GCG Companies

Bank Syariah Indonesia, Genjot Speed Pertumbuhan Bisnis Berpegang pada Fondasi GCG yang Solid

Hery Gunardi, Dirut Bank Syariah Indonesia

Tak hanya memperkuat kinerja dan fundamental bisnisnya, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) juga terus aktif mengembangkan internalnya dari sisi proses bisnis dan implementasi nilai-nilai Good Corporate Governance (GCG). Bank BUMN yang merupakan hasil merger tiga bank syariah ‒Mandiri Syariah, BRI Syariah, BNI Syariah‒ ini terus melakukan berbagai inisiatif agar seluruh proses bisnisnya selaras alias tak melanggar nilai-nilai GCG.

Dari sisi organ perusahaan untuk menjalankan GCG, misalnya, selain organ-organ yang sudah ada di perusahaan pada umumnya, seperti komisaris independen dan tim audit pada risk management, di BSI juga ada organ berupa Dewan Pengawas Syariah, yang tugasnya terus mengawasi jalannya bisnis Bank BSI agar terus berada pada jalur perbankan syariah sesuai dengan misinya.

Dalam menjalankan operasionalnya, sesuai dengan prinsip responsibility, BSI juga selalu berpegang pada prinsip kehati-hatian dan menjamin kepatuhan terhadap prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan, serta peduli terhadap lingkungan dengan melaksanakan tanggung jawab sosial secara wajar.

Implementasi GCG di BSI diinternalisasi secara konsisten dan terus dijaga melalui sistem yang melembaga. Tak mengherankan, BSI selalu memastikan bahwa pelaporan-pelaporan kepada pihak terkait dengan GCG dilakukan secara tepat waktu.

Contohnya, laporan Fungsi Kepatuhan triwulanan, laporan pelaksanaan Fungsi Kepatuhan Direktur yang membawahkan Fungsi Kepatuhan kepada OJK, laporan pelaksanaan Kepatuhan Terintegrasi kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. selaku induk, laporan self assessment pelaksanaan GCG setiap semester sebagai bentuk evaluasi yang dilaporkan kepada OJK, laporan pelaksanaan GCG tahunan kepada stakeholders yang dipublikasikan setiap tahun, dan beberapa laporan lain terkait GCG.

Tak hanya itu, untuk optimalisasi implementasi GCG, BSI juga terus melakukan sosialisasi penerapan GCG secara kontinyu kepada jajaran internalnya, baik melalui e-mail blast kepada seluruh karyawan terkait implementasi GCG maupun melalui pemberian materi dasar implementasi GCG dalam kelas-kelas training.

Manajemen BSI mengawal pelaksanaan Rencana Bisnis Kepatuhan Bank setiap tahunnya, serta terus memonitor dan melakukan follow up perbaikan dari setiap masukan yang diterima. Dan tak lupa, terus melakukan pengkinian ketentuan internal terkait penerapan GCG.

Tak hanya itu, Hery Gunardi, Direktur Utama BSI, menambahkan bahwa perusahaannya juga terus menjalankan prinsip-prinsip ESG. “Kami punya program socioeconomic dengan membangun desa Bangun Sejahtera Indonesia (BSI) yang kini ada 15 desa di 10 provinsi, dan program UMKM binaan,” kata Hery.

BSI pun memberikan beasiswa kepada 4.930 siswa SD hingga mahasiswa, bantuan kesehatan, dan mobil ambulans. “Charity and Environtment Program juga kami lakukan dengan memberi bantuan ke 2.222 anak yatim, bantuan mudik untuk difabel, bantuan hewan potong kurban, penanaman pohon, penempatan 20 mesin penukaran botol plastik (mesin RVM), dan pelepasan 200 tukik ke laut,” Hery memaparkan.

Dari sisi good environmental compliance, BSI tengah membangun green building di Aceh setinggi 10 lantai menggunakan panel surya sebagai pengganti listrik. Yang menarik, kata Hery, masih terkait ESG, ide green economy yang dijalankan BSI dengan menempatkan 50 RVM ‒mesin penukaran botol‒ karena botol yang terkumpul digunakan untuk produksi barang siap pakai, seperti sajadah, tas, dan sepatu.

Tak lupa, BSI juga punya program memberdayakan UMKM dengan mengadakan kompetisi talenta wirausaha BSI. Mereka menjaring anak-anak muda yang memiliki visi wirausaha, serta dibantu melalui pelatihan dan dana permodalan.

Pastinya, GCG di BSI juga diperkuat dengan implementasi sistem teknologi informasi yang terus dikembangkan. Dijelaskan Direktur Information Technology BSI, Saladin D. Effendi, pihaknya terus membangun IT application capabilities. Misalnya, dengan menggunakan single financing origination system dan document management system. Juga, mengembangkan business process automation dan costumer relationsip management yang berbasis teknologi.

Dari sisi IT system, BSI memang sedang berkejaran dengan ide-ide pengembangan. Banyak hal yang dilakukan, mulai dari memodernisasi core banking system untuk mengakomodasi speed to market, membangun super apps (ritel), hingga menguatkan cash management (wholesale) berbasis teknologi.

Bidang infrastructure capabilities pun diperkuat, dari sisi stabilitas dan ketersediaan layanan data server, storage, hingga cloud app. Di bidang securities capabilities, BSI tengah melakukan penguatan data, siber, dan jaringan, serta menguatkan kapabilitas kemanan data kapabilitas teknologi dan keamana jaringan.

Yang pasti, agar terus bisa agile, BSI melakukan perbaikan berkala, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan vendor dam regulator.

Hery menjelaskan, saat ini secara nasional BSI merupakan bank terbesar ke-6 di Indonesia. “Di kancah global, kami berada di ranking 13 berdasarkan market cap. Sesuai dengan visi kami, di tahun 2025 kami ingin masuk menjadi salah satu Top 10 syariah bank berdasarkan market cap,” kata Hery.

Per juni 2023, asset DPK BSI sudah mencapai Rp 253 triliun, tabungan Rp 111 triliun, pembiayaan Rp 222 triliun, laba Rp 2,82 triliun. Customer base-nya tumbuh 4,8 juta per September 2023 ‒sebelum merger 14,40 juta dan menjadi 19,22 juta pascamerger.

Pihaknya akan terus melakukan digitalisasi dan mengembangkan mobile banking user untuk menggeser fungsi cabang. “Kami ingin nasabah cabang bisa beralih ke digital karena menguntungkan kami dari sisi cost. Cabang punya cost yang lebih mahal di mana kami harus merekrut orang, investasi teknologi, dll.,” ungkap Hery. Selain itu, juga akan meningkatkan penetrasi ke Islamic ecosystem atau value chain halal, antara lain food and beverage, modest fashion, serta travel.

Yang jelas, BSI juga terus akan mengikuti global megatrend 2045: akan terjadi banyak perubahan mulai dari struktur demografi (segmen menengah akan naik), perkembangan teknologi (machine learnig, AI, dll.) akan meningkat, serta tata kelola global akan lebih bermacam-macam (seperti pendekatan ESG dan zero emission).

“Kekuatan utama BSI, didukung oleh sumber daya manusia yang bagus karena produk kami intangible, sehingga harus mampu menciptakan human capital yang bagus dan terus punya daya saing tinggi ke depan,” Hery menandaskan. (*)

Sudarmadi & Anastasia AS

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved