CSR Corner

Nestlé Indonesia Tekankan Inisiatif Berkelanjutan untuk Percepatan Penurunan Angka Stunting

Memperingati Hari Gizi Nasional PT Nestlé Indonesia berupaya secara berkelanjutan berpartisipasi dalam membantu pemerintah untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya asupan gizi yang berkualitas dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.

Kali ini, Nestlé Indonesia menggelar diskusi multisektoral ‘Implementasi Model Pentahelix dalam Upaya Penurunan Angka Stunting’ yang bertujuan membahas tentang pentingnya memenuhi gizi seimbang, upaya pencegahan stunting, sekaligus program 100 Hari Pendampingan Gizi yang merupakan hasil kolaborasi multisektor di 10 fokus area di 12 provinsi prioritas penurunan stunting Pemerintah Indonesia.

Diskusi ini menghadirkan panelis Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Ali Khomsan, Ketua Pokja III TP PKK Pusat Rahmania Lufitasari, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karawang Dindin Rachmady, S.Sos, MM, Corporate Nutritionist PT Nestlé Indonesia Eka Herdiana, perwakilan Kader dan Kelompok Kerja Masyarakat Kabupaten Batang Mutiatun, Direktur Operasional Yayasan Edu Farmers International Amri Ilmma, dan Ketua Bidang Penelitian dan Inovasi Asosiasi Puskesmas Indonesia (APKESMI) dr. Tri Resopimiarti, M.Epid.

Melalui program Nestlé Dukung Anak Lebih Sehat, atau yang secara global dikenal sebagai Nestlé for Healthier Kids, Nestlé berupaya memberikan kontribusi secara berkelanjutan di bidang gizi dan kesehatan untuk mendukung peningkatan status gizi anak dan keluarga Indonesia.

Sufintri Rahayu, Direktur Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia menyampaikan, sejalan dengan ambisi Nestlé untuk membantu 50 juta anak menjalani hidup yang lebih sehat pada 2030, sejak tahun 2023, Nestlé Indonesia bermitra dengan TP PKK mengadakan Gerakan Keluarga Indonesia Bebas Stunting (KIBAS STUNTING). “Kami percaya akan pentingnya kolaborasi multi-sektor dalam mencegah dan menanggulangi stunting, dimulai dari pihak pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan media. Setiap sektor memiliki keahlian masing-masing, dan bersama-sama kita dapat bergerak lebih cepat,” ucapnya dalam siaran pers (25/01/2024).

Mengacu pada hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia telah mengalami penurunan dari 24,4% menjadi 21,6%. Meskipun begitu, angka tersebut masih tergolong tinggi dari ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengharuskan angka stunting di bawah 20%. Prof. Ali Khomsan, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB menyampaikan, gizi menjadi salah satu komponen penting bagi tumbuh kembang anak, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Di Indonesia, permasalahan gizi yang terjadi akibat tidak seimbangnya asupan energi dan zat gizi lainnya dapat menyebabkan masalah gizi di antaranya kurus (gizi kurang), gemuk (gizi lebih), dan stunting (gizi kurang kronis). Pencegahan masalah gizi harus dilakukan sedini mungkin, salah satunya dengan adanya kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak baik pemerintah, masyarakat, akademisi dan swasta/industri yang dapat mempercepat pencapaian target penurunan stunting di Indonesia menjadi 14% tahun 2024.

Sementara Mutiatun, membagikan pengalamannya selama menjadi bagian dari program 100 Hari Pendampingan Gizi yang hingga kini masih terus berjalan. “Program-program yang dijalankan oleh Nestlé Indonesia, terutama program 100 Hari Pendampingan Gizi terbukti dapat membantu mengurangi angka stunting atau risiko stunting di daerah saya. Kami rutin melakukan sosialisasi, pendampingan, hingga pemantauan pada ibu hamil, ibu bersalin, dan balita. Masyarakat sangat mengapresiasi program ini dan berharap agar kedepannya program-program ini dapat terus berkelanjutan,” tuturnya.

Tahun ini, salah satu bentuk nyata komitmen Nestlé Indonesia untuk mendukung terwujudnya keluarga bebas stunting diwujudkan melalui program 100 Hari Pendampingan Gizi yang memberikan pendampingan gizi kepada anak usia 12 hingga 60 bulan melalui makanan tambahan sumber protein dan zat gizi mikro lainnya guna meningkatkan kualitas asupan gizi. Selain itu, masyarakat termasuk di dalamnya orang tua dan kader setempat akan mendapatkan edukasi mengenai gizi, tumbuh kembang, pola asuh, dan pola hidup bersih.

Eka Herdiana, Corporate Nutritionist PT Nestlé Indonesia menyampaikan, salah satu program kolaborasi multisektor Nestlé Indonesia 100 Hari Pendampingan Gizi merupakan bentuk konsistensi perusahaan FMCG itu untuk menunjukkan dukungan melalui kegiatan pendampingan gizi serta monitor dan evaluasi yang akan dilakukan setiap bulan hingga akhir pelaksanaan program.

Sebelumnya, Nestlé Indonesia telah melaksanakan program maupun inovasi di bidang gizi dan kesehatan, dengan menginisiasi pembentukan DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), pendampingan gizi serta pengembangan masyarakat di dua wilayah di Kabupaten Karawang, yang pada akhirnya menunjukkan hasil positif untuk komunitas setempat.

Sebagai lembaga yang berperan sebagai Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga, TP PKK menjadi mitra strategis Nestlé Indonesia dalam membantu upaya penurunan stunting.

Ketua Bidang Penguatan Ketahanan Keluarga TP PKK Pusat Ketua Umum TP PKK Pusat, yang diwakili oleh Ketua Bidang Penguatan Ketahanan Keluarga Dr. Ir. Ali Dariah menyampaikan, Program 100 Hari Pendampingan Gizi yang diimplementasikan melalui Rumah Pangan untuk mendukung Kibas Stunting merupakan bentuk dukungan terhadap agenda pemerintah dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia. “Kami berharap kolaborasi bersama Nestlé Indonesia ini dapat berkesinambungan dan secara konsisten mendukung anak Indonesia menjadi lebih sehat, dan program ini nantinya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan stunting yang dapat dimulai dari adanya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh, serta pola hidup yang bersih,” jelasnya.

Swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved