Technology

Misi Lime Menghijaukan Transportasi Kota di Lima Benua

Di tengah maraknya konsolidasi pemain di industri layanan micromobility, Lime terus melaju dan menjadi operator pertama yang profitable. Apa kiat suksesnya?

Wayne Ting, CEO Lime (Foto .nzherald.co.nz).
Wayne Ting, CEO Lime (Foto nzherald.co.nz).

Belakangan ini, sejumlah kota di dunia telah menerapkan kebijakan bebas kendaraan ‒baik untuk waktu tertentu, sementara, ataupun untuk seterusnya. Terutama di kota-kota yang ramai (crowded cities) ataupun yang berpopulasi padat (densely-populated cities).

Pasalnya, sektor transportasi ditengarai merupakan sumber utama emisi gas karbon. Sektor transportasi disebut-sebut merupakan faktor penyumbang terbesar polusi gas karbon di Amerika Serikat, dan nomor dua terbesar secara global.

Dari sektor transportasi, penyumbang terbesar emisi gas karbon adalah transportasi personal, atau kendaraan bermotor milik pribadi. Selain soal emisi karbon, setiap tahun lebih dari 1,3 juta orang di dunia tewas akibat kecelakaan lalulintas.

Pabrikan-pabrikan kendaraan bermotor telah membuat kemajuan cukup berarti dengan mengembangkan jenis kendaraan yang kini makin populer, yakni electric vehicle (EV), terutama dalam wujud electric car. Namun, belakangan berkembang kesadaran, terutama di kalangan warga kota, untuk mengurangi berkendara, sehingga mencari alternatif lain di luar penggunaan e-car dan e-truck. Itulah mengapa “gerakan mikromobilitas” (micromobility movement) berkembang pesat di berbagai kota di dunia, yang ditandai dengan makin populernya sepeda listrik (e-bike) dan skuter listrik (e-scooter).

Jenis EV itu makin populer, selain harganya affordable, juga dinilai cukup nyaman dan simpel untuk membantu menempuh perjalanan yang relatif tidak jauh, sekaligus dianggap cukup efektif mengurangi polusi udara. Di Paris, sebagai contoh, perjalanan menggunakan mobil telah turun sekitar 45% sejak tahun 1990. Sebaliknya, porsi bepergian menggunakan sepeda meningkat 10 kali lipat. Berbagai kota di dunia juga telah mengadopsi sistem berbagi menggunakan sepeda dan skuter.

Yang jelas, untuk perjalanan jarak pendek, kendaraan ini lebih efisien. Maklumlah, beratnya hanya separuh bahkan seperempat dari penumpang yang dibawanya. Adapun mobil yang dikendarai sehari-hari beratnya 3-4 ton.

Dengan kelebihan seperti itu, tak mengherankan, perkembangan micromobility dipandang merupakan solusi penting bagi masalah lingkungan akibat transportasi. Studi terbaru Oxford University menemukan bahwa adopsi micromobility itu 10 kali lebih penting daripada adopsi EV secara keseluruhan di dunia, terutama karena membantu menggantikan mobil dan mengurangi emisi karbon untuk perjalanan jarak pendek (shorttrip). Memang, perjalanan jarak pendek inilah yang merupakan sweet spot dari layanan penyewaan e-bike dan e-scooter.

Pada Mei 2023, sebuah koalisi yang beranggotakan perwakilan dari empat operator layanan micromobility besar di AS –yakni Bird, Lime, Spin, dan Superpedestrian– berbagi pengalaman dalam forum bertajuk “Designing Cities Conference”, yang diadakan oleh the National Association of City Transportation Official (NACTO), di Denver, AS. Koalisi ini juga menekankan pentingnya kebijakan untuk membuat perangkat micromobility tersedia, mudah digunakan, dan mudah diparkirkan di tempat tujuan selama 24 jam setiap harinya.

“Inti kampanye kami, bahwa beberapa perubahan dalam kehidupan, meskipun sulit, sangat bernilai dan dapat membuat hidup Anda lebih baik,” kata Christian Navarro, Head of Brand Marketing Lime.

Dengan adanya jumlah armada yang cukup, dengan rasio satu kendaraan elektrik untuk 500 orang, dan dua operator untuk tiap pasar yang menyediakan 1.000-2.000 kendaraan elektrik, bisa membuat orang berpikir ulang untuk menggunakan mobilnya guna melakukan perjalanan pendek.

Namun, untuk bisa melanjutkan operasi, perusahaan-perusahaan operator micromobility ini harus bisa mencetak profit agar bisnisnya berlanjut. Tak seperti kebanyakan sistem transportasi lainnya, perusahaan micromobility ini tak disubsidi oleh pemerintah, dan kebanyakan membayar biaya izin ke pemerintah kota untuk bisa menyediakan layanannya.

Yang tak kalah penting, kendaraan-kendaraan elektrik harus aman digunakan, terutama dari segi rutenya. Perusahaan-perusahaan operator ini berupaya membangun komitmen bersama dengan para pejabat publik, perencana kota, dan para pemimpin kebijakan transportasi, untuk menjamin bahwa skuter elektrik dan kendaraan listrik mikro lainnya dianggap sebagai moda transportasi penting ketika mendesain jalan.

Selain itu, mereka juga meminta agar batas kecepatan bisa mencapai 15 mil per jam (tidak 10 mil per jam seperti diterapkan di Washington D.C.), agar tidak terdorong berkendara di atas jalan trotoar (sidewalk); juga adanya area parkir yang khusus untuk skuter dan sepeda elektrik, serta anjuran untuk menggunakan helm.

Kendati ada peningkatan pada layanan micromobility, perubahan desain jalan sejauh ini belum memenuhi kebutuhan pengguna. Yang disayangkan, bukannya mengatasi tantangan, sejumlah pemerintah kota malah membuat aturan melarang moda transportasi ini.

“Kami akan mencapai kondisi free cash flow positive sesegera mungkin. Kami punya ‘landas pacu’ yang luas, banyak cash, dan kami tidak membakar apa pun.”

Wayne Ting, CEO Lime

Menurut perusahaan-perusahaan operator skuter elektrik, kebijakan banning itu kontraproduktif. Seharusnya, kata mereka, pemerintah kota merancang jalan yang lebih aman buat publik untuk jangka panjang.

Yang jelas, layanan berbagi skuter dan sepeda elektrik ini makin populer. Orang Amerika yang menggunakan layanan berbagi skuter dan sepeda ini mencapai hampir setengah miliar perjalanan sejak tahun 2010, sebagaimana studi terbaru NACTO.

Tampaklah bahwa kehadiran para operator layanan micromobility ini sangat dibutuhkan pengguna, khususnya kalangan warga kota. Satu pemain yang dibilang paling penting di bidang ini adalah Lime, operator layanan micromobility yang bermarkas di San Francisco, AS.

Diluncurkan pada 2017, Lime telah membuat banyak kota menjadi lebih “hijau”, alias mempunyai lingkungan yang lebih sehat bagi warganya, dengan mengoperasikan armada e-bike dan e-scooter-nya. Dari hanya 125 unit e-bike yang diluncurkan di University of North Carolina, AS, armada Lime kini berkembang di lebih dari 200 kota, dan memfasilitasi lebih dari 250 juta tumpangan. Pada 2021, Lime dipilih Time Magazine masuk dalam daftar 100 Most Influential Companies.

Bisnis rental e-bike dan e-scooter itu bukanlah hal mudah, terutama dalam kaitannya untuk mencapai profitabilitas. Adalah Wayne Ting yang berhasil membawa Lime menuju level profitabilitas. Mantan eksekutif Uber ini mulai menjabat sebagai CEO Lime dua bulan menjelang dunia memasuki pandemi.

Kala itu, Lime ada di persimpangan jalan. Pada Januari 2020 menutup 12 area/pasar, memangkas 100 orang, dan banyak armada e-bike dan e-scooter-nya yang menganggur di pasar-pasar yang masih diterjuninya.

Ketimbang memangkas biaya, Wayne Ting berupaya memanfaatkan peluang yang ada, baik untuk menjaga keberlanjutan bisnis (sustainability) maupun profitabilitas. Misalnya, dengan menjaga armadanya selama mungkin tetap berada di jalan.

Skuter Gen4 buatan Lime, yang merupakan mayoritas dari armada perusahaan ini pada 2022, didesain dan dikembangkan secara in-house, dengan penekanan pada daya tahannya untuk beroperasi (durable), serta komponennya yang bersifat modular yang bisa direparasi (repairable) ketimbang dibuang. Semakin sering dan lama tiap unit armada digunakan, berarti semakin bisa menutupi biaya operasional dan membantu pencapaian profitabilitas.

Manajemen Lime juga berupaya menerapkan teknologi yang lebih baik, seperti dalam hal perawatan aset. Sehingga, dapat mengurangi fixed cost dan meningkatkan margin bisnisnya.

“Misi kami adalah membawa lebih banyak orang keluar dari mobil, menuju alternatif transportasi hijau,” kata Wayne Ting. Secara global, hingga Oktober 2023, Lime aktif di lebih dari 280 kota, dan merupakan layanan terbesar di dunia di bidangnya.

Meski dibutuhkan banyak orang, layanan ini masih memperoleh keluhan di sebagian komunitas, terutama karena perilaku penggunanya. Misalnya, kendaraan elektrik ini diparkir di tempat yang tidak pas (sembarangan) atau ditinggalkan begitu saja.

Menurut Wayne Ting, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi perilaku buruk pengguna, termasuk dengan mengembangkan area parkir virtual, dan mengambil tindakan untuk pengguna yang mengabaikannya. “Kami meminta setiap pengendara untuk mengambil gambar di setiap perjalanannya dan kami akan mengkaji gambar tersebut melalui bantuan teknologi AI maupun petugas (manusia),” katanya.

“Apabila Anda tidak memarkir kendaraan elektrik sewaan dengan benar, kami akan mendenda Anda dan mengirimkan peringatan (warning). Dan apabila Anda berulang kali mengacau, kami akan mengeluarkan Anda dari platform,” kata Ting dengan tegas.

Secara historis, ujar Ting lagi, orang percaya adanya permintaan besar terhadap layanan micromobility. Hanya saja, industri ini dibayangi adanya korban manusia yang membuat bisnis ini kurang berjalan dengan baik.

Memang, layanan berbagi skuter dan sepeda elektrik ini mengalami slow down. Sebagai contoh, menjelang bulan-bulan penghujung 2023 Paris menerapkan larangan bagi layanan skuter untuk menapaki jalan-jalan di kota ini ‒sesuatu yang sesungguhnya merupakan kondisi setback bagi Lime dan operator lainnya.

Wayne Ting menyebutkan, pandemi Covid-19 telah membuat revenue perusahaan penyewaan skuter dan sepeda merosot lebih dari 95%. “Kami bersyukur dengan adanya pergeseran pada fokus kami dan kesepakatan dengan Uber untuk mengambil alih unit micromobility perusahaan ride-hailing besar ini,” kata Ting, yang mulai menjadi CEO Lime pada Mei 2020, empat tahun setelah berkarier di Uber.

Setelah sempat ada ledakan pertumbuhan perusahaan micromobility baru, yang diguyur dengan dana dari venture capital, setelah pandemi ada kecenderungan untuk konsolidasi, seiring dengan keluarnya Uber dari bisnis ini di awal tahun 2020. “Tahun 2020 ke 2021 merupakan titik balik bisnis micromobility setelah kami mengalami near-death experience,” kata Ting. Satu hal yang diajarkan pandemi Covid, menurut Ting, adalah bagaimana perusahaan bisa berbisnis dengan lebih baik dan berpikir untuk jangka panjang.

Kendati ada tantangan seperti itu, menurut Wayne Ting, Lime masih mampu mencatatkan angka tumpangan (ridership number) yang impresif di kawasan Amerika Utara, Eropa pada umumnya, Australia, dan Selandia Baru. Dengan adanya tren yang membaik, manajemen Lime tak menampik kemungkinan Lime menjalankan IPO (initial public offering). “Kami telah memiliki semua bahan racikannya, untuk mengambil keuntungan dari sebuah IPO tradisional (non-SPAC IPO) begitu pasar naik lagi,” katanya.

Namun, Ting sebelumnya sudah memastikan langkah IPO tradisional ini memang tak akan dilakukan pada akhir tahun 2023 atau dalam waktu dekat. Alasannya, diperkirakan ada sejumlah perusahaan teknologi yang akan IPO, seperti Arm, Cava, Stripe, dan Instacart.

“Visi saya untuk Lime adalah menjadi platform mobilitas untuk jarak di bawah lima mil,” ujarnya lagi. Ia menginginkan jika ada seseorang di suatu kota ingin pergi dari titik A ke titik B, ia akan membuka aplikasi Lime dan dapat menggunakan moda transportasi ini dengan titik harga yang diinginkannya. Entah itu menggunakan armada sepeda sewaan, skuter orisinalnya (skuter berdiri/stand-up scooter), atau skuter barunya yang merupakan skuter duduk (sit-down scooter).

Ting menyebutkan, Lime bisa mendapatkan pengguna baru dengan hadirnya skuter duduk ini. Karena, ternyata memang ada orang yang enggan menggunakan skuter berdiri disebabkan satu-dua alasan.

Credit: Lime/ Philipp Lipiarski (intelligenttransport.com).

Berbeda dengan operator layanan penyewaan skuter lainnya, Lime telah menggandakan pembuatan skuternya sendiri, yang diakui Ting memang mahal tapi merupakan hal yang penting. Alasannya, hal itulah yang menjadi diferensiasi kuat Lime dibandingkan para pesaing, dalam kaitannya dengan kepentingan pengguna dan pemerintah kota yang meregulasi armada skuter ini.

Ting pun berargumen pihaknya telah mampu meningkatkan nilai ekonomis dari unit skuternya. “Tiap skuter kami ini rata-rata mampu bertahan di jalan selama lima tahun,” ujarnya dengan bangga. Sebaliknya, ia mengkritik pemain lain yang membeli skuter murah yang kondisinya sudah tak laik jalan hanya dalam beberapa bulan penggunaan.

Kata Ting, Lime memang bukan operator layanan penyewaan skuter elektrik pertama, tapi akan menjadi perusahaan skuter terakhir yang terus berdiri, khususnya ketika pemain lain melakukan merger dan industri terus berkonsolidasi.

Profitabilitas adalah target banyak perusahaan startup. Tak terkecuali Lime yang menargetkan mencapainya pada 2021. Namun, pandemi Covid-19 telah membuat manajemen Lime mencoret target ini.

Pada Febuari 2023, manajemen Lime mengumumkan bahwa perusahaan penyewaan skuter dan sepeda listrik ini telah mencapai kondisi profitable sepanjang tahun 2022, dengan basis perhitungan adjusted EBITDA –yang menjadikanya perusahaan micromobility pertama yang mencapai kondisi profitable. Pada 2022 itu, Lime mencatat gross booking senilai US$ 466 juta, berarti naik 33% dibandingkan 2021.

Selain itu, juga mencatatkan adjusted EBITDA senilai US$ 15 juta. Namun, angka ini belum memperhitungkan pengeluaran modal (capital expenditure), misalnya untuk mendesain dan memproduksi skuternya sendiri.

Wayne Ting menargetkan pihaknya akan mencapai target kondisi free cash flow positive ‒kondisi profitable bahkan setelah memperhitungkan biaya investasi modal‒dalam dua tahun berikutnya. “Kami akan mencapai kondisi free cash flow positive sesegera mungkin. Kami punya ‘landas pacu’ yang luas, banyak cash, dan kami tidak membakar apa pun,” katanya.

Pada 2022 itu, bisnis Lime memang meningkat meskipun pasar saham teknologi sedang melesu. Di tahun itu, Lime memproduksi model-model baru armadanya, baik e-bike maupun e-scooter; serta berekspansi ke pasar Timur Tengah.

Kinerja mengesankan Lime tampaknya berlanjut di separuh tahun 2023. Pada September 2023, manajemen Lime mengungkapkan bahwa perusahaan ini mampu mencatat gross booking senilai US$ 250 juta pada semester I/2023, yang berarti meningkat 45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Adapun adjusted EBITDA yang dicapai pada semester pertama ini sebesar US$ 27 juta, yang juga meningkat 45% dibandingkan tahun lalu, dan unadjusted EBITDA sebesar US$ 20,6 juta. “Hal ini membuktikan bahwa profit yang dicapai tahun lalu itu bukan kebetulan,” kata manajemen Lime dalam press release-nya.

Banyak orang mungkin masih underestimate dengan industri layanan micromobility. Maklumlah, banyak operator yang masih mengurangi staf, membakar cash, bahkan keluar dari industri ini. Namun, Lime bisa bangga menunjukkan tren ke arah yang berbeda.

Meski tak banyak mengungkapkan ukuran-ukuran lainnya, manajemen Lime mengklaim berada di jalan yang pas untuk mencetak tahun penuh rekor lainnya.

“Di tahun penuh tantangan, Anda mulai memisahkan yang kuat dengan yang lebih lemah,” ujar Ting.

“Salah satu pembedanya adalah kami perusahaan global, pemain nomor satu di dunia, dan kami ada di lima benua. Itu artinya kami punya skala untuk berinvestasi pada hardware, software, dan operasi kami,” Ting menandaskan. (*)

Joko Sugiarsono

Riset Bahan: Armiadi (dari berbagai sumber)

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved