Marketing Trends

Center of Excellence Radjak Hospital Salemba Tangani Obesitas Hingga Jantung

Saat ini Radjak Hospital Salemba di Jakarta Pusat memiliki beberapa layanan Center of Excellence yaitu Neuro, Cardiac and Vascular Center (saraf, jantung dan pembuluh darah), Pain Management Center (Manajemen Nyeri), Trauma & Orthopedic Center (bedah tulang), Digestive & Obesity Center (bedah pencernaan dan obesitas) serta Intensive Care Center (pelayanan ruang intensif)

Pada pertemuan di Radjak Hospital Salemba (07/02/2024), Dokter Spesialis Bedah Digestif dr. Ponco Agus Prasojo menjelaskan, dalam penanganan kasus obesitas, Radjak Hospital Salemba Center of Excellence Digestive & Obesity Center mengedepankan upaya penanganan non invasiif terlebih dahulu.

“Saat pasien datang, pertama kali akan dirujuk oleh tim kami ke dokter ahli penyakit dalam atau spesialis gizi klinik, sehingga bisa diketahui tingkat obesitasnya. Prosedur pertama kami adalah penanganan tanpa operasi ,” kata dr. Ponco. Penanganan awal ini juga akan menelaah kondisi terkait dampak dari obesitas, seperti ngorok.

Setelah diketahui masalahnya, pasien akan dirujuk pada dokter spesialis gizi klinik, sebagai lini awal perawatan. Yaitu melalui pengaturan diet yang sesuai. Juga, disedikan program latihan tubuh, yang disusun oleh tim sport medicine. Termasuk penanganan oleh tim psikiatri untuk mengubah kebiasaan gaya hidupnya.

Menurut dr. Ponco, evaluasi langkah non invasif ini biasanya dilakukan selama -13 bulan. “Jika memang terlihat penurunan berat badan, maka kami akan lanjutkan proses non invasifnya. Tapi, jika setelah tiga bulan tidak ada perubahan, malah berat badan tetap naik, barulah dilakukan penanganan invasif,” jelasnya lagi.

Di Radjak Hospital Salemba ada dua penanganan invasif untuk obesitas, yakni pemasangan balon dengan prosedur endoskopi dan bedah bariatrik. “Untuk pemasangan balon, maksudnya untuk mempersempit ruang lambung sehingga pasien akan makan lebih sedikit. Dan suatu saat balon ini bisa dikeluarkan, jika memang pasien sudah terbiasa dengan porsi makannya,” kata dr. Ponco.

Sementara, bedah bariatrik adalah untuk mengecilkan ruang lambung dengan cara memotong 60 hingga 70 persen dari ukuran lambung pasien. Langkah bedah bariatrik ini dilakukan jika pemasangan balon tidak memberikan hasil. Rumah sakit ini juga mengadopsi pendekatan terintegrasi berbasis bukti untuk mencapai target perawatan pasien. “Target kami adalah menciptakan hidup yang lebih sehat dan berkualitas dengan menggunakan sumber daya manusia kompeten dari berbagai multidisiplin ilmu dan teknologi terbaik,” jelasnya.

Menurut , dr. Ponco, ada perbedaan gejala antara gastritis atau yang dikenal masyarakat dengan nama penyakit asam lambung, dengan gejala batu empedu. Banyak kesalahpahaman di masyarakat terkait gejala dua penyakit ini, dan kerap disamakan sebagai maag. Padahal, jika datang ke tenaga medis, maka bisa didiagnosis dengan tepat.

Dia memaparkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyakit asam lambung atau maag adanya di sisi kiri bagian perut hingga ulu hati. “Rasanya mual dan sakit di seputar perut bagian atas, atau bisa disebut di area ulu hati. Dan biasanya disertai dengan rasa mual dan tak jarang muntah juga,” urainya. Sementara, untuk keluhan penyakit batu empedu, biasanya rasa sakit itu akan dirasakan di bagian kanan perut dan menjalar ke punggung bagian belakang

Untuk gangguan pada empedu ini, lanjutnya, bisa di dalam kantung empedunya dan bisa di saluran empedunya. Pada batu empedu di dalam kantung, penanganannya akan dilakukan dengan laparoskopi, yang akan dilakukan pembedahan. Pengangkatan angkatan kantung empedu sama sekali tidak mengganggu fungsi dari tubuh.

Sedangkan Spesialis Gizi Klinik dr. Bintari Anindhita, SpGK menyampaikan Indonesia saat ini menghadapi masalah triple burden. “Masalah yang kita hadapi itu triple burden, yaitu underweight, obesitas, dan stunting,” katanya. Ketiga hal itu saling berkaitan. Anak yang kecilnya stunting, punya potensi untuk menjadi obesitas. Mereka punya potensi memiliki angka BMI yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang posturnya sesuai dengan kurva pertumbuhan. Karena itu, dr Bintari menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat dan asupan nutrisi. “Dari kecil sudah bisa dipantau lewat kurva pertumbuhannya,” ucap dia.

Penanganan stroke dan metode DSA menurut dr Yuda, Sp.N tentang pembagian stroke ada dua macam, perdarahan dan penyumbatan. Kejadian stroke sekarang juga banyak menyerang usia muda, bila penanganan stroke saat ini dengan DSA maka akan mempercepat proses penyembuhan dan minimalisir gejala sisanya.

Radjak Hospital Intensive Care Centre dr. Shinta Sp. an KIC (Intensive Care Center) menambahkan Radjak Hospital Intensive Care Centre adalah pusat layanan kesehatan yang menyediakan perawatan intensif untuk pasien yang mengalami kondisi medis yang serius atau mengancam jiwa. Ini adalah unit yang sangat terfokus pada pemantauan dan perawatan pasien yang membutuhkan perhatian medis yang intensif dan cermat.

Swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved