Management

Seperti Ini Praktik Kerja Masa Depan

Seperti Ini Praktik Kerja Masa Depan

Dunia pekerjaan saat ini terus mengalami perubahan yang sangat cepat. Para pemimpin perusahaan dituntut untuk terus beradaptasi agar tidak ketinggalan. Perubahan itu dipercepat dengan kehadiran pandemi Covid-19 lalu yang membuat perusahaan mengubah pola kerjanya hingga saat ini.

Selain pandemi, kondisi SDM yang memiliki karakter berbeda-beda menjadi tantangan berikutnya. Perusahaan tidak bisa lagi menerapkan cara lama untuk menangani SDM generasi-generasi saat ini, milenial, X dan Z.

Chairman Ktalents Asia Koeshartanto mengungkapkan bahwa tantangan terbesar para pemimpin perusahaan saat ini adalah ‘The triple storm’, yakni technology, biology dan generation. Ketiga tantangan ini datang bersamaan dan masih ada perusahaan yang belum siap.

“Teknologi itu menuntut kemampuan beradaptasi, kelincahan, rasa ingin tahu, dan kapabilitas. Biologi (karena pandemi) ada vaksin, protokol kesehatan, masalah kesehatan, bioteknologi (genetika). Generasi soal perilaku, pengaruh, keterlibatan, dan pengubah permainan,” ujarnya dalam seminar Work Without Walls, beberapa waktu lalu.

Menjawab tantangan ini, CHRO Tiket.com Dudi Arisandi mengatakan, jika bicara masa depan maka bukan tentang besok atau lusa, tetapi hari ini. Demografi pekerja hari ini sebanyak 70,72% adalah usia produktif, 25,87% milenial dan 27,94% Gen Z.

Dudi membeberkan fakta bahwa sebanyak 85 juta pekerjaan mungkin akan digantikan oleh suatu shift antara manusia dan mesin pada tahun 2025, 61% organisasi mengadopsi hybrid model per Oktober 2023, direncanakan 13% untuk mengimplementasikannya pada tahun 2024. Lalu 37% bisnis di seluruh dunia menggunakan AI beberapa bentuk & lebih dari 50% berencana untuk melakukannya menggabungkan AI & Otomatisasi pada tahun 2024.

Yang dilakukan Tiket.com, lanjut Dudi memulainya dengan mindset yang positif. Perubahan itu hal yang konstan dan kita tidak bisa menghentikannya. Dudi tidak mengejar tren, kuncinya bertahan dengan tetap relevan dan kompetitif.

Masa depan pekerjaan itu remote work dan pengaturan kerja yang fleksibel. Sebelum pandemi, Tiket.com full kerja dari kantor, pandemi full kerja dari rumah, pascapandemi kerja hybrid. Pengaturan kami saat ini, bekerja dari mana saja dengan otonomi dan tanggung jawab, dua hari WFO per vertikal bisnis, ini lebih baik karena kolaborasi, fleksibel dalam waktu kedatangan, siap datang ketika kantor butuh, dan manajer memutuskan kondisi khusus.

“Apakah ini pengaturan yang terbaik? Kami tidak tahu, itulah mengapa kami selalu mendengar (dari karyawan) dan terus menerus mengevaluasi. Hasilnya berdampak pada bisnis dan pada SDM kami. Berhentilah mencari yang terbaik, mulailah mencari yang optimal,” ungkap Dudi dalam kesempatan yang sama.

Kedua membangun kemampuan mendengar yang kokoh. Perusahaan mencari titik temu antara ekspektasi BOD dan ekspektasi karyawan. Mencari titik ini adalah dengan mendengarkan apapun yang menjadi keinginan atau kritikan dari karyawan.

“Tujuan kami jelas, pimpinan mendengarkan 24/7. Di mana t-fams (sebutan untuk karyawan Tiket.com) boleh mengatakan apapun, bahkan ketika itu tentang ukuran rendang di katering makan siangmu,” ucap Dudi.

Jurus ketiga membangun kepercayaan, menyatakan niat atau keinginan Anda dengan jelas. Tahun lalu masih berpikir bahagia, lalu membuat kita produktif, tapi tahun ini diubah menjadi produktif lalu baru membuat bahagia. “Jujur saja, menyatakan niat dengan jelas, lalu membuahkan hasil,” ucapnya.

Keempat selalu bersiap dengan perubahan dan selalu mencari wawasan. Wawasan ini bisa dilihat dari mana saja, bahkan dari kompetitor. Jadi perusahaan selalu melihat situasi dan perubahan apa yang terjadi di sekitarnya.

Sementar itu Country HR Leader Cisco Sekar Anindita mengatakan pandemi mempercepat adopsi teknologi digital, dan menjadikan akses terhadap internet dan keterampilan digital sebagai jalur penting dalam pendidikan, layanan kesehatan, layanan pemerintah, sosialisasi, dan partisipasi dalam ekonomi digital.“Masa depan itu tidak pasti, dunia telah berubah dari sebelumnya. Teknologi menjadi penting dari sebelumnya dan bisnis harus siap,” ucap Sekar menegaskan.

Sekar menjelaskan bahwa pandeki mempercepat masa depan pekerjaan. Untuk memahami bagaimana kami dapat mendukung cara kerja baru ini, Cisco mempelajari bagaimana pandemi. Hasilnya pandemi mengubah kebiasaan karyawan, kolaborasi terdampak dan keterlibatan dan kesejahteraan karyawan terpengaruh.

“Fleksibilitas dan keputusan sangat penting, terutama pada masa perubahan. Tidak ada satu solusi untuk semua, SDM kami berbeda-beda, begitu pula kebutuhan mereka. Menawarkan fleksibilitas & pilihan kepada karyawan, pekerjaan mereka meningkatkan engagement,” ujarnya.

Dari hasil pengalaman ditemukan praktik terbaik dalam kolaborasi kerja hybrid pertama memahami pekerjaan apa yang paling baik dilakukan secara langsung dan apa yang dapat dilakukan secara virtual, menyatukan orang-orang dengan niat dan tujuan vs amanat. Ketiga mendorong check-in mingguan antara pemimpin dan anggota tim, keempat bersikap lebih intensional dan anggarkan untuk kolaborasi tatap muka, kelima memberikan peluang, khususnya inovasi.

Jadi bagaimana untuk menciptakan ruang kerja yang fleksibel? pertama temukan pola yang terbaik dengan bersikap fleksibel dalam penggunaan video & temukan keseimbangan yang mendukung kesejahteraan pribadi dan keterlibatan tim, menanyakan orang lain tentang preferensi kolaborasi mereka, dan memastikan semua pertemuan virtual 1:1 diperlukan dan gunakan mode kolaborasi lain jika memungkinkan.

“Pemimpin memegang kunci untuk membuka keterlibatan karyawan. Di antaranya dengan membuat kebijakan kerja yang memungkinkan pilihan & fleksibilitas untuk mendukung daya tarik dan retensi bakat, memberikan otonomi kepada individu mengenai di mana & kapan mereka bekerja, ini untuk meningkatkan keterlibatan dan inovasi. Memberikan keleluasaan untuk mengambil cuti dan mendorong masyarakat untuk mengambil cuti 5+ hari sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Pemimpin harus memikirkan kembali bagaimana SDM berkumpul secara langsung dan virtual untuk meningkatkan keterlibatan. Kolaborasi tatap muka menjadi lebih direncanakan, mengartikulasikan dengan jelas hasil yang diinginkan dari waktu yang dihabiskan di kantor.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved