Trends

Sigit Suhendra, Dosen Yang Sukses Meraih Cuan dari Pisang Cavendish

Sigit Suhendra, Pembudidaya dan Pakar Pisang Cavendish

Berakit rakit ke hulu berenang ke tepian. Ini perumpaan yang pas untuk menggambarkan perjalanan hidup Ir. Sigit Suhendra,M.E.P. Pria asal Bantul, DIY tersebut, kini telah menikmati buah perjuangan yang dijalaninya selama bertahun-tahun.

Secara formal, pria yang akrab disapa Ir. Sigit tersebut, sebenarnya masih berstatus sebagai seorang dosen.Tepatnya dosen pengajar agribisnis di Universitas Megou Pak Tulang Bawang, Lampung. Meski masih aktif mengajar, ia jarang tampil di ruang kuliah. Maklum sejak pandemi Covid 19, metode pembelajaran lebih banyak secara online.

Di luar aktivitasnya mengajar, Ir. Sigit justru sering blusukan ke berbagai pelosok desa di Indonesia. Hal ini dilakukannya sejak empat tahun silam, dalam rangka mengaplikasikan salah satu keahlian di bidang pertanian yang dikuasainya.

Belakangan Sigit mulai dikenal sebagai salah satu pakar pisang Cavendish. Ia kini sibuk keliling daerah, karena sering diundang ke berbagai komunitas petani pisang Cavendish. “Alhamdulillah saya sudah keliling berbagai pelosok desa untuk meihat langsung permasalahan budidaya pisang Cavendish,” kata alumni Fakultas Pertanian UPN Veteran Jogja tersebut kepada SWA.

Dia rupanya menjadi tumpuan harapan bagi para petani pisang Cavendish yang ingin sukses dalam menjalankan usahanya. Ia banyak mendapatkan keluhan terkait dengan berbagai masalah yang dihadapi para petani tersebut. Mereka ingin mendapatkan solusi yang benar-benar mumpuni.

Selama ini, Sigit memberikan pelayanan gratis khusus kepada petani kecil yang ingin berkonsultasi terkait budidaya pisang Cavendish. Termasuk bagi yang ingin belajar teknik budidaya, bisa datang langsung ke kebunnya di kawasan Salatiga, Jawa Tengah. Ini bagian dari komitmen berbagi ilmu kepada orang kecil yang ingin maju lewat dunia pertanian. “Kami shodaqohkan ilmu saya bukan hanya masalah pisang cavendish tapi juga jenis tanaman lain yang saya ketahui,” tutur lelaki yang juga alumni magister Universitas Lampung tersebut.

Saat ini, pisang Cavendish memang masih menjadi salah satu primadona produk agribisnis dengan prospek pasar yang cerah. Baik untuk pasar lokal maupun eksport. Berapapun hasilnya dijamin terserap pasar. Bahkan terjadi ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan. “Kebutuhan pasar masih belum terpenuhi sehingga hasil berapapun panennya dijamin pasti laku,” jelasnya.

Tak mengherankan, banyak yang mencoba mencari keberuntungan dengan berbudidaya pisang Cavendish. Bila budidaya sukses seperti yang diinginkan, tanaman buah yang satu ini memang menjanjikan cuan yang menggiurkan. Setelah dipotong biaya produksi, setiap batang bisa menghasilkan keuntungan minimal Rp 30 ribu dalam satu tahun.

Menurut Sigit, biaya produksi dari setiap pohon pisang mulai dari pengolahan lahan, bibit, sarana produksi, tenaga kerja, dll di kisaran angka Rp 85 ribu. Bila panen dengan asumsi buahnya berkualitas baik, setiap tandannya bisa terjual Rp 120 ribu. “Harga memang tergantung dari kualitas buahnya, “ ujar Sigit.

Satu keunggulan dari investasi pisang Cavendish, sepanjang dirawat dengan baik akan terus menghasilan selama bertahun-tahun. Setelah tanaman induk berbuah dan dipanen akan disusul panen dari ‘anakannya’. Jadi investasi terbesar hanya dibutuhkan saat tanam pertama saja, karena berikutnya akan muncul ‘anakannya’.

Agar mendapatkan harga yang bagus, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satu syaratnya selain ukurannya yang harus seragam, pisang harus benar-benar tampil dengan cantik mulus. Tidak boleh ada cacat pada kulit sekecil apapun, misalnya noda bercak karena terkena jamur. “Ini buah meja bagi keluarga papan atas sehingga harus tampil mulus hijau kekuningan,” jelasnya.

Untuk menghasilkan buah yang berkualitas, tentu saja dibutuhkan teknik budidaya yang baik. Satu hal yang harus diperhatikan adalah terpenuhinya kebutuhan pupuk, obat-obatan dan air. Dan perlu dicegah timbulnnya jamur dan hama yang bisa mengakibatkan kematian, maupun kualitas buah yang jelek.

Selain dikenal sebagai konsultan, Sigit juga menjadi praktisi petani buah pisang Cavendish. Ia tidak hanya mengelola kebun percontohan yang ada di Salatiga, tapi juga mengelola beberapa lahan lain yang berlokasi di Jateng, DIY dan Jatim. Dia mengaku sudah menikmati cuan dari budidaya kebun tersebut. Namun ia enggan bercerita besaran cuan yang didapatnya. “Yang jelas memang sangat menguntungkan,” ucapnya.

Yang menarik, lahan yang dikelola Sigit merupakan kerjasama dengan para investor. Pola kerjasamanya, dia menjadi konsultan investor dan berhak mendapatkan keuntungan sebesar 10 persen selama masa panen, hingga kontrak berakhir. “Alhamdulillah sudah ada yang membuahkan hasil,” katanya.

Setelah sukses mengembangkan pisang Cavendish di area Pulau Jawa, Ir. Sigit siap melebarkan sayapnya ke Sulawesi. Ada investor yang menawarkan kerjasama untuk pengelolaan lahan seluas 200 hektar di Sulawesi. “Kami masih ngatur waktu untuk survai lokasi,” ujar alumni SMA Negeri 2 Bantul ini.

Menurut Sigit, sebenarnya banyak penawaran yang masuk untuk ngajak kerjasama. Namun karena keterbatasan tenaga, belum bisa menindaklanjuti ajakan kemitraan tersebut. Ia masih mempriotaskan investor yang ada di Pulau Jawa yang lokasi kebunnya bisa dijangkau dengan mudah.

Kenapa banyak investor yang tertarik mengajak kerjasama? Ternyata Sigit memiliki daya tawar yang menarik. Ini terkait dengan nilai investasi yang lebih hemat, bila dibandingkan dengan melakukan budidaya sendiri.

Sekadar gambaran, untuk satu pohon pisang Cavendish pada umumnya membutuhkan biaya kisaran Rp 85 ribu hingga panen. Tapi dengan budidaya ala Sigit, pengeluaran biaya tersebut bisa lebih rendah hanya menjadi Rp 65 ribu perpohon. Bahkan di tempat tertentu, Sigit sudah bisa menekan biaya hanya Rp 50 rb perpohon.

Biaya penghematan tersebut, salah satunya berasal dari biaya pemupukan. Pada umumnya, untuk setiap hektar kebun pisang Cavendish membutuhkan biaya pupuk hingga Rp 15 juta. Tapi Sigit berhasil meracik formula pupuk sendiri yang hanya menghabiskan Rp 1,5 juta perhektar. Ini artinya ada penghematan yang lumayan besar. Apalagi bila luasan kebunnya sangat luas.

Sigit berani menjamin dengan biaya pupuk yang lebih hemat tersebut, akan menghasilkan kualitas tanaman yang tidak kalah bagus. Bahkan bisa lebih bagus karena lebih banyak komponen pupuk organiknya. “Saya jamin kualitasnya tidak kalah bagus walau dengan biaya yang murah,” ungkapnya.

Kini Ir. Sigit nyaris tak punya waktu untuk bersantai. Diluar waktunya mengajar secara online, jadwalnya sangat padat. Telepon selulernya sering berdering dari klien yang meminta waktu untuk bertemu dan bisa konsutasi secara langsung. Biasanya, ia bisa memberikan konsuktasi lewat online. “Semua saya berikan gratis,” ujarnya.

Untuk meraih posisi seperti saat ini, ternyata butuh waktu puluhan tahun bagi Sigit. Setelah sekian lama menjadi dosen agribisnis di perguruan tinggi favorit di Lampung tersebut, ia merasa perlu memiliki keahlian pada salah satu jenis tanaman tertentu.

Pada mulanya, Sigit jatuh cinta pada tanaman apokad. Ia mencoba menguasai seluk beluk tanaman tersebut. Namun dalam perjalanan waktu , ia pindah haluan untuk mencintai pisang Cavendish. Semangatnya muncul karena pada awal tahun 2000an, merebak kasus penyakit yang menyerang pisang Cavendish yang dibudidayakan perusahaan kakap di Lampung.

Konon para pengusaha pisang Cavendish mengalami kerugian besar, akibat tanaman layu dan kemudian mati. Dan, tentu saja, ini mengakibatkan para investor gagal panen. Untuk mengatasi problem tersebut, pihak perusahaan sampai melibatkan pihak kampus untuk ikut mengatasi masalah. ~Saya mash ingat persis banyak pengusaha yang rugi akibat serangan penyakit dari jenis jamur,” kenang Ir. Sigit.

Bermula dari situlah, Sigit memantapkan niat untuk menguasai seluk beluk pisang Cavendish. Ia membuat kebun khusus dekat rumah tinggalnya. Ia melakukan berbagai uji coba, mulai dari pembibitan, hingga pembuatan pupuknya.

Dari uji coba selama lebih sepuluh tahun, ia akhirnya menguasai seluk beluk budidaya pisang Cavendish. Kebetulan Sigit rajin mengupload kegiatan yang dijalaninya di media sosial yang dimiliki. Dari sinilah, namanya mulai muncul di permukaan, khususnya di kalangan pelaku usaha agribisnis. Banyak pelaku usaha yang mulai konsultasi dan akhirnya menjalin kerrjasama kemitraan.

Sigit mengakui, dari kerjasama tersebut, ia juga mendapatkan hasil dari penjualan bibit pisang maupun pembuatan pupuknya. Untuk bibit, ia mengaku telah kerjasama dengan perusahaan khusus pembibitkan yang menggunakan teknik kultur jaringan. Sedangkan untuk pupuk, ia memproduksi sendiri.

Untuk harga bibit saat ini di kisaran Rp 15.000/batang. Sedangkan untuk luasan lahan per hektar dengan jarak tanam 2×1.5 m membutuhkan 2200 batang atau senilai Rp 33 jt. Dari perusahaan ia mendapatkan potongan harga 10 persen dengan jaminan garansi diganti bila ada yang mati.

Dengan makin luasnya lahan yang dia garap tentu saja makin banyak kebutuhan bibit pisangnya. Yang membuat Sigit merasa nyaman, berapapun kebutuhan bibit selalu ready. “Perusahaan pembibitan yang menjadi rekanan kami kapasitas produksinya sangat besar,” ucapnya`

Selain mendapatkan fee dari penjualan bibit, Sigit ternyata juga berhak medapatkkan fee dari investor berdasarkan jumlah pohon yang ditanam. Dari setiap pohon dianggarkan untuk biaya konsultan senilai Rp 3000,- ***


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved