Technology

Adaptasi dan Inovasi Acer Hadapi Tantangan Selama Dua Setengah Dekade

Adaptasi dan Inovasi Acer Hadapi Tantangan Selama Dua Setengah Dekade
Chief Operating Officer Acer Indonesia Leny Ng (Foto Ubaidillah/Swa)

Adaptasi dan inovasi bisnis bagi sebuah perusahaan adalah keniscayaan, terlebih perusahaan yang bergerak di lini bisnis perangkat teknologi dan informasi. Lini bisnis ini terkenal dengan perkembangan teknologi dan tuntutan konsumen yang sangat tinggi dan cepat berubah.

Dulu, konsumen tidak memiliki tuntutan tinggi akan sebuah perangkat, di samping teknologi yang belum banyak perubahan, juga kebutuhan yang belum tinggi seperti saat ini. Era modern sekarang, konsumen menginginkan perangkat dengan teknologi terbaru, dapat memudahkan aktivitas dan memiliki performa tinggi. Produsen berlomba-lomba memenuhi kebutuhan tersebut.

Kondisi ini diamini Chief Operating Officer Acer Indonesia Leny Ng. Dia mengungkapkan bahwa selama 2,5 dekade Acer beroperasi, perubahan itu nyata. Banyak pemain baru di industri yang sama muncul melayani kebutuhan konsumen yang semakin beragam.

Menurut Leny, tantangan terbesar ada pada pergeseran teknologi dan pergeseran perilaku konsumen. Teknologi baru hampir setiap tahun muncul, dan menuntut produsen berinovasi. Adanya perkembangan teknologi juga sejalan dengan keinginan konsumen yang semakin lengkap dan berbeda-beda.

“Apakah ada pergeseran perilaku konsumen? Iya. Untuk itu, Acer Indonesia melayani pelanggan dari semua lini mulai dari individu, korporasi, pendidikan, hingga institusi pemerintahan, jadi meluas,” ucap Leny Ng dalam perayaan 25 tahun Acer Indonesia di Jakarta.

Leny mengaku perusahaan menjawab tantangan dengan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Rekam jejak Acer selalu berpedoman dari kebutuhan pelanggan yang beragam dengan memberikan sentuhan kreativitas yang sesuai melalui rangkaian produk yang beragam. Diawali dengan beragam perangkat komputasi seperti laptop, desktop, proyektor, monitor, hingga perangkat lain untuk pelanggan institusi dan korporasi seperti server dan interactive flat panel.

Tantangan selanjutnya yakni pandemi Covid-19 selama lebih kurang tiga tahun. Adanya pandemi mengubah perilaku konsumen untuk menggunakan teknologi semakin cepat. “Acer bisa melewati itu karena melakukan transformasi mengikuti perubahan itu. Apalagi core (bisnis) Acer juga di teknologi,” katanya.

Selanjutnya untuk menjawab kebutuhan konsumen baik di pasar domestik maupun internasional, perusahaan telah membuat Acer Indonesia Manufacturing (AMI). AMI telah menghadirkan berbagai lini produk teknologi informasi (TI), mulai dari laptop, desktop, all-in-one PC, mini PC, projector, server dan monitor. Di masa mendatang, AMI menargetkan akan membuat lini produk baru yang menunjang kebutuhan smart office dan sektor pendidikan seperti interactive flat panel (IFP).

Dari sinilah inovasi produk Acer laptop gaming Nitro V15 Special Edition lahir, produk edisi spesial menyambut 25 tahun kehadiran Acer di Indonesia. Laptop ini dilengkapi dengan prosesor Intel Core i9 Generasi ke-13 dan NVIDIA GeForce RTX 4060 dan dibanderol dengan harga di bawah Rp20 juta.

Nitro V15 Special Edition hadir dengan panel real IPS 15.6 inchi dengan refresh rate 144Hz, aspek rasio 16:9 serta screen body ratio mencapai 82,64%. Untuk menjaga perangkat laptop tetap dingin saat digunakan, Nitro V15 Special Edition sudah dilengkapi dua kipas ganda sehingga pembuangan maksimal dan performa tetap stabil dan device akan lebih awet. Sementara itu untuk konektivitas, Nitro V15 Special Edition sudah dilengkapi dengan dukungan port Wi-Fi 6, Gigabit Ethernet, dan Thunderbolt 4.

Konsultan Bisnis Yuswohady menjelaskan bahwa inovasi dalam sebuah bisnis itu adalah suatu keniscayaan, namun tidak semua perusahaan bisa melakukannya. Menurutnya, inovasi itu hal yang panjang dan membutuhkan daya tahan yang tinggi.

"Inovasi itu membutuhkan daya dan upaya yang tidak sedikit, baik dari sisi biaya maupun SDM. Tidak banyak perusahaan yang memiliki daya tahan dalam berinovasi, makannya banyak yang gugur di tengah jalan. Perusahaan tidak akan berhenti berinovasi sebelum menemukan formula 20% dan 80%," ujarnya kepada SWA Online via telepon kemarin.

Formula 20 % dan 80% merupakan prinsip Pareto yang sering digunakan dalam dunia ekonomi, manajemen dan bisnis. Yuswo menggunakan prinsip itu untuk menggambarkan perjalanan perusaahn dalam berinovasi hingga menemukan formula 20% dan 80%, 20% untuk cost dan 80% untuk profit.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved