Marketing

Aldo Johan Susanto, Generasi Ke-2 Nayati Dorong Inovasi dan Terobosan Bisnis Peralatan Dapur

Aldo Johan Susanto, Generasi Ke-2 Nayati Dorong Inovasi dan Terobosan Bisnis Peralatan Dapur
Aldo Johan Susanto, Direktur Pengembangan Bisnis Nayati.

Aldo Johan Susanto pada 2010 turun gunung untuk mengembangkan bisnis keluarganya. Mantan asisten dosen di Purdue University, Amerika Serikat, ini bergabung di PT Nayati Indonesia. Aldo mengawali karier di bagian Customer Service di perusahaan yang didirikan oleh ayahnya, Thendy Susanto, itu.

Sejak itu, Aldo memacu inovasi dan menggulirkan terobosan bisnis agar kinerja fundamental Nayati kian tumbuh dari tahun ke tahun. Oh ya, Nayati ini perusahaan atau produsen perlengkapan dapur (kitchen equipment). Perusahaan ini menjual produknya di dalam negeri dan mancanegara. Porsi penjualan domestik sebesar 65% dan ekspor 35%.

Berdasarkan data SWA, produk Nayati mudah ditemukan di dapur hotel berbintang dan restoran ternama. Tak hanya di dalam negeri, tapi hampir di seluruh penjuru dunia bisa ditemukan produk Nayati.

Jaringan hotel yang menggunakan produk Nayati, antara lain, Gumaya, Hyatt, Ibis, JW Marriot, Holiday Inn, dan Sheraton. Lalu, resto cepat saji pun tak mau ketinggalan menggunakan produk Nayati. Sebut saja, McDonald’s, KFC, Pizza Hut, Bread Talk, Starbucks, dan J.CO. Peralatan dapur Nayati juga ditemukan di kantin perusahaan kelas kakap, seperti Indofood, Djarum, Sidomuncul, dan Polytron.

Kembali ke Aldo. Kini, dia menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Nayati. Posisinya dilalui setahap demi setahap. Dia mengisahkan, sang ayah menempatkannya di bagian Pelayanan Konsumen pada akhir 2010. Tujuannya, agar Aldo bisa mengidentifikasi lebih lanjut kebutuhan konsumen Nayati.

Kemudian, pada 2011 dia pindah posisi ke bagian Product Engineering. Posisi ini diembannya selama setahun. “Kemudian, saya selama tiga tahun berada di Pengembangan Produk atau R&D. Setelah itu, sejak 2017 terlibat di export marketing dan marketing communication,” tutur lulusan S-1 Teknik Mesin Purdue University, AS (2006-2010) ini. Dan, pada 2019 dia dipercaya menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis.

Aldo mengisahkan, di tahun 2010 Nayati menjual sebagian besar produknya ke luar negeri. “Waktu itu, saya melihat bahwa produk Nayati terlalu banyak menyebar, seperti di Asia Tenggara, Eropa, India. Ini sebenarnya bagus, namun agak menantang untuk mengelolanya karena harus ada distributornya dan after sales service. Hal-hal seperti ini yang saya amati ketika bergabung ke Nayati. Sekarang, porsi ekspor hanya 35% dan sisanya di dalam negeri,” tutur bungsu dari tiga bersaudara ini.

Negara tujuan ekspor dipilih yang strategis, seperti negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa Tengah, kemudian Arab Saudi dan India. “Saat ini, kami memiliki infrastruktur dengan distributor yang andal di luar negeri itu,” ucapnya. Aldo memang ditugaskan mengembangkan bisnis, pemasaran, quality control, serta online store Nayati.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi adalah komponen untuk memproduksi peralatan dapur tersebut masih impor. Untuk itu, dia bersama tim masih menjaga kelancaran rantai pasok komponen. Namun, sejauh ini kualitas produk Nayati masih terjaga apik.

Caranya, Aldo menuturkan, berani memproduksi komponen dari sebelumnya membeli ke pemasok komponen. “Contohnya, stainless steel-nya kami olah dari awal. Kami berupaya memproduksi komponen-komponen. Saat ini, komponen yang dibuat Nayati masih 30% dari jumlah total komponen yang dibutuhkan, sedangkan yang dibeli ke pemasok 70%. Ke depannya, kami menargetkan bisa memproduksi komponen lebih dari 30%,” tuturnya.

Usaha Nayati memproduksi komponen yang diperlukan untuk produknya berhasil mengerek kapasitas produksinya. Tahun lalu, Nayati memperluas area produksi sekitar 10 ribu m2, sehingga menambah total luas lahan produksi perusahaan ini menjadi 50 ribu m2. Pegawai Nayati juga bertambah seiring dengan ekspansi produksi.

Strategi ini berdampak positif. Nayati makin atraktif memasok produknya ke konsumen ”Sektor rumah sakit, hotel, restoran pertumbuhannya pesat sejak tahun 2019. Ketika ada pandemi Covid-19, pemasaran produk Nayati memang stop, namun sudah pulih di tahun 2021. Pada tahun 2022, Nayati tumbuh lebih baik dibandingkan sebelum Covid-19 dan tahun 2023 juga tumbuh.

“Di tahun 2024 ini kami optimistis akan tumbuh lebih baik lagi,” Aldo menandaskan. Nayati memiliki produk peralatan dapur Asian cooking, Western cooking, refrigeration, dan kompor empat tungku, yang dijual di segmen bussines to bussines.

Aldo terus berupaya menggenjot penjualan produk Nayati ke konsumen baru di pasar domestik ataupun ekspor. Dia memperluas pemasaran dan penjualan di luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

”Untuk pasar ekspor, responsnya positif karena mereka melihat bahwa produk kitchen made in Indonesia juga memiliki kualitas yang bagus,” katanya. Di dalam negeri, produk Nayati diacungi jempol oleh chef ternama, antara lain Renata Moeloek dan Chris.

Terkait strategi pemasaran di dalam negeri dan luar negeri, Aldo mengatakan bahwa Nayati menerapkan pendekatan yang berbeda karena produknya ada yang kategori Asian cooking dan Western cooking. Di Eropa, produk Asian cooking-nya laris manis dibeli konsumen.

Sebaliknya, produk Western cooking banyak yang dibeli konsumen di Asia. ”Jadi, untuk pasar di Asia, strategi pemasaran Nayati lebih fokus ke Western cooking,” ujarnya.

Dia mengapresiasi karyawan Nayati yang mendukung pertumbuhan bisnis. Sebagai generasi kedua Nayati, dia juga angkat topi untuk ayahnya yang bersikap terbuka, rutin berinteraksi dengan konsumen, dan menjaga kualitas produk.

“Saya melihat kerja keras Ayah yang membangun perusahaan ini. Memang tidak mudah perjalanannya. Maka, yang saya pelajari dan terapkan dari Ayah adalah semangat pantang menyerah dan tidak boleh putus asa jika gagal, harus terus mencoba,” Aldo mengungkapkan. (*)

Sri Niken Handayani & Vicky Rachman


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved