Best CEO

Rakhmad Tunggal Afifuddin, Pimpin Finnet Menuju Bisnis Non-Captive dan Bermargin Tinggi

Rakhmad Tunggal Afifuddin, Pimpin Finnet Menuju Bisnis Non-Captive dan Bermargin Tinggi
Rakhmad Tunggal Afifuddin, CEO Finnet

Adakah orang yang tidak kenal dan tak membutuhkan aplikasi WhatsApp (WA) saat ini? Rasanya sulit menemukan orang seperti itu. Kebanyakan kita, tua-muda, dari kalangan profesional atau bukan, sangat memerlukan aplikasi over the top (OTT) ini, baik untuk bertukar pesan maupun menelepon.

Kendati begitu, makin populernya layanan WA di kalangan masyarakat telah memusingkan kalangan operator layanan telekomunikasi. Maklumlah, perusahaan-perusahaan ini ‒yang selama bertahun-tahun amat mengandalkan pemasukan dari layanan telepon (voice)– sangat terdisrupsi dengan kehadiran aplikasi WA, dan kehilangan pasar (revenue) yang amat besar.

Dampaknya juga dirasakan perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar perusahaan telekomunikasi tersebut. Antara lain, PT Finnet Indonesia.

Menurut Rakhmad Tunggal Afifuddin, CEO Finnet, perusahaannya menghadapi risiko penurunan enterprise value lantaran industri telekomunikasi (telko) yang menjadi captive market-nya mengalami situasi saturasi (kejenuhan) dan terdisrupsi kehadiran p-para pemain OTT seperti WA.

Perlu diketahui, Finnet merupakan perusahaan berbasis teknologi yang bergerak di bidang layanan keuangan digital, yang saat ini sudah memiliki 11 lisensi dari Bank Indonesia dan lembaga persepsi lainnya. Portfolio Mix Finnet masih didominasi oleh layanan payment point online banking dan voucer pre-paid dari telko (terutama dari captive market Telkom Group) dengan kontribusi mencapai 99,97%, yang menurut Rakhmad bermargin rendah.

Finnet juga punya portofolio bisnis online payment solution (OPS), dengan produk Finpay Payment Gateway, Finpay Remittance, dan Finpay Money. Hanya saja, kata Rakhmat, portofolio bisnis OPS ini masih dalam tahap pengembangan kematangannya, sehingga pangsa pasar Finnet masih relatif rendah dibandingkan kompetitor. Kontribusi portofolio OPS juga masih relatif rendah dibandingkan portofolio lainnya.

“Dengan perlakuan yang baik dan manusiawi kepada karyawan, saya yakin bisa membangun trust pada karyawan; dan saya pun mengharapkan karyawan akan memberlakukan pelanggannya dengan cara yang terbaik.” Rakhmad Tunggal Afifuddin, CEO PT Finnet Indonesia

Dengan demikian, menurut sang CEO, tantangan yang dihadapi pihaknya ialah meningkatkan pangsa pasar dan kontribusi bisnis OPS yang sesungguhnya memiliki margin jauh lebih tinggi dibandingkan bisnis voucer. Selain itu, juga ada tantangan untuk meningkatkan penetrasi pasar non-captive (pasar eksternal), sehingga tidak perlu tergantung pada satu pelanggan besar saja demi menjaga keberlanjutan bisnis.

Di samping tantangan tersebut, pihaknya juga menemukan sejumlah peluang baru selama 1-2 tahun terakhir ‒sebagian telah menjadi revenue driver baru bagi Finnet. Di antaranya, peluang memberikan layanan payment gateway untuk Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM. Finnet dipercaya untuk membantu kelancaran pembayaran Visa on Arrival bagi wisatawan mancanegara.

Juga peluang layanan monitoring pembayaran pajak daerah para wajib pajak, bekerjasama dengan pemkot/pemkab, untuk dapat membantu peningkatan PAD daerah. Lalu, ada peluang layanan credit scoring bagi pelaku usaha digital yang membutuhkan profil data calon nasabahnya, seperti PNM dan perusahaan P2P lending.

Ada pula layanan pembayaran kepada banyak pihak secara bersamaan dengan biaya lebih murah, yang sudah dieksekusi dengan diluncurkannya produk FinpayKu. Dan, beberapa peluang bisnis lainnya.

Dengan adanya tantangan dan peluang tersebut, Finnet menjalankan strategi bisnis multidimensi. Pertama, dari segi perencanaan, membuat perencanaan yang matang tapi achievable. Untuk eksekusinya, pihaknya menerapkan mekanisme 4 DX ( 4 Disciplines of Execution).

Kedua, dari segi manajemen, Finnet menjalankan transformasi untuk menjadi agile company dan ambidextrous company (menjalankan pendekatan eksploitasi dan eksplorasi secara bersamaan). Ketiga, dari segi SDM (people), menyiapkan orang-orang yang kompeten dan membangun budaya perusahaan yang sehat dan produktif.

Keempat, dari segi teknologi, mengimplementasikan digitalisasi proses bisnis melalui pembangunan sistem CRM, business intelligence tools, dan sistem monitoring kinerja perusahaan. Dan kelima, dari sisi produk, mengembangkan inovasi Digital Touch Point untuk meningkatkan customer experience dan penjualan.

Dari sisi leadership, menurut Rakhmad, dirinya sebagai CEO harus mampu menjadi role model yang berintegritas dan transparan dalam menjalankan semua strategi perusahaan. Ia pun berupaya menyempatkan hadir dan berkomunikasi dengan banyak pihak, tidak hanya pada acara formal perusahaan, tapi juga di acara informal, agar bisa menyampaikan visi-misi dan tujuan perusahaan.

Rakhmad mengaku berupaya menjadi pendengar yang baik dan memberikan motivasi kepada karyawan, serta memberlakukan merit system. “Dengan perlakuan yang baik dan manusiawi pada karyawan, saya yakin bisa membangun trust pada karyawan dan saya pun mengharapkan karyawan akan memberlakukan pelanggannya dengan cara yang terbaik,” katanya tandas.

Dengan menerapkan aneka strategi di atas, yang dieksekusi dengan pendekatan 4 DX, menurut Rakhmad, pihaknya sudah mencapai hasil yang baik, secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, revenue perusahaan berhasil tumbuh positif, dari Rp 17,7 triliun di tahun 2021 menjadi Rp 20,6 triliun pada 2023, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) 8%.

Laba bersih juga naik dari Rp 111 miliar di 2021 menjadi Rp 133 miliar pada 2023 (CAGR 9%). Yang patut dicatat juga, revenue portofolio bisnis OPS meningkat dari hanya Rp 42 miliar di 2021 menjadi Rp 76 miliar di 2023 (CAGR 34%). Lalu, Finnet Gross Transaction Value yang dikelola tumbuh 4%, dari Rp 89 triliun (2021) menjadi Rp 94 triliun (2023).

Dari sisi layanan pelanggan, Net Promotor Score (NPS) Finnet meningkat dari skor 80 (2021) menjadi 81,8 (2023). “Ini menjadi modal yang sangat penting bagi Finnet untuk tetap dipercaya pelanggan di masa depan,” ujarnya.

Secara kualitatif, di tahun 2023 (seperti tahun sebelumnya) Finnet berhasil meraih sejumlah penghargaan. Antara lain, “Best of the Best Business Unit Subsidiaries Telkom Group” karena kinerja 2022 (full year) Finnet yang baik, yang diserahkan oleh Direktur Enterprise PT Telkom Tbk.

Perusahaan ini juga berhasil meraih dua medali dari ajang International Business Award, serta penghargaan LKPM kategori Tertib/Tepat Waktu. Tak kalah pentingnya, dalam hal penerapan GCG, Finnet meriah predikat “Trusted Company” berdasarkan penilaian Corporate Governance Perception Index (tahun penilaian 2022, yang diberikan SWA dan IICG.

“Finnet telah menetapkan target 2024 akan tumbuh dibandingkan tahun 2023,” kata Rakhmad. “Kami berkomitmen untuk memperbaiki margin melalui perbaikan skema model bisnis dan preferensi pengembangan proyek bermargin tinggi,” ungkapnya. (*)

Joko Sugiarsono & Darandono


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved