didominasi klien perusahaan besar,” kata Larry yang pernah menjabat sebagai Chief Financial Officer PT First Media Tbk. ini.

Sejauh ini GMV Fresh Factory dikabarkan sudah di atas US$ 10 juta per tahun. Yang jelas, saat ini ada sejumlah investor yang terlibat mendanai pengembangan bisnis dan ikut sebagai equity investors. Antara lain, East Ventures, Saratoga Investama, Trihill Capital, Indogen Capital, Prasetya Dwidarma, Number Capital, dan Y Combinator.

Ke depan, Larry dkk. akan terus mempercepat penetrasi Fresh Factory, terutama dengan memperkuat infrastruktur pendukung seperti pasokan listrik. Selain itu, juga mengedukasi bagian processing dan distribusi serta para mitra UKM tentang cara handling produk berpendingin. (*)

Sudarmadi & Arie Liliyah

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved