GCG Companies

Angkasa Pura II, Lincah Beradaptasi Berlandaskan GCG

Operator bandar udara menghadapi dinamika bisnis aviasi yang menantang pada era pandemi dan pascapandemi Covid-19. Manajemen perusahaan meresponsnya dengan melakukan strategi bisnis organik dan anorganik, seperti yang diterapkan PT Angkasa Pura II (AP II). Perusahaan ini membidik target optimistis serta mengembangkan bisnis aviasi serta non-aviasi yang berlandaskan Tata-kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG),

BUMN yang mengelola 20 bandara ini melakukan konsolidasi bisnis lantaran dilebur dengan PT Angkasa Pura I di bawah naungan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney. Kementerian BUMN dan InJourney pada 28 Desember 2023 menetapkan jajaran direksi dan komisaris baru AP II. Antara lain, menunjuk Agus Wialdi sebagai Direktur Utama AP II, menggantikan Muhammad Awaluddin (Dirut AP II September 2016- November 2023).

Muhammad Awaluddin, pada pemaparan di penilaian Corporate Governance Perception Index (CGPI) tahun lalu, menjabarkan tantangan bisnis yang kian kompleks di tingkat global, yakni dinamika geopolitik, tren Industri 4.0, ESG (Environment, Social, and Governance), serta fluktuasi perekonomian. AP II menyikapinya dengan beradaptasi untuk mengelola portofolio bisnisnya, melakukan digitalisasi, mengintegrasikan model bisnis, dan menata kas perusahaan. Caranya, bertransformasi dan beradaptasi.

Manajemen AP II mengidentifikasi operator bandara bisa didorong untuk mempertahankan profit dan meningkatkan jumlah traffic penumpang di bandara udara. “Sebagian besar yang menopang para operator bandara ini traffic passengers. Oleh karena itu, penyiapan airport yang kompetitif, berkolaborasi dengan stakeholders di ekosistem bisnis ini,” tutur Awaluddin.

AP II merevisi target jumlah traffic penumpang di 2023 sebanyak 75 juta dari sebelumnya 73,5 juta. Target ini lebih tinggi jika dibandingkan realisasi di tahun 2022 yang sebanyak 62 juta traffic penumpang. “Profitable traffic growth menjadi satu faktor penentu agar kinerja perusahaan berkelanjutan,” ujarnya.

Tak hanya itu, AP II juga berinovasi untuk mengkreasikan pendapatan dari segmen non-aviasi. “Ini sudah dilakukan perusahaan yang menghasilkan revenue stream,” ungkap Awaluddin

Manajemen memetik pelajaran pada masa wabah virus Corona dengan mengembangkan bisnis aviasi dan non-aviasi serta memperkuat kolaborasi bisnis. ”Angkasa Pura II dan Angkasa Pura I sudah di bawah holding In Journey sehingga pendekatannya bukan hanya sekadar ecosystem transportasi untuk mengakselerasi kinerja dan inovasi. Era saat ini, pemerintah sedang mendorong untuk tumbuh dan bangkit di sektor travel dan pariwisata. Bandar udara menjadi backbone dari ekosistem 3T (Air Transport, Tourism & Travel),” Awaluddin menjabarkan.

AP II bergerak cepat dengan menggelar beragam program, antara lain Superfast Recovery Program 2022 dan Recovery Beyond Borders in 2022. Sejumlah langkah nyata direalisasi, misalnya meningkatkan frekuensi penerbangan melalui pengembangan rute terbaru (new route) atau aktivasi rute idle, mengoptimalkan jam operasional, dan mengoptimalkan penerimaan kas dengan target di atas Rp 6 triliun di 2022.

AP II mengakselerasi pemulihan bisnis dengan mengoptimalkan core portfolio yang didukung peningkatan non-core portfolio. Kemudian, mengembangkan platform digital menjadi platform metaverse yang akan memberikan pengalaman konsumen (customer experience) yang lebih berkesan dan efisien serta meningkatkan sinergi SDM di lintas ekosistem 3T.

AP II menerapkan pendekatan dynamic-based, di antaranya efisiensi operasional pada 2020-2021. Caranya, menata SDM dan jam operasional bandara, berkolaborasi dengan maskapai penerbangan. “Situasinya lebih kompleks namun dengan hal tersebut perusahaan bisa menghasilkan yang lebih baik,” ungkap Awaluddin.

Pengembangan bisnis dipantau oleh komite GCG di AP II. Komite GCG dan manajemen AP II berdisiplin melakukan fungsi pengawasan dalam keputusan bisnis, memantau proses pelaksanaan pengembangan bisnis, rutin mengevaluasinya, mengembangkan digitalisasi, serta menanamkan nilai dan budaya perusahaan pada insan AP II.

Kepatuhan manajemen terhadap GCG lainnya: rutin melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dua kali dalam setahun. Lalu, manajemen pada 2022 menghasilkan 31 kebijakan yang dikreasikan unit kerja. Kebijakan ini memandu standar prosedur operasional. Awaluddin menyampaikan, AP II mempraktikkan GCG untuk menjadi perusahaan yang tumbuh berkesinambungan, menciptakan nilai kepada pemegang saham, dan berkontribusi dalam pengembangan masyarakat.

Langkah nyatanya berdisiplin menerapkan GCG: melatih pegawainya di berbagai pelatihan manajemen risiko. “Untuk strategi decision making yang menjadi bagian dari corporate agility berbasis corporate governance, pembuatan kebijakan mengedepankan prinsip kehati-hatian,” katanya.

Untuk penilaian CGPI, AP II mencatatkan skor 86,72, dan mendapatkan predikat “Sangat Terpercaya” pada ajang Good Corporate Governance 2023 yang digelar oleh IICG dan SWA Media Group. (*)

Sri Niken Handayani & Vicky Rachman


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved