Technology

Ambisi Odense Menjadi Kota Robot Terbaik di Dunia

Odense, salah satu kota di Denmark, meluncurkan kampanyenya untuk menjadi the world’s best robot city. Ekosistem yang diciptakannya, termasuk adanya pola kerjasama dengan dunia riset (kampus) dan perusahaan teknologi besar, membuat industri startup robotik dapat berkembang.

Mikkel Christoffersen, CEO Odense Robotics. (dk.linkedin.com/in/mikkel-christoffersen)

Pada gelaran kejuaraan bulu tangkis Victor Denmark Open 2023, 17-22 Oktober 2023, ada sebuah pemandangan menarik. Di arena pertandingan, yang memberikan shuttlecock pengganti pada atlet yang tengah bertanding bukanlah petugas (manusia), melainkan robot yang berbentuk tangan. Selain itu, para pemain tak perlu membawa tas mereka yang berat, karena ada mobile robot berbentuk kereta mini yang bertugas membawakan tas-tas ini.

Robot-robot pun bukan hanya melayani para pemain dan wasit, tapi juga ada yang bertugas menyebarkan informasi, memberikan tontonan hiburan, ataupun menyediakan layanan lainnya buat penonton yang hadir. Pendeknya, para “cobot”, singkatan dari collaborative robot (robot yang umumnya punya lengan), memainkan peran cukup signifikan di ajang kompetisi bulu tangkis Denmark Open 2023.

Ajang yang berkelas Superseries 750 itu rupanya memang menjadi bagian dari kampanye the City of Odense, salah satu kota terbesar di Denmark, yang mencanangkan ambisinya menjadi kota robot terbaik di dunia. Di beberapa panel displai untuk iklan yang ada di sekitar arena pertandingan, tertulis slogan yang cukup atraktif: “The World’s Best Robot City”. Dan, kampanye ini bukan cuma slogan atau gembar-gembor kata-kata dari kotanya Victor Axelsen, pemain bulutangkis nomor satu dunia dari Denmark itu.

Di kota yang sebetulnya relatif kecil dari segi ukuran dibandingkan kota-kota top dunia lainnya ‒the City of Odense hanya seluas 79,30 km2– ini, revolusi robotik memang tengah berlangsung. Hal ini seperti cerita dongeng yang mewujud di dunia nyata.

Penggunaan robot –dalam berbagai bentuk‒ terlihat pada berbagai situasi sehari-hari, termasuk hal-hal yang dianggap remeh, seperti ketika orang berbelanja. Dan, Odense betul-betul terlihat sebagai fasilitator revolusi gaya hidup baru ini di Benua Eropa. Kenyataan ini seolah mengingatkan orang akan kisah-kisah dongeng luar biasa yang diceritakan pengarang cerita dongeng legendaris Hans Christian Andersen, yang lahir dan besar di kota ini.

Odense juga berkembang menjadi salah satu kota penting dalam perkembangan industri robotik. Kota ini bukan hanya digerakkan oleh talenta-talenta berkemampuan tinggi di bidang teknologi, tetapi juga oleh peningkatan investasi modal yang pesat di industri teknologi mutakhir ini.

Sejumlah startup dan perusahaan mapan di bidang robotik (termasuk perusahaan yang mengembangkan teknologi drone dan automation) berkiprah di kota ini. Di antaranya, Universal Robots, Mobile Industrial Robots, OnRobot, dan Nordbo Robotics.

Riset dan pengembangan teknologi robotik di kota ini juga didukung oleh dunia riset/kampus, terutama dengan peran aktif SDU, the University of Southern Denmark. Perkembangan seperti itu membuat Odense disejajarkan dengan sejumlah kota-kota yang menjadi robot hotspots di dunia, seperti Silicon Valley, Boston, dan Munich.

Denmark Open Odense. Foto VisitOdense Linkedin

“Alasan mengapa Odense saat ini berada dalam liga yang sama dengan robot hotspots global adalah kemampuannya melahirkan sejumlah startup yang sukses,” kata Mikkel Christoffersen, CEO Odense Robotics. “Kota ini memiliki ekosistem unik yang membantu para startup untuk berinovasi dan bertumbuh,” katanya lagi.

Christofferson menyebutkan, dengan begitu banyak startup kuat yang dilahirkan di Odense, tampaknya masa depan industri robotik Denmark sangat menjanjikan.

Odense kini dikenal di industri ini sebagai the world’s cobot capital. Sejumlah perusahaan robotik ternama –seperti yang sudah disebut di atas—bekerjasama dengan SDU, untuk fokus mengembangkan cabang-cabang khusus dari industri robot, dan robot-robot itu dibangun untuk bekerjasama erat dengan manusia. Perusahaan-perusahaan tersebut, didukung oleh Odense Robotic, membentuk the National Robot Cluster atau Odense Robotic Hub di Denmark, yang hingga saat ini melibatkan lebih dari 400 perusahaan dan mempekerjakan sekitar 15 ribu orang.

Revolusi robotik memang sudah berjalan di Odense. Selain itu, penggunaan robot juga dapat dilihat dalam sejumlah aktivitas sehari-hari. Pemerintah Odense Municipality menjadi fasilitator dari revolusi baru ini.

Langkah ini juga didukung oleh berbagai perusahaan robotik –masing-masing mengembangkan kompetensi tersendiri. Di antaranya, ada Aris Robotics, perusahaan startup yang fokus mendesain sistem otomasi untuk memilah awal (presorting) sampah dari konsumen. Seperti diketahui, Denmark juga sudah menyatakan misinya untuk menjalankan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Lalu, ada Autonomous Units, perusahaan yang fokus mengembangkan robot-robot yang membantu mengotomasi solusi logistik di berbagai industri. Misalnya, ada robot-robot yang berkeliling area rumah sakit, supermarket, sekolah, pusat pelayanan publik, dan lembaga-lembaga lainnya; robot-robot ini membantu petugas setempat. Di masa pandemi Covid-19, ambil contoh, robot-robot ini mendistribusikan hand sanitizer untuk membantu pengunjung atau warga tetap aman.

Ada pula perusahaan bernama Coalescent Mobile Robotics, yang belum lama ini menutup putaran seed funding, yang mendesain dan memasarkan AMR (autonomous mobile robots) untuk membantu perusahaan ritel. Robot-robot ini dapat menyederhanakan proses transportasi dalam toko (in-store transportation), pemenuhan order (order fulfilment), restocking, dan sebagainya.

Solusi seperti itu misalnya dapat dilihat di jaringan supermarket Bilka. Di supermarket ini, karyawan dan pelanggan dapat berinteraksi dengan robot-robot bergerak ini.

Nama menarik lainnya adalah Nordbo Robotics, perusahaan yang menciptakan software untuk robot yang mengerjakan surface processing dan surface quality inspection. Nordbo sudah membantu banyak perusahaan, termasuk raksasa bisnis pembuat pesawat, Boeing.

Tak kalah menariknya, ada QuadSAT. Perusahaan yang mengembangkan solusi pengujian dan pemantauan antena berbasis drone untuk industri satelit, broadcasting, wireless, dan pertahanan.

Pendeknya, salah satu tempat di dunia yang memungkinkan perusahaan robotik dapat memulai hidupnya, menghimpun pendanaan, dan berkembang, adalah Odense Robotic Hub.

Odense Robotic Hub. startupodense.com

“Teknologi robotik secara fundamental dapat mengubah masyarakat kita,” ujar Prof. Christian Schleete dari SDU. Salah satu yang paling relevan, menurutnya, adalah ketika terkait dengan urusan keberlanjutan (sustainability). Sebagai contoh, teknologi ini dapat membantu proses transisi hijau (green transition).

Di Center for Large Structure Production, pihak SDU bekerjasama dengan sejumlah perusahaan lokal di bangunan bekas dok kapal. Mereka mengeksplorasi bagaimana mempercepat proses produksi energi hijau dengan memanfaatkan turbin angin, yang hingga saat ini banyak tergantung pada tenaga manusia.

Bidang riset lainnya yang juga menarik ialah pemanfaatan drone. Sebagai contoh, perangkat teknologi ini dapat digunakan untuk menginspeksi turbin angin, yang sebelumnya sangat sulit. Drone pun dapat dimanfaatkan untuk mengantarkan obat-obatan dan test kit di antara pasien dan rumah sakit. Tak kalah menariknya, drone berperan penting dalam mengoptimalkan bidang pertanian.

Bagi para pegiat bisnis robotik di Eropa, the Odense Robotics Hub sudah dianggap sebagai salah satu tempat di mana perusahaan dapat belajar dan menumbuhkan bisnisnya, termasuk menghimpun pendanaan. Pasalnya, the Odense Robotic Hub bukan hanya memberikan arahan kepada kalangan startup yang prospektif. Namun, juga memberikan akses ke laboratorium dan fasilitas uji canggih dari the Danish Technological Institute.

Program ini berjalan cukup kuat. Apalagi, Pemerintahan Odense Municipality percaya dengan potensi pertumbuhan industri startup yang berkembang ini. Menurut Peter Rahbaek Juhl, sang Walikota Odense, kotanya siap melakukan perjalanan panjang di bidang pengembangan startup ini.

“Odense adalah kota yang tepat, di mana raksasa teknologi dan startup hidup berdampingan, dan semua perusahaan dapat belajar satu sama lain dan tumbuh bersama, dan mengembangkan koeksistensi mereka,” kata Juhl. Tampaknya memang tak mudah mencari tempat dengan infrastruktur yang mendukung dan mengembangkan usaha-usaha di bidang teknologi, sebagaimana disediakan Odense.

Di lingkungan industri teknologi, kerjasama di antara berbagai sektor dipandang sebagai faktor penting, bahkan menjadi landasan inovasi. Kalangan bisnis dan akademisi tampaknya cukup terjalin erat di Odense. Hasil riset tidak lagi hanya dipaparkan di ruang kelas atau lab, tapi juga diterapkan di dunia nyata. Sebagai contoh, hubungan simbiosis antara akademisi dan industri robotik adalah Nordbo Robotics, yang didirikan oleh dua alumni dari the Maersk McKinney Institute SDU.

Hal yang menarik, para entrepreneur bidang teknologi di Odense ini juga tak enggan untuk saling mendukung. Mereka yang sudah sukses di bidang robotik mau berbagi pengalaman dan keahliannya dengan kalangan startup di Odense, misalnya dengan bergabung sebagai anggota Board. Misalnya, ada nama Esben Ostergaard, pendiri Universal Robots, yang sering menjadi bagian dari Board yang mengawasi potensi pertumbuhan bisnis Nordbo. (*)


Sekilas Profil Odense

Odense berada di wilayah selatan Denmark. Sebagai “city” (City of Odense atau kawasan “urban”), berdiri tahun 988 dengan luasan 79,30 km2 dan populasi pada 2023 sebanyak 182.387 jiwa. Adapun sebagai “municipality” (Odense Municipality), luasannya 305,6 km2, dengan populasi 207.762 jiwa pada 2023. Kota dengan ketinggian rata-rata 13 m dpl ini berjarak 167 km arah barat daya Copenhagen, Ibukota Denmark.

Municipality” adalah kawasan administratif yang tidak hanya melayani “the city” , tapi juga kawasan suburban dan perkampungan. Sejak 2017, posisi Wali Kota Odense (the Mayor of Odense) dijabat oleh Peter Rahbaek Juel, yang menggantikan Anker Boye ‒keduanya dari the Social Democratic Party, Denmark.

The City of Odense merupakan kota terbesar di Pulau Funen, dan merupakan kota terbesar ketiga di Denmark, setelah Copenhagen dan Aarhus.

Odense dikenal sebagai kota kelahiran pengarang cerita dongeng legendaris, Hans Christian Andersen, yang lahir di the City of Odense pada 1805 dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di sana. Daerah ini sudah dihuni penduduk selama lebih dari 4.000 tahun, walaupun nama Odense baru disebut sejak tahun 988.

Dalam catatan sejarah, Canute IV of Denmark, yang dianggap sebagai Raja Viking terakhir, dibunuh oleh kawanan petani pemberontak di St Alban’s Priory Odense pada 10 Juli 1086. Odense tumbuh menjadi pusat perdagangan di era Abad Pertengahan, antara lain dengan dibangunnya Odense Palance (didirikan oleh King Frederik IV pada 1700-an) dan the Port of Odense.

Odense pernah punya salah satu menara tertinggi di Eropa, yakni Odinstarnet yang dibangun tahun 1935, tapi dihancurkan tentara Nazi pada Perang Dunia II. Adapun pusat penelitian dan pendidikan tinggi terkemuka di kota ini, yakni the University of Southern Denmark (biasa disebut SDU), didirikan pada 1966.

Dewasa ini, the City of Odense merupakan kota dengan distrik perbelanjaan terkemuka dengan beragam tokonya. Beberapa perusahaan besar juga bermarkas di kota ini, seperti Albani Brewery dan GASA (distributor besar produk hasil pertanian), serta sejumlah perusahaan teknologi.

The City of Odense merupakan rumah bagi bangunan/fasilitas penting, seperti Odense Palace, Odense Theatre, Odense Symphony Orchestra, dan Hans Christian Andersen Museum. Untuk transportasinya, kawasan ini dilayani Hans Christian Airport dan Odense Station.


Sumber: Wikipedia.org

“Odense adalah kota yang tepat bagi raksasa teknologi dan startup untuk hidup berdampingan, dan semua perusahaan dapat belajar satu sama lain dan tumbuh bersama.” Peter Rachbaek Juhl, Wali Kota Odense- “Alasan mengapa Odense saat ini berada dalam liga yang sama dengan robot hotspots global adalah kemampuannya melahirkan sejumlah startup yang sukses.” Mikkel Christoffersen, CEO Odense Robotics- “Teknologi robotik secara fundamental dapat mengubah masyarakat kita.” Prof. Christian Schleete dari the University of Southern Denmark

Joko Sugiarsono

Riset: Armiadi M. (bahan dari berbagai sumber)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved