Kisah Inspiratif Soleh Dahlan: Dari Anak Tukang Jahit Jadi Raja Hotel

Ferdinandus Soleh Dahlan, Pemilik Dafam Group

Bagi kalangan anak milenial yang merasa kurang beruntung secara ekonomi alias miskin, anda tak perlu berkecil hati. Anda punya potensi menjadi orang hebat. Silakan ikuti perjalanan hidup Soleh Dahlan. Kisah pengusaha asal kota Pekalongan Jateng ini, penuh inspirasi. Ia bisa jadi contoh orang miskin yang sukses mengubah kehidupannya menjadi salah satu pengusaha sukses di negeri ini.

Nama lengkapnya Ferdinandus Soleh Dahlan. Akrab disapa Soleh Dahlan. Meski bernama Soleh, ia keturunan Tionghoa bernama asli Hoo Tian Po. Namun demikian, dia terbilang warga Tionghoa yang istimewa karena menjadi salah satu anak angkat dari Habib Luthfi Bin Yahya.

Kalau sampai dijadikan anak angkat Habib Luthfi Bin Yahya, tentu ia bukan orang sembarangan. Tentu ada hal yang istimewa. Yang jelas Soleh Dahlan merupakan salah satu pebisnis yang dikenal sukses dari Pekalongan. Ia dikenal sebagai owner Dafam (Dahlan Family) Group yang merajai bisnis perhotelan.

Dafam Group merupakan holding company yang membawahi puluhan anak perusahaan yang bergerak dalam berbagai sektor bisnis. Banyak bisnis yang dijalankan mulai dari properti, apotik, sarang burung walet, pabrik rokok, perhotelan, hingga pertambangan.

PT Dafam Hotel Manajemen (DHM) adalah salah satu anak perusahaan Dafam Group yang bergerak di sektor perhotelan. DHM dikenal sebagai perusahaan operator perhotelan yang cukup kredibel. Perkembangan perusahaan ini bisa dibilang fenomenal.

Ketika mengawali bisnis perhotelan tahun 2010 silam, DHM hanya bermodal dua hotel berkapasitas 139 kamar. Namun saat memasuki usianya yang ke 13 ini, jumlah hotel yang dioperasikan melonjak di atas angka 50 hotel lebih. Jaringan hotelnya sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia dengan empat brand, yaitu Grand Dafam Signature, Grand Dafam, Hotel Dafam dan Dafam Express.

Setiap tahun jumlahnya akan terus naik. Apalagi dalam upaya menambah jumlah jaringan hotel, tidak hanya memprioritaskan hotel yang dibangun sendiri, tapi juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan para pemilik hotel lain. Selain skema built operate transfer (BOT) bisa dengan sistem kemitraan. Model kerjasama tersebut, dalam waktu cepat telah memperbanyak jaringan hotel yang dijalankan.

Percepatan laju pertumbuhan hotel yang dikelola Dafam Group, tentu tidak lepas dari peran tangan dingin Andhi Irawan yang menjabat sebagai CEO Dafam Hotel Manajemen. Andhi memang dikenal sebagai profesional dalam bidang perhotelan. Pria asli Jember alumni Akademi Pariwisata dan Perhotelan Bali inilah yang sejak membidani kelahiran Dafam Group. “Kami bertemu tahun 2009 dan langung cocok untuk bekerjasama,” kata Soleh Dahlan kepada SWA.

Sepertinya insting bisnis Soleh Dahlan begitu tajam. Meski baru ketemu, ia langsung menaruh kepercayaan penuh kepada Andhi Irawan untuk merintis dan menyiapkan semua sistem terkait dengan operasional Dafam Group. Andhi Irawan memang pantas mendapatkan kepercayaan itu. Ia memiliki pengalaman yang cukup matang.

Andhi Irawan memang kenyang pengalaman di berbagai jaringan hotel. Sebut saja Hilton, Novotel, dan Swiss-Belhotel. Ia adalah profesional dengan tipe pekerja keras. Andhi beberapa meraih prestasi mulai dari the best employee sampai the best general manager of the year untuk wilayah Asia Pasifik saat bekerja di Swiss-Belhotel International.

Di bawah asuhan Andhi Irawan, Dafam Group bisa tumbuh sangat pesat. Perusahaan ini menjadi operator perhotelan nasional pertama dengan jaringan hotel terbanyak. Dan, hotelnya menyebar di kota kota besar di Indonesia.

Tahun 2018, layak menjadi fase bersejarah perjalanan bisnis Dafam Group. Pada tahun tersebut, grup bisnis ini secara resmi membawa PT Dafam Property Indonesia melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode DFAM. Dengan masuk ke bursa saham tersebut, diharapkan bisa menarik dana dari investor untuk pengembangan usaha.

Untuk memenuhi target pertumbuhan, Dafam Group memang sedang gencar membangun hotel di berbagai kota. Karena itulah dibutuhkan dana segar untuk pembangunan. Lewat bursa saham, dana segar tersebut diharapkan bisa terkumpul dalam waktu cepat.

Kesuksesan Soleh Dahlan mentranformasi dirinya dari kondisi miskin bisa naik kelas menjadi golongan orang kaya pantas mendapatkan acungan jempol. Ia layak menjadi contoh ideal bagi siapapun yang ingin mengikuti jejaknya untuk meraih sukses. Tentu saja, kekuatan mental dalam menjali proses. “Butuh perjuangan panjang dan kekuatan mental menghadapi berbagai tantangan dan jangan putus asa,” ungkap Sholeh Dahlan kepada SWA.

Seperti diungkapkan Soleh Dahlan, ia memang terlahir miskin. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Kedua orangtuanya bekeja sebagai penjahit yang penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Jangankan untuk sekolah, untuk makan saja sulit,” kenangnya.

Soleh Dahlan merasa beruntung memiliki tetangga yang sangat baik dan perhatian kepada keluarganya. Tetangga itulah yang banyak membantu, khususnya untuk biaya pendidikannya. “Kami sangat beruntung karena banyak dibantu tetangga,” ungkapnya.

Bagi Soleh Dahlan, pendidikan merupakan pintu masuk menuju kesuksesan. Karena itulah ia merasa beruntung ketika ada tetangga yang baik hati menyekolahkannya. Ia pun memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin agar tidak mengecewakan. “Saya berusaha memanfaatkan kepercayaan orang yang telah membiayai saya sekolah,” ucapnya.

Selain ulet, Soleh Dahlan ternyata cukup cerdas. Ini terbukti dengan diterimanya dia di SMA Kolose Loyola Semarang. Ia angkatan tahun 1969. Hanya lulusan SMP terbaik yang bisa masuk di sekolah favorit tersebut.

Kehidupan Soleh Dahlan mulai membaik tatkala dia mulai lulus sebagai sarjana muda Teknik Elektro dari UKSW Salatiga tahun 1972. Ia sempat magang kerja dua tahun di IBM di Jakarta. Ia sebenarnya ingin merampungkan program sarjana tapi terkendala proses sekripsi yang tidak rampung karena dosen pembimbingnya Mr. Gore ditarik pulang kembali ke Jerman.

Selepas lulus kuliah, Soleh Dahlan mencoba keberuntungan dari usaha membuka apotik di kota Pekalongan. Ia tertarik bisnis farmasi karena terinspirasi dari saudara ayahnya yang sukses dari jasa penjualan obat tersebut.

Apotik Asli adalah nama yang dipilih Soleh Dahlan. Ia satu-satunya pengusaha apotik yang bergelar sarjana kala itu. Bisnisnya cepat berkembang karena ia menggunakan strategi jemput bola. Ia mendatangi berbagai perusahaan untuk melayani kebutuhan obat. Salah satu pelanggannya adalah PT Perkebunan. “Saya hanya menggunakan sepeda ontel keliling perusahaan di Pekalongan untuk antar jemput resep dan obat,” kenangnya.

Dari usaha apotik itulah, ekonomi Soleh Dahlan mulai mapan. Namun ada satu hal yang tidak mengenakka karena dia dianggap menjadi pesaing bisnis saudara orangtua yang sudah terlebih dahulu eksis. “Mereka protes karena saya dianggap menyaingi bisnis mereka, tapi kami tetap jalan karena kita punya pasar sendiri,” jelasnya.

Dari hasil bisnis apotik tersebut, Soleh Dahlan mulai bisa berinvestasi dalam bentuk tanah. Setiap ada tawaran tanah yang murah dan prospek hingga memiliki tanah di beberapa tempat yang strategis. Tanah menjadi pilihan investasi masa depan karena dianggap aman dan dijamin nilainya akan terus naik.

Kehidupan ekonomi Soleh Dahlan kian moncer, setelah pada tahun 1980 mulai merambah bisnis baru yakni sarang burung walet. Selain budidaya burung walet, ia juga melayani jual beli sarangnya. Produknya tidak hanya untuk pasar lokal tapi juga untuk ekspor. “Saya bersyukur dari dua usaha apotik dan sarang burung semuanya berkembang baik,” tutur Soleh Dahlan yang pernah menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Burung Walet, Jawa Tengah ini.

Dari hasil kedua bisnis tersebut, cuan terus mengalir deras. Soleh Dahlan terus menambah properti dalam bentuk tanah dan bangunan. Ia pun sukses naik kelas. Dan tahun 1990, ia pun bisa pindah rumah yang masuk kategori mewah dan besar di kota Pekalongan.

Menyiapkan calon penerus

Meskipun bisnisnya masih kelas menengah, tapi Soleh Dahlan ternyata sudah menyiapkan generasi penerusnya sejak dini. Ia sengaja menyekolahkan ketiga anaknya di luar negeri semenjak masih sekolah dasar. Ini dalam rangka menyiapkan SDM yang kelak diharapkan bisa membantu mengelola bisnis bersama ayahnya. Ketiga anaknya tersebut masing-masing Billy Dahlan, Wijaya Dahlan dan Junaidi Dahlan. Harapannya dengan sekolah di luar negeri, ketiga anaknya bisa lebih mandiri dan mendapatkan banyak ilmu yang tidak mungkin di dapat di Indonesia.

Satu hal yang mendorong Soleh Dahlan untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri adalah keprihatinannya dengan pergaulan yang dinilai kurang mendukung untuk perkembangan kepribadian. Suatu ketika, ada salah satu anaknya yang sering mengajak teman teman sekolah main ke rumah dan berenang bersama. Memang ada fasilitas kolam renang di rumah barunya.

Melihat kebiasaan anaknya yang sering bermain bersama, Soleh Dahlan merasa kawatir akan menimbulkan efeck yang kurang baik. Karena itulah, ia berpikir untuk menyekolahkan ketiga putranya ke luar negeri. Ia memilih Australia, karena kebetulan ada sahabat baik yang domisili di Negeri Kangguru tersebut. “Saya titip anak saya ke sahabat baik yang sudah menjadi warga negara di sana, untuk ikut membimbing dan mengawasi. “ dia menjelaskan.

Dan, Soleh Dahlan pun merasa bersyukur atas pilihan menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri. Katanya mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata. Paling tidak bila dilihat dari sisi kemampuan berbahasa asing dan jaringan pergaulan yang lebih luas. Apalagi selama di luar negeri, Soleh Dahlan mendidik kemandirian dengan hidup sederhana. Bahkan mereka diminta untuk nyambi kerja untuk mendapatkan tambahan biaya hidup.

Setelah ketiga anaknya menyelesaikan tugas belajar dan pulang kembali ke Indonesia, Soleh Dahlan langsung melibatkan mereka untuk terlibat dalam manajemen. Selain membantu mengembangkan usaha yang telah dirintisnya, nereka juga diberikan kebebasan untuk mencoba usaha sendiri sesuai dengan minatnya masing-masing.

Sekadar gambaran, Billy Dahlan selain terlibat dalam manajemen holding company juga fokus memegang pertambangan dan properti, Junaidi Dahlan di properti dan pabrik rokok, sementara Wijaya fokus menggarap hotel dan properti.

Di usianya yang memasuki senja, Soleh Dahlan bisa merasa tenang karena sudaah sukses melakukan regenerasi. Ia berharap ketiga anaknya bisa membesarkan bisnis yang telah diwariskannya. Ia kini lebih banyak menjadi pengawas dan mentor untuk anak-anaknya. Selain itu. Soleh Dahlan lebih banyak aktif dalam kegiatan sosial. ****

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag