Nyambi
Bagi kebanyakan guru, terutama yang dengan setia menekuni profesi guru sekolah dasar dan menengah di luar daerah provinsi atau daerah terpencil, kehidupan dan ekonomi keluarganya memang terbilang kurus dalam arti harfiah. Karenanya, mereka terpanggil untuk menyambi. Ada yang berkebun, berjualan, membecak, mengojek, atau menyambi apa saja yang halal. Menyambi adalah melakukan pekerjaan lain di samping pekerjaan pokok pada waktu senggang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001).
Ada dua makna hakiki dari arti menyambi, yaitu (1) melakukan pekerjaan lain di samping pekerjaan pokok, dan (2) pada waktu senggang. Yang sering terjadi adalah “menyambi pekerjaan pokok†dalam “waktu senggangâ€Â, dan melakukan “pekerjaan lain†secara “penuh waktuâ€Â.
Salah seorang teman saya mengaku, “Ngantor itu ya sekadar menyambi kerja. Kalau ada waktu luang, ya ke kantor, setor muka begitu.†Dengan sedikit bangga, ia menambahkan, “Berburu objek di luar kantor itulah yang namanya kerja utama.†Sikap dan praktik hidup seperti itu sudah lama diterima sebagai semacam code of conduct. Yang repot adalah menyambi kerja pokok dan melakukannya pada waktu senggang dan sekaligus melakukan pekerjaan lain secara penuh waktu pula.
Maaf kata, Anda termasuk penganut “seni menyambi†yang mana? Lalu, hasil apa yang Anda peroleh dengan berlelah-lelah memburu dan diburu waktu ini?
######
Pada suatu siang Pak Turido Pawoko bertandang ke rumah. Teman satu “korps†ayah saya ini baru saja selesai menunaikan tugas caosan, berjaga sehari semalam di Keraton Ngayogyokarto. Sebulan sekali para abdi dalem dikenai wajib caos tersebut. Di masa kejayaan Keraton Ngayogyokarto, tak sedikit kawula yang berkerinduan menjadi pegawai Keraton yang dijuluki abdi dalem. Bukan gaji yang mereka cari, melainkan peluang mengabdi dan dengan demikian beroleh berkat Sri Sultan.
Salah satunya, Pak Turido, saudagar batik yang memiliki industri batik rumahan di Kampung Timuran. “Jadi, Pak Turido menyambi sebagai abdi dalem Korps Pemadam Kebakaran Keraton?†tanya saya. “Weee, ora pisan-pisan (Wah, sama sekali tidak). Yang pertama dan utama, ya ndherek Ngerso Dalem (ikut Sri Sultan) itu. Lha, saya ini justru menyambi di usaha batik,†ujarnya yakin.
Itulah sikap bahkan mungkin falsafah hidup sebagian warga Yogyakarta tentang kerja pokok dan kerja sambilan. Caos (piket sebulan sekali) atau sowan ngabekten setahun sekali ketika Idul Fitri adalah kerja utama mereka. Mereka menganggap pekerjaan yang memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai kerja sambilan. “Ya, Gusti, kami tidak sampai mati kelaparan,†tutur Bu Guno yang menjalani kerja pokok di bagian rumah tangga Keraton, dan menyambi berjualan nasi gudeg yang dilakukannya dari saat menjelang Maghrib hingga tengah malam.
Olah waktu antara kerja pokok dan kerja lain pada waktu senggang juga dilakoni seorang polisi wanita (polwan) Selandia Baru. Laporan Associated Press yang dikutip Kompas (21 Juli 2006) mewartakan seorang polwan menyambi kerja “servis jam-jaman†dengan memanfaatkan waktu dinas malamnya. Miss polwan yang satu ini menyambi berpraktik sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Auckland, kota di Selandia Baru utara. Meski di Negeri Kiwi itu pelacuran bukan hal terlarang dan polisi boleh mencari kerja tambahan, pekerjaan polisi dan PSK tak bisa disatukan. Juru Bicara Persatuan PSK Selandia Baru memperkirakan, polwan yang juga PSK itu bisa menghasilkan uang nyambi NZ$ 500 atau hampir Rp 3 juta per malam jika pengunjung rumah bordilnya ramai. Di negeri itu juga ada sejumlah perempuan dari berbagai profesi lain, termasuk dokter, yang juga suka main “dokter-dokteranâ€Â, menyambi sebagai PSK. Wow!
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.