Strategy

Strategi Prodia Hadapi Tantangan dan Peluang Bisnis di 2024

Dewi Muliaty, Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk.

Tahun 2024 diperkirakan akan menjadi tahun yang penuh tantangan dan peluang bagi dunia bisnis, tak terkecuali di industri layanan kesehatan diagnostik. Situasi geopolitik, ekonomi global, inflasi, kenaikan suku bunga, serta perubahan iklim, diyakini akan berdampak pada rantai pasok dan kinerja bisnis Perseroan.

Tantangan lain muncul dari banyaknya pemain baru di bisnis laboratorium kesehatan, rumah sakit, dan klinik pasca pandemi Covid-19. Meningkatnya anggaran BPJS Kesehatan dan kualitas layanan faskes BPJS juga dinilai akan mengubah perilaku pelanggan yang semula OOP (out of pocket) expense ke arah kecenderungan menggunakan fasilitas BPJS yang semakin baik.

Selain itu, layanan kesehatan saat ini didorong untuk memaksimalkan kualitas dan kapabilitasnya dalam menjaga privasi keamanan data yang dikelola. Hal ini seiring dengan semakin berkembangnya integrasi teknologi dan kolaborasi layanan kesehatan sehingga tentunya memerlukan biaya tambahan untuk keamanan cyber, termasuk perlindungan privasi dan keamanan data.

Di sisi lain, adanya perhatian terhadap Kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di industri kesehatan akan memengaruhi daya saing saat tender layanan medical check-up ke Pemerintah/BUMN. Pilihan bahan baku ini dan alat kesehatan ini juga akan berdampak pada dinamika pelayanan kesehatan bagi end user (dokter maupun masyarakat).

“Pilihan bahan baku diharapkan kandungan dalam negerinya kuat. Ini tantangan tersendiri, kita deal antara harga yang bisa dibilang sangat terjangkau dibandingkan dengan kualitas yang selama ini kita sudah bilang bahwa ini kualitas internasional,” ungkap Dewi Muliaty, Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk dalam acara media gathering di Jakarta, Rabu (31/01/2024).

Meskipun terdapat tantangan yang mungkin dihadapi, Prodia melihat terdapat peluang perkembangan layanan kesehatan diagnostik di Indonesia, di antaranya kenaikan anggaran kesehatan pemerintah sebesar 8,1% untuk menunjang transformasi kesehatan yang dimulai tahun 2024 ini, hingga pergeseran industri layanan ke arah Personalisasi, Preventif, & Promotif.

Peluang lain terlihat dari pengembangan ekosistem digital kesehatan yang terintegrasi, dengan mengadaptasi teknologi kesehatan yang lebih canggih dan mengoptimalkan digitalisasi layanan terhadap pelanggan melalui telemedicine 2.0.

“Kami juga melihat adanya peluang peningkatan pemahaman tes genetik dan tes esoteric di mana Prodia menjadi pemimpin dalam penyediaan tes-tes tersebut. Selain itu, meningkatnya prevalensi NCD (Non-Communicable Disease) dan Lifestyle Disease yang disebabkan urbanisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat serta meningkatnya aging population (populasi usia lanjut),” lanjut Dewi.

Dalam menghadapi tantangan dan peluang di tahun 2024, Prodia telah menyiapkan beberapa strategi bisnis untuk mempertahankan kinerja positif yang telah dicapai di tahun 2023. Sejumlah strategi yang akan diimplementasikan Prodia antara lain mengoptimalkan engagement pelanggan dari segmen walk-in customers dan rujukan dokter; menghadirkan layanan kesehatan yang efisien dan fleksibel bagi pelanggan Prodia; menambah dan mengoptimalkan layanan PointOf-Care Prodia.

Kemudian efisiensi pelayanan kesehatan melalui transaksi digital; optimalisasi Referral Lab Services (RLS); bersinergi dengan program pemerintah; meningkatkan volume tes esoterik; berkontribusi terhadap promosi kesehatan melalui edukasi pelanggan; meningkatkan value for customers; dan mengoptimalisasi layanan klinik Prodia.

“Prodia saat ini menjadi pemimpin pasar dalam bisnis layanan kesehatan di Indonesia dengan market share 40,5%. Dari segi jejaring lab kami yang terbesar di seluruh Indonesia. Kemudian hubungan erat dengan komunitas kesehatan atau kedokteran, ini membuat barrier to entry ke dalam market termasuk yang dari luar (asing). Karena kami bukan sekadar hubungan bisnis dengan para dokter, tetapi banyak hubungan yang sifatnya ilmiah,” tutur Dewi.

Selain strategi tersebut, Prodia akan memprioritaskan implementasi praktik bisnis yang mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan, khususnya dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Indonesia melalui inovasi yang ditawarkan.

Prodia menuangkan komitmen keberlanjutannya dalam sebuah Sustainability Blueprint yang memiliki 4 Pilar (Pro-D-I-A), yakni Promoting Healthcare Services for All, Developing Good Corporate Governance, Involving People dan Actualizing Sustainable Environment. “Strategi keberlanjutan ini akan berfungsi sebagai panduan untuk implementasi dan akan menjadi fokus ESG dalam beberapa tahun mendatang,” ucapnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved