Technology

Holding Ultra Mikro Pacu Digitalisasi Proses Bisnis Demi Memanjakan Nasabah Ultra Mikro

Sunarso, Direktur Utama BRI. (Foto : Istimewa).

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) memutakhirkan proses operasional, merilis aplikasi digital, dan bersinergi dengan induk usahanya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, untuk memudahkan nasabah wong cilik mengakses beragam pembiayaan. Setahap demi setahap, manajemen perusahaan pembiayaan ultramikro ini mempraktikkan serangkaian perubahan, antara lain sinergi bisnis dengan anggota holding Ultra Mikro (UMi) BUMN lainnya, yaitu BRI dan PT Pegadaian. PNM pada 2024 ini menargetkan penyaluran pembiayaan ke pelaku usaha ultra mikro senilai Rp 75 triliun.

Raden Ali Aprihadi, Kepala Divisi Transformasi PNM, mengisahkan transformasi perusahaannya yang dilakukan setahap demi setahap dan pascabergabung di holding UMi. PNM, yang beroperasi sejak 1998, menyalurkan pembiayaan ultramikro ke nasabah melalui perbankan dan perusahaan jasa keuangan lainnya. Mekanisme penyaluran ini disebut channeling.

Periode selanjutnya, pada 2008 PNM mengkreasikan ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro). Pada tahap ini, PNM menyalurkan pembiayaan langsung kepada nasabah atau tanpa perantara channeling itu. Mekanisme penyaluran ini dibarengi perubahan operasional dan interaksi account officer (AO) PNM ke nasabah.

Praktik sejenis dilanjutkan PNM tatkala meluncurkan pembiayaan berjenama Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) pada 2015. Mekaar adalah produk pembiayaan berbasis group lending (pembiayaan kolektif). Ali, sapaan akrab Raden Ali, menjabarkan strategi PNM dalam mengimplementasikan Mekaar. Yakni, dengan mempelajari mekanisme group lending di India dan Bangladesh. Berikutnya, PNM berhasil meningkatkan jumlah nasabah Mekaar.

Kini, pembiayaan Mekaar menjelma sebagai produk andalan PNM. Pada 2022, PNM telah menyalurkan pembiayaan Mekaar sebesar Rp 62,34 triliun, meningkat 34,23% dari Rp 46,44 triliun di 2021. Untuk memitigasi risiko kredit macet, PNM rutin mendampingi nasabah yang sebagian besar perempuan. Nasabah ini dikumpulkan dalam satu kelompok untuk saling mendukung dengan anggota lain yang meminjam dana ke PNM.

Para AO PNM rajin mendampingi nasabah untuk menggunakan pinjaman sebagai kredit produktif atau modal usaha. AO rutin mengadakan pertemuan kelompok mingguan, pelatihan kapasitas usaha, dan pendampingan nasabah. Jumlah nasabah pun kian gemuk dari tahun ke tahun.

Ali mengatakan PNM mencermati pertumbuhan nasabahnya yang kemudian direspons oleh manajemen perusahaan ini dengan memacu digitalisasi. “Proses bisnis kami transformasikan menjadi digital dari manual. Pada 2022, kami membuat aplikasi PNM Digi Karyawan untuk karyawan PNM dan aplikasi PNM Digi yang digunakan oleh nasabah PNM,” tutur Ali kepada Majalah SWA seperti ditulis SWAonline di Jakarta, Sabtu (23/3/2024). Pelan-pelan, Ali dkk. menyampaikan literasi digital agar nasabah PNM kian melek teknologi.

Transformasi digital itu, menurut Ali, merupakan bagian dari program PNM yang mengubah proses operasional dan bisnis. Mulai dari melakukan digitalisasi dalam memproses kredit, menghimpun pendanaan dari perbankan (sebelumnya dari pasar modal) sehingga biayanya (cost of fund) turun menjadi 6% dari 9%, serta merestrukturisasi organisasi.

Digitalisasi & Kreasikan Aplikasi

Dia mencontohkan hasil transformasi, yaitu AO beralih dari manual ke aplikasi untuk memproses pembiayaan nasabah Mekaar. ”Kami menciptakan aplikasi Mekaar Digi, sehingga mempercepat proses pengisian data, service level agreement, hingga proses permohonan kredit nasabah,” katanya. Tadinya, para AO mencatat di kertas. Untuk transformasi organisasi, Ali menggambarkan perubahan struktur yang beralih ke horizontal dari sebelumnya vertikal. Gaya seperti ini meningkatkan kelincahan dan mempercepat pengambilan keputusan. “Dan, organisasi yang tadinya bersifat sentralistis, sekarang menjadi desentralisasi. Jadi, akan lebih banyak kewenangan untuk mengambil keputusan oleh karyawan PNM di lapangan,” kata pria yang pernah berkarier di BRI selama 15 tahun itu.

Pada kesempatan terpisah, Arief Mulyadi, Direktur Utama PNM, menjelaskan PNM telah melayani 19,7 juta nasabah dan 15,2 juta di antaranya aktif menjadi nasabah PNM Mekaar. Jumlah nasabah PNM tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 sebanyak 7,8 juta.Arief juga merincikan PNM melalui program Mekaar telah tersebar di 35 provinsi, 432 kabupaten dan 6.018 kecamatan.

Arief menyampaikan bergabungnya PNM dalam sinergi Holding UMi bersama BRI dan Pegadaian juga telah mendorong hingga 1,2 juta nasabah naik kelas. “Kami sangat terbantu untuk menaikkan kelas usaha ultra mikro menjadi naik kelas dengan bergabungnya kami pada sinergi Holding Ultra Mikro. PNM ini yang paling muda, BRI dan Pegadaian adalah kakak-kakak kami yang sangat membantu kami menaikkan kelas usaha ultra mikro yang kami dampingi itu,” tutur Arief pada siaran pers pada Senin, 29 Januari 2024.

Holding UMi memperluas akses layanan keuangan kepada masyarakat mikro dan ultra mikro di Indonesia dan berdampak positif dan menjadi sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan bagi BRI Group. Hal ini disampaikan Direktur Utama BRI, Sunarso dan Kartika Wirjoatmodjo, Wakil Menteri BUMN, pada kegiatan BRI Research Institute bertajuk How Ultra Micro Holding Connects Finance to Millions in Indonesia di Jakarta pada 12 Januari 2024.

Sunarso menyampaikan Holding UMi telah menjadi sumber pertumbuhan baru karena BRI memiliki strategi mendorong nasabah untuk naik kelas, memperbesar customer base, dan melayani masyarakat dengan biaya yang efisien. “Kami memiliki journey pemberdayaan dan peningkatan kapabilitas nasabah UMi, yakni dengan tiga tahapan empower, integrate dan upgrade,” ujar Sunarso. Pertama, empower dilakukan oleh PNM dengan cara memberdayakan usaha kelompok masyarakat pra-sejahtera agar dapat menjadi wirausaha yang mandiri.

Kemudian kedua, integrate yang seiring dengan perkembangan usaha, kebutuhan pendanaan tambahan dapat dilayani oleh BRI, seperti KUR Mikro, dan Pegadaian juga bisa melayani untuk produk gadai. Ketiga, yakni upgrade untuk ultra mikro yang sudah naik kelas ke segmen mikro. Mereka dapat dilayani oleh BRI melalui produk kredit komersial seperti Kupedes.

Pada kesempatan ini, Kartika mengemukakan tiga aspek pemberdayaan untuk membangkitkan masyarakat UMi masuk ke akses financing dan sustainable. Aspek pertama adalah menurunkan operating cost dengan cara membangun jaringan agen. Kedua perluasan penjaminan, ketiga adalah pembinaan.“Ketiganya ini penting supaya masyarakat punya kompetensi berusaha dengan benar, mulai dari bagaimana packaging produk, logistic, dan mengelola keuangannya. Ini jadi road pembinaan Holding UMi. Seperti Account Officer-nya (AO) Mekaar dengan ibu-ibu pra-sejahtera yang dilakukan pembinaan. Jadi tidak hanya diberikan uang atau pinjaman, tapi perlu dibina juga supaya mereka tahu bagaimana cara berusaha dan mengelola cash flow-nya dengan benar,” ungkap Kartika.

Tiga aspek tersebut harus dilakukan melalui jaringan yang besar. Jaringan ini bukan hanya dari BRI melalui unit desanya, tetapi juga melalui PNM dengan para AO Mekaar-nya yang sudah mencapai sekitar 50 ribu dan Pegadaian yang memiliki banyak cabang, serta diperkuat dengan AgenBRILink. “Ekosistem ini kita bangun bersama. Ketiganya masuk dalam konsep Holding UMi,” ucap Kartika.

Holding UMi menargetkan dapat melayani masyarakat yang belum mendapatkan layanan keuangan formal (unbankable) hingga 45 juta pada 2024 ini. Kemudian, Holding UMi menyalurkan kredit dengan memanfaatkan outlet fisik, channel digital, dan AgenBRILink. Selain itu, ketiganya juga punya jaringan kantor bersama yang bernama Senyum (Sentra Layanan Ultra Mikro).

Berikutnya, Ali menyampaikan, potensi pertumbuhan PNM masih besar. Sebab, nasabah di daerah pelosok belum tersentuh platform digital atau perusahaan teknologi finansial peer-to-peer lending alias pinjol. PNM berikhtiar untuk mengakselerasi literasi keuangan dan digital nasabah di daerah. Untuk itu, PNM bersinergi dengan BRI dan Pegadaian untuk menyodorkan produk-produk pembiayaan ultra mikro yang sesuai dengan nasabah. Kepiawaian PMN membaurkan platform digitalisasi dan konvensional serta kolaborasi bisnis itu berhasil menjaga ekspektasi dan kepercayaan nasabah.

BRI meyakini digitalisasi menjadi salah satu pondasi transformasi digital. Sepanjang tahun 2023, tercatat sebesar 99% dari total transaksi BRI dilakukan melalui kanal digital.Direktur Bisnis Mikro BRI Supari juga mengungkapkan bahwa pemanfaatan teknologi digital mampu menjangkau pelaku usaha secara masif untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas pelaku usaha, efisiensi operasional hingga membukakan akses pasar yang lebih luas.“Pendekatan holistik program pemberdayaan BRI disesuaikan dengan kebutuhan UMKM menjadi kunci penting dalam mengurai kompleksnya permasalahan pengembangan usaha mikro,” ujar Supari.

Melalui percepatan digitalisasi, proses literasi mampu menjangkau lebih luas kepada pelaku usaha mikro dengan memberi banyak manfaat, termasuk efisiensi operasional, meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan daya saing.

Hingga akhir tahun 2023, BRI sebagai bank yang terus berkomitmen kepada UMKM telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar, integrasi hingga interkoneksi. Konsep revitalisasi tenaga pemasar mikro (mantri) yang menjadi financial advisor dengan konsep penguasaan ekosistem suatu wilayah menjadi backbone pelaksanaan.

Keberagaman jenis pemberdayaan yang BRI miliki menjadi bukti nyata komitmen perusahaan untuk selalu memberikan solusi terhadap pengembangan ekosistem UMKM, khususnya segmen mikro dan ultra mikro. Pada level ultra mikro contohnya, BRI melalui aplikasi Senyum Mobile itu membentuk ekosistem layanan yang terintegrasi. Selain itu, dalam mendorong digitalisasi kelompok ultra mikro juga dikembangan AgenBRILink Mekaar yang mampu mendorong inklusi dan literasi keuangan digital pada segmen masyarakat ultra mikro.“BRI memiliki konsep pemberdayaan UMKM secara end to end, yakni pemberdayaan dari fase dasar hingga pengembangan platform berbasis digital yang mampu menjadi solusi pengembangan ekosistem UMKM. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa UMKM mempunyai daya saing dan mampu beradaptasi dengan pasar,” ungkap Supari.

Adapun, hasil hasil dari holding UMi ini dapat menjangkau nasabah kredit 44 juta UMKM, dan 173 juta nasabah simpanan atau tabungan. BRI, selaku komandan holding UMi, menetapkan pembagian dividen yang diputuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di 1 Maret 2024. Perseroan membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp 48,10 triliun atau dividen per saham sebesar Rp 319, setara dengan dividend payout ratio 80,04% dari laba bersih pada 2023. Adapun dividen yang dibagikan BRI tersebut mengalami peningkatan sebesar 10,59% dibandingkan nominal yang dibayarkan tahun 2023 sebesar Rp 43,49 triliun.

Dividen senilai Rp 48,10 triliun tersebut sudah termasuk jumlah dividen interim yang telah dibagikan kepada pemegang saham pada 18 Januari 2024 lalu yang senilai Rp 12,67 triliun atau sebesar Rp 84 per saham. Dengan demikian, sisa jumlah dividen tunai yang akan dibayarkan kepada pemegang saham sekurang-kurangnya sebesar Rp 35,43 triliun atau sebesar Rp 235/saham. Adapun, dividen yang dibagikan ke Negara Republik Indonesia atas kepemilikan sebesar 53,19% saham, maka BRI akan menyetorkan kurang lebih Rp 25,71 triliun kepada Rekening Kas Umum Negara.

Sunarso mengungkapkan pembagian dividen ini merupakan bentuk komitmen BRI dalam memberikan economic value kepada pemegang saham. Melalui strategi dan inisiatif yang didukung pengelolaan modal yang baik, pihaknya optimistis menciptakan nilai dan memberikan return yang optimal kepada pemegang saham. “Ini adalah bukti nyata bahwa badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki fungsi agent of development dan value creator dapat menjalankan peran economic dan social value secara simultan. Melalui pembayaran pajak dan dividen, laba tersebut akan kembali ke negara sebagai pemegang saham mayoritas. Selanjutnya, laba ini digunakan untuk kepentingan rakyat Indonesia melalui berbagai program pemerintah,” ujar Sunarso menjabarkan. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved