Business Research Trends

PwC: 32% CEO di Indonesia Lebih Optimistis Tatap 2024

Ilustrasi. CEO optimistis dapat mengantisipasi pertumbuhan ekonomi global 12 bulan ke depan. (Foto Ubaidillah/SWA)

PwC’s 27th Annual Global CEO Survey menunjukkan bahwa sebagian besar CEO secara global dan di Asia Pasifik termasuk Indonesia, telah mengambil beberapa langkah reinvention (penemuan kembali) untuk bisnis mereka. Pada tahun 2023, terdapat perbedaan yang signifikan mengenai pandangan para CEO, di tingkat global dan regional, baik yang optimis maupun yang pesimis.

Survei tersebut menemukan bahwa para CEO memiliki pandangan optimis yang sama dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu mengantisipasi pertumbuhan ekonomi global dalam 12 bulan ke depan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi global, CEO global (38%), di Asia Pasifik (40%), dan di Indonesia (32%) merasa lebih optimis dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan survei tahun ini, sebagian besar perusahaan di Indonesia (93%) dan Asia Pasifik (97%) sudah berupaya melakukan reinvention. Namun, meskipun para CEO berupaya melakukan perubahan terhadap model bisnis perusahaan mereka, 56% CEO di Indonesia dan 63% CEO di Asia Pasifik masih merasa tidak yakin akan kelangsungan hidup perusahaan mereka dalam dekade mendatang jika mereka melanjutkan cara berbisnis yang mereka jalani saat ini.

CEO di tingkat global (24%), di Asia Pasifik (21%) dan di Indonesia (23%) menyebutkan volatilitas makroekonomi sebagai ancaman utama mereka. Selanjutnya diikuti oleh inflasi dan ketegangan geopolitik (ketiga kelompok tersebut menunjukkan persentase yang sama dalam kategori ini).

Mayoritas CEO di Indonesia (75%) setuju bahwa regulasi merupakan hambatan terbesar, serupa dengan yang terjadi di Asia Pasifik (66%). Regulasi menjadi prioritas pertama, karena banyak CEO percaya bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikannya, dibandingkan dengan hambatan lain yang dapat mereka pengaruhi.

Di sisi lain, kemampuan teknologi (63%) menempati peringkat kedua di antara hambatan-hambatan yang dihadapi oleh para CEO di Indonesia. Selanjutnya diikuti oleh dua alasan yang dikategorikan sebagai urutan ketiga yaitu kurangnya tenaga kerja terampil dan persaingan prioritas operasional, sebesar 61%.

PwC Asia Pacific and China Chairman Raymund Chao mengatakan, survei CEO kami tahun ini berfungsi sebagai seruan yang mendesak untuk mengambil tindakan intensif menuju reinvention dalam bisnis. Konflik geopolitik yang berkepanjangan dan kekhawatiran terhadap inflasi, serta tantangan-tantangan lainnya, telah benar-benar terjadi, sehingga memperbesar risiko dan menghambat pertumbuhan di Asia Pasifik.

“Pada saat yang sama, megatren global termasuk pergeseran teknologi – yang dicontohkan dengan munculnya GenAI – dan isu-isu terkait iklim semakin menuntut perhatian para CEO. Di pasar yang terus berkembang, dunia usaha harus menerapkan budaya inovasi yang berkelanjutan, tidak hanya untuk mempertahankan keunggulan kompetitif mereka, namun juga memastikan kelangsungan hidup mereka dalam jangka panjang,” ujarnya.

Raymund mengungkapkan, seperti halnya para CEO di Asia Pasifik, para CEO yang berbasis di Indonesia juga menyadari bahwa mereka perlu mengatasi megatren global termasuk perubahan iklim dan disrupsi teknologi yang siap mendorong reinvention lebih lanjut. Laporan tersebut menyoroti bahwa para CEO yang berbasis di Indonesia telah mengambil langkah-langkah yang menunjukkan kemajuan yang signifikan.

“Kami menemukan bahwa 73% CEO di Indonesia sudah mulai berupaya meningkatkan efisiensi energi (dibandingkan dengan 63% CEO Asia Pasifik). Sebanyak 68% telah mengembangkan produk baru yang ramah lingkungan (dibandingkan dengan 48% CEO Asia Pasifik),” kata Raymund, Senin (29/1/2024).

Terkait upaya dekarbonisasi, Eddy Rintis, Territory Senior Partner PwC Indonesia mengatakan lebih dari separuh CEO di Indonesia memilih kompleksitas peraturan sebagai kendala utama (56%), diikuti oleh kurangnya teknologi ramah iklim (48%) dan kurangnya permintaan dari pemegang saham eksternal (45%). CEO di Asia Pasifik juga menyebutkan kompleksitas peraturan (63%) dan rendahnya keuntungan ekonomi dari investasi ramah iklim (61%) sebagai hambatan terbesar yang harus diatasi.

Mayoritas CEO melihat GenAI sebagai katalis untuk reinvention yang akan mendorong efisiensi, inovasi, dan perubahan transformasional. Lebih dari dua pertiga CEO di Indonesia memperkirakan dampak besar GenAI terhadap perusahaan, tenaga kerja, dan pasar mereka dalam tiga tahun ke depan. Namun, 53% CEO mengaku belum mengadopsi GenAI di seluruh perusahaan mereka dalam 12 bulan terakhir (vs 41% di Asia Pasifik).

Dalam 12 bulan terakhir, lanjut Eddy, separuh CEO Indonesia (53%) melaporkan bahwa organisasi mereka belum menerapkan GenAI. Namun, pada tahun mendatang, sekitar separuh CEO di Indonesia mengharapkan GenAI dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan (57%) dan meningkatkan kualitas produk atau layanan (56%).

“Hampir tujuh dari sepuluh responden percaya bahwa dalam tiga tahun ke depan, GenAI akan meningkatkan daya saing (76%). Gen AI juga dapat mendorong perubahan pada model bisnis mereka (72%) dan membutuhkan keterampilan baru dari tenaga kerja mereka (69%),” kata Eddy.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved