Technology

Jurus Sukses Jagoan Transportasi dari Estonia

Jurus Sukses Jagoan Transportasi dari Estonia

Dalam usia 10 tahun, platform mobilitas yang dibuat anak muda asal Estonia ini telah menjadi rival terkemuka bagi Uber. Apa jurus sukses Bolt Technology, perusahaan rintisan di bidang transportasi online, yang diperkirakan segera mencetak profit?

Markus Villig, Co-Founder & CEO Bolt Technology OU.

Beberapa bulan lalu, ada berita yang cukup menarik perhatian kalangan industri otomotif dan industri startup digital dunia. Ihwalnya adalah ketika di awal April 2023, perusahaan platform mobilitas yang baru berusia 10 tahun, Bolt Technology OU, mengakuisisi Mazda Motor, produsen mobil (carmaker) asal Hiroshima, Jepang, yang telah berusia sekitar 100 tahun.

Transaksi cash-and-shares deal ini juga nilainya bukan main-main, sekitar US$ 6 miliar. Dalam pernyataan pers kedua perusahaan tersebut, dikatakan bahwa kesepakatan yang memvaluasi Mazda Motor sedikit di bawah nilai market cap-nya yang sebesar US$ 6,11 miliar itu sebagai sebuah “merger of equals”. Adapun market value Bolt, berdasarkan putaran pendanaan pada Januari 2022, sebesar US$ 8,4 miliar.

Peristiwa akuisisi perusahaan living legend yang bermarkas di Hiroshima, Jepang, oleh perusahaan rintisan dari Eropa itu boleh saja dibilang sebagai sebuah “ironi” dalam lanskap bisnis modern. Apalagi bila mengetahui bahwa Bolt didirikan dan masih dipimpin oleh seorang lelaki muda asal Estonia, Markus Villig, yang kini berusia 29 tahun.

Apa alasan kesepakatan ini? Dari sisi Mazda, urgensinya jelas. Carmaker yang berdiri tahun 1920 ini secara historis dikenal dengan desain produk mobil yang bagus dan banyak inovasi teknologinya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir pabrikan mobil ini harus berjuang keras (struggling) untuk bisa bersaing dengan perusahaan mobil yang lebih besar yang sebagiannya telah berkonsolidasi ataupun membentuk sindikasi.

Perusahaan mobil asal Jepang ini memproduksi rata-rata lebih dari 1,6 juta unit mobil setiap tahun. Dengan tingkat produksi sebesar ini, Mazda duduk di peringkat ke-17 produsen mobil terbesar di dunia. Selain bersaing dengan produsen mobil yang sudah ada, Mazda kini juga dihadapkan dengan para pesaing yang relatif baru dari China.

Sebaliknya, Bolt, meskipun baru berumur 10 tahun dan dipimpin seorang CEO muda, merupakan perusahaan digital yang tengah berkembang, dengan valuasi lebih dari US$ 8 miliar. Perusahaan yang punya layanan utama ride-hailing ini telah menancapkan patok bisnisnya di kawasan pasar yang berkembang untuk industri ini, yakni di Eropa dan Afrika. Bolt juga telah dipandang sebagai rival serius bagi Uber, penguasa dan pionir di bisnis ini.

Dalam rilis resminya, dua perusahaan yang bergabung ini disebutkan akan mengembangkan sejenis bio-car elektrik baru. Barisan mobil jenis baru ini akan menjadi tulang punggung bagi armada Bolt di seluruh dunia pada 2030. Versi autonomous (self-driving car) mobil elektrik ini juga masuk dalam perencanaan mereka.

Bolt didirikan oleh dua bersaudara, Markus dan Martin Villig (yang lebih tua 15 tahun dari Markus) di Tallinn, Estonia, pada Agustus 2013. Mulanya, perusahaan startup ini menyediakan layanan panggilan taksi bernama mTakso dan kemudian Taxify, lalu namanya diubah menjadi Bolt dan berkembang menyediakan layanan ride-hailing, scooter and car rental, dan food & grocery delivery.

Awalnya, sebagai jasa panggilan Taksi, perusahaan rintisan ini menjalin kerjasama dengan perusahaan pengelola taksi, dengan menyediakan aplikasinya sebagai digital dispatcher. Namun, pengalaman tidak menyenangkan ketika bernegosiasi dengan pengelola taksi di Belgrade, Serbia, pada 2015, menyadarkan kedua kakak-beradik itu untuk mengubah pendekatan bisnisnya. Yakni, tidak lagi berhubungan dengan perusahaan taksi, melainkan langsung berhubungan dengan para driver (pengemudi).

Meski Villig bersaudara bukan dari keluarga kaya, perusahaan startup ini memiliki “keistimewaan” tersendiri, yakni dilahirkan di Estonia. Salah satu negara di Eropa ini dikenal punya ekosistem bisnis digital yang baik. Di antara buktinya, negara ini sudah mampu mencetak sembilan unicorn –sebutan untuk perusahaan startup yang punya valuasi atau kapitalisasi pasar mencapai US$ 1 miliar atau lebih– termasuk Bolt.

Dengan proposal bisnis yang baik dan pembuktian bahwa konsep bisnisnya bisa berjalan, kedua pendiri Bolt ini mampu menarik sejumlah nama besar untuk mendukungnya. Di antara jajaran investor awalnya, ada nama-nama terkemuka, seperti Mercedes-Benz Group, World Bank, dan the European Investment Bank.

Sebelumnya, Didi Chuxing, raksasa bisnis ride-hailing asal China juga termasuk investor terdahulu, tapi menjual seluruh sahamnya pada 2021 dengan harga € 513 juta.

Ketika pada 2015 Markus Villig memutuskan untuk berhubungan langsung dengan para pengemudi, tidak dengan perusahaan taksi, ada konsekuensi tesendiri. Yakni, Bolt yang hingga 2015 baru mampu menghimpun pendanaan US$ 2 juta itu mesti berkompetisi langsung dengan Uber, pemain terbesar dunia di bisnis ride-hailing yang pada 2014 telah menghimpun dana US$ 1,2 miliar dengan valuasi senilai US$ 17 miliar.

Artinya, pendanaan yang diperoleh Bolt ketika itu hanya 0,01% dari yang diraih Uber. Ini tentu situasi yang tidak mudah.

Karena itu, Bolt perlu cara main yang berbeda. Yang dipilih ialah berhemat dalam pengeluaran. Pada masa awal beroperasinya, Martin, yang merupakan seorang veteran dari industri startup Estonia, harus merogoh isi tabungannya untuk menggaji para staf.

Namun, langkah berhemat kakak-beradik inilah yang menonjol. Misalnya, merekrut para driver sebagai member via Facebook ketimbang menggunakan kampanye iklan yang gempita; menyewa tenaga programmer Estonia dengan tarif bersahabat; dan menyewa apartemen murah di kawasan ibukota Estonia, Tallinn.

Sebagai CEO, Markus sungguh harus bekerja keras. Dalam periode 2015-2019 itu, dia pelan-pelan menumbuhkan revenue Bolt, dari hanya US$ 730 ribu menjadi US$ 142 juta. Dia berhati-hati sekali agar Bolt tidak merugi besar, sehingga dia berupaya mencapai kinerja mendekati break-even. Ini tentu langkah yang berbeda dibandingkan Uber, yang kabarnya “membakar duit” hingga jutaan dolar sebelum go public pada 2019.

Setelah bertahun-tahun beroperasi dengan anggaran ketat, Bolt akhirnya menemukan dukungan dari perusahaan ride-hailing besar dari China, Didi Chuxing, dan juga dari pabrikan mobil besar Mercedes-Benz. Selanjutnya, Sequioia Capital dan Fidelity berinvestasi dalam dua putaran, pada Agustus 2021 dan Januari 2022.

Pada putaran pendanaan Late Stage Venture pada Januari 2022, menurut kabar dari CNBC (11 Januari 2022), Bolt berhasil menggaet dana US$ 711 juta dari kalangan investor yang dipimpin oleh Sequoia Capital dan Fidelity Management. Ini menjadikan nilai valuasinya sebesar US$ 8,4 miliar, naik dari US$ 4,8 miliar lima bulan sebelumnya.

Markus sendiri memegang 17% saham Bolt, yang diperkirakan Forbes nilainya mencapai US$ 700 juta.

Gaya hidup dan berbisnis dengan hemat (frugal) ini bukan saja dijalankan Villig bersaudara di masa-masa awal, melainkan juga sudah menjadi budaya perusahaan. Markus menghindari kecenderungan hidup boros dan mewah seperti dilakukan banyak founder bisnis rintisan di Amerika Serikat.

Sejalan dengan itu, Bolt juga tidak mengeluarkan kartu kredit, pulsa telepon, dan aneka corporate goody lainnya untuk karyawannya. Bahkan, hingga 2019 Markus masih berbagi ruang ketika sedang melakukan perjalanan bisnis untuk menghemat biaya hotel.

Markus, seperti yang diungkapkan seorang investor yang melihatnya, terbiasa menjadi penumpang maskapai low cost carrier seperti RyanAir. “Kami sangat hemat sejak hari pertama beroperasi karena dulu kami tak punya duit,” ujarnya.

“Sekarang tim kami terdiri dari sekitar 4.000 orang. Mereka selalu menghitung apa yang mereka belanjakan setiap hari. Itulah keberuntungan terbesar kami,” tambahnya.

Budaya hemat itu bukan cuma bersifat personal, melainkan juga dipraktikkan dalam membangun manajemen operasional bisnis yang paling efisien. Pendekatan hemat dan efisien ini cukup ampuh.

Pada usia 10 tahun (pada pertengahan 2023), Bolt berhasil mencapai milestone membanggakan, yakni berhasil menggaet lebih dari 3,1 juta driver dan kurir, dan melampaui 150 juta pelanggan yang dilayani. Bolt kini beroperasi di sekitar 500 kota dari 45 negara di lima benua.

Di luar itu, ada resep sukses Bolt lainnya, yakni dalam strategi memilih medan bisnis. Ketimbang menyerbu pasar AS yang terbilang sangat kompetitif, manajemen Bolt memilih menggarap pasar yang selama ini kurang tergarap optimal oleh layanan ride-hailing, yakni kawasan Eropa dan Afrika.

“Dengan menjadi platform mobilitas yang paling efisien secara operasional di dunia, kami bisa memberikan nilai yang istimewa kepada pelanggan maupun mitra kami.”

Markus Villig, Co-Founder & CEO Bolt Technology OU.

Di London dan Paris, Bolt memang harus bertarung keras dengan Uber. Namun, startup ini bisa lebih leluasa bermain di pasar-pasar yang baru berkembang seperti Polandia.

Pasar Afrika juga menjadi target pentingnya. Sebagian pendukungnya menyarankan manajemen Bolt saat itu untuk mengikuti langkah startup Eropa lainnya yang berupaya membuka pasar AS. Namun, Markus memilih meluncurkan layanannya di Afrika Selatan pada 2016 dan merekrut staf lokal. Selanjutnya, masih di tahun yang sama, Bolt memasuki pasar Nigeria dan Kenya.

Membidik pasar Afrika Selatan punya tantangan tersendiri. Antara lain, kebanyakan pengemudi di Afrika Selatan, dan penumpangnya, tidak memiliki kartu kredit ataupun rekening bank. Karena itu, manajemen Bolt menyediakan fasilitas pembayaran tunai.

Tak diperkirakan sebelumnya, bahwa pasar Afrika ini –mencakup Afrika Selatan, Nigeria, dan Ghana– memberikan keberuntungan tersendiri bagi Bolt.

Di kawasan Afrika, Bolt yang sering menyebut para driver sebagai the centerpiece of operation kini melayani sekitar 1 juta driver. Secara keseluruhan di seluruh dunia, Bolt mengelola lebih dari 3,5 juta driver dan courier. Dengan demikian, Afrika memang merupakan pasar penting bagi Bolt, karena jumlah pengemudinya mencapai 28,5% dari populasi pengemudi dan kurirnya di seluruh dunia.

Bolt yang bermula sebagai perusahaan layanan ride-hailing kemudian mengalami pertumbuhan dramatis di tahun-tahun belakangan ini. Seperti halnya Uber yang merambah jasa-jasa bisnis terkait, Bolt pun menempuh pola ekspansi vertikal semacam itu.

Pada 2019, Bolt meluncurkan Bolt Food, unit bisnis layanan pengiriman makanan (food delivery). Di tahun berikutnya, meluncurkan layanan penyewaan skuter dan mobil (scooter and car rental). Dan di tahun 2021, meluncurkan layanan pengiriman bahan pangan (grocery delivery) dan layanan berbagi-mobil (car sharing).

Pada usia 10 tahun, Bolt –kini diperkuat 4.000-an orang– mengumumkan telah melewati milestone 150 juta pengguna, yang tersebar di 45 negara dan 500 kota.

Namun, bukan berarti Bolt tak mengalami tantangan bisnis. Dengan postur yang makin besar, perusahaan berbasis digital ini pun menghadapi tantangan sebagaimana dialami Uber, misalnya protes karyawan soal gaji, kekhawatiran driver akan soal keselamatan, hingga adanya aspirasi driver untuk juga dimasukkan sebagai karyawan.

Juga ada tantangan di bidang keuangan –sebagaimana dialami Uber. Pada 2021, Bolt mencatatkan kerugian sekitar US$ 600 juta. Sekitar separuhnya untuk membayar pinjaman di masa pandemi Covid-19. Pengeluaran lainnya yang cukup signifikan ialah biaya diskon yang cukup besar untuk mendorong volume layanan. Di luar itu, Markus juga tengah membangun super-app Bolt, yang antara lain menawarkan layanan rental skuter serta layanan pengiriman makanan.

Manajemen Bolt mengatakan, secara prinsip mereka berhasil memangkas kerugian perusahaan pada 2022. Markus sendiri mengklaim Bolt akan mencapai titik impas (break-even point) pada akhir 2023. “Kami baru saja keluar dari periode investasi lima tahun dalam membangun area-area baru, dan sekarang kami tidak perlu melakukan investasi seperti itu lagi,” katanya.

Manajemen Bolt memperkirakan dapat mencapai kondisi profitable dalam 12 bulan mendatang –jika terwujud, berarti akan menjadi platform mobilitas Eropa pertama yang mencetak laba. Manajemen mendasarinya dengan peningkatan revenue yang signifikan meskipun ada kendala yang tidak ringan, seperti lonjakan inflasi, kenaikan tingkat bunga, dan kondisi makroekonomi yang tidak menentu di banyak pasar yang dimasukinya.

Untuk tahun 2022, sebagaimana laporan resmi dari manajemen Bolt, revenue perusahaan ini meningkat 152%, menjadi € 1,26 miliar. Bolt masih merugi sebesar € 72 juta, walaupun ini jauh lebih kecil dibandingkan kerugian tahun lalu (2021) yang lebih dari € 547 juta.

Hampir 80% dari revenue Bolt pada 2022 berasal dari layanan ride-hailing, selebihnya dari layanan rental serta food and grocery delivery. Di pasar Eropa, bisnis Bolt tumbuh signifikan sebagai sumber revenue, yakni dari berkontribusi 70% tahun lalu menjadi 81% pada 2022. Revenue Bolt di pasar Afrika pun meningkat, meskipun persentase kontribusinya menurun. Kenaikan revenue juga dialami Bolt di negara-negara lain.

Menurut Markus, sukses Bolt sejauh ini karena prinsip inti perusahaannya yang masih tetap sama seperti ketika didirikan pada 10 tahun lalu. “Dengan menjadi platform mobilitas yang paling efisien secara operasional di dunia, kami bisa memberikan nilai yang istimewa kepada pelanggan maupun mitra kami,” katanya.

“Kami bangga sekarang melayani 150 juta pelanggan di 45 negara. Skala bisnis yang luar biasa ini memungkinkan kami untuk mencapai profitabilitas dalam 12 bulan ke depan,” katanya lagi.

Manajemen Bolt juga sudah memberikan indikasi rencananya untuk go public. Bila itu terjadi, Bolt akan menjadi perusahaan ride-hailing kedua yang melantai di bursa mengikuti langkah IPO Uber pada 2019.

Hanya saja, langkah Uber go public pada 9 Mei 2019 itu tidak tergolong sukses. Untuk menghindari nasib serupa, Bolt telah menunjuk Mikko Salovaara sebagai Chief Financial Officer Bolt yang baru. Markus percaya keahlian Salovaara akan membantu mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan dan secara praktis memulai persiapan IPO Bolt.

Salovaara sendiri mengaku tertantang. “Budaya memaksimalkan efisiensi operasional yang telah diperkenalkan Markus sepuluh tahun lalu telah menempatkan Bolt dalam posisi baik untuk mencapai dan menjaga profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang,” kata Salovaara yakin. (*)

Kutipan:

Sekilas Profil Bolt

–Nama Perusahaan : Bolt Technology OU

–Website : https://bolt.eu

–Jenis layanan : mobility super-app dengan layanan ride-hailing, scooter & car rental, car-sharing, food & grocery delivery.

–Pendiri : Markus Villig dan Martin Villig (Warga Negara Estonia)

-Waktu berdiri : Agustus 2013

-Investor penting : Mercedes-Benz Group, World Bank, European Investment Bank, Sequoia Capital, Fidelity Management

-Kantor pusat : Tallinn, Estonia

-Eksekutif kunci : Markus Villig (CEO), Mikko Salovaara (CFO)

-Jejaring armada : lebih dari 3,1 juta driver & courier, lebih dari 1.500 kendaraan Bolt Drive, dan lebih dari 200.000 e-scooter

-Coverage layanan : lebih dari 150 juta pelanggan di sekitar 500 kota di 45 negara di lima benua

–Jumlah karyawan : sekitar 4.100 orang

-Biaya gaji karyawan 2022 : € 149,8 juta

–Revenue 2022 : € 1,26 miliar

Sumber: website https://bolt.eu dan sumber lainnya

Joko Sugiarsono

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved