Technology

Transformasi Digital agar Optimal Layani Kalangan UMKM

Transformasi Digital agar Optimal Layani Kalangan UMKM
Prihadiyanto, Direktur IT & Operasional hibank.

Setelah kepemilikan mayoritas sahamnya beralih ke BNI, bank yang sebelumnya bernama Bank Mayora ini melakukan rebranding menjadi hibank. Seperti apa transformasi digital yang dijalankannya agar dapat melayani kalangan UMKM secara optimal?

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah bank besar ‒baik dari kalangan bank swasta maupun bank BUMN‒ telah mengembangkan unit bank digital (digital bank). Tak terkecuali PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., yang menghadirkan PT Bank Hibank Indonesia, dengan nama merek hibank. Misi hibank ialah menyediakan layanan perbankan digital untuk mengakomodasi kebutuhan kalangan UMKM.

Kehadiran hibank diawali saat BNI mengambil alih saham mayoritas PT Bank Mayora pada 18 Mei 2022. Pada 17 Mei 2023, bank ini kemudian di-rebranding menjadi hibank, yang dimaknai oleh pemilik barunya sebagai bank digital yang membumi, sederhana, bersahabat, dan solutif bagi UMKM, sesuai dengan visinya untuk menjadi bank digital UMKM unggulan di Indonesia. Untuk mewujudkan visi tersebut, bank ini pun menjalankan langkah transformasi.

Menurut Prihadiyanto, Direktur IT & Operasional hibank, pihaknya mencanangkan transformasi model bisnis yang akan difokuskan pada pemberdayaan ekosistem UMKM melalui komunitas pilihan. Dalam hal ini, hibank ingin berperan sebagai “orkestrator UMKM” melalui pendekatan strategi hybrid, yaitu gabungan antara layanan digital dan community channel.

“Alasan kami, pasar UMKM tidak dapat dilayani dengan 100% cara digital, tapi perlu dikombinasikan dengan berbagai channel nondigital, seperti jaringan kantor cabang dan pendekatan value chain,” kata Prihadiyanto.

Untuk mendukung transformasi hibank menjadi bank UMKM dengan pendekatan komunitas dan digital, transformasi di bidang teknologi dan pengamanan siber menjadi hal yang diprioritaskan.

Prihadiyanto menjelaskan, untuk fokus pada transformasi teknologi, yang dilakukan hibank sejak tahun 2023 adalah memperkuat berbagai fungsi kunci, mencakup: technology modernization, new core banking, cloud infrastructure, enterprise architecture, cyber security, dan project management & governance.

“Fungsi-fungsi tersebut akan menunjang perluasan transaksi bervolume tinggi melalui saluran digital dan memiliki interkoneksi dengan sistem pelaporan manajemen internal dan regulatori,” ungkapnya.

Sistem manajemen yang dikembangkan berdasarkan teknologi terkini itu, diklaim Prihadiyanto, dapat mengelola transaksi perbankan dalam jumlah yang banyak, dalam waktu yang cepat, dengan tingkat keamanan tinggi, serta bersifat fleksibel atau scalable sesuai dengan kebutuhan dan pertumbuhan pasar UMKM.

Dalam proses transformasi teknologi ini, dikembangkan sejumlah aplikasi untuk mendukung pengembangan bisnis sesuai dengan kebutuhan nasabah. Antara lain, mencakup: super hi-app, Microsite, Loan Origination System, Loan Management System, Cash Management, Financial Supply Chain Management, berikut sejumlah aplikasi terkait peningkatan kepatuhan (compliance), seperti Anti-Money Laundering, e-KYC, dan Anti-Fraud System.

Sebagai bank umum konvensional yang bertransformasi menjadi bank digital, pihak manajemen hibank menyadari bahwa keamanan data menjadi sebuah keunggulan yang dicari oleh kalangan UMKM. Karena itu, ada beberapa langkah strategis yang diambil untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yaitu, implementasi teknologi keamanan yang mumpuni, implementasi protokol enkripsi yang kuat untuk melindungi data pelanggan, rekrutmen talenta-talenta berpengalaman di bidang keamanan siber, monitoring ancaman siber 24x7, kerjasama dengan tenaga ahli eksternal dan pihak independen secara berkala, edukasi ke nasabah mengenai keamanan siber, serta proteksi keamanan lainnya yang up-to-date. Manajemen bank ini juga meningkatkan kesadaran seluruh karyawan akan pentingnya menjaga keamanan data yang dimulai dari data pribadi.

Prihadiyanto menjelaskan, pada saat proses awal transformasi digital, perusahaannya melakukan asesmen atas kondisi existing infrastruktur, aplikasi, dan kapabilitas organisasi (sebagai legacy Bank Mayora). Berdasarkan rencana strategis hibank, pihak manajemen merancang kapabilitas dan arsitektur teknologi informasi yang dibutuhkan (target capability), yang kemudian dibuat rencana implementasi (implementation plan) untuk 3-4 tahun mendatang, berikut sumber daya dan investasi yang dibutuhkan.

“Pasar UMKM tidak dapat dilayani 100% dengan cara digital, tapi perlu dikombinasikan dengan berbagai channel nondigital.” Prihadiyanto, Direktur IT & Operasional hibank.

Proses penyusunan perencanaan dan pengembangan infrastruktur melibatkan beberapa pihak, yang merupakan kombinasi dari karyawan internal (termasuk experienced hires yang direkrut dan berpengalaman di bidang masing-masing) dan pihak eksternal independen dan partner teknologi yang ditunjuk. “Hal ini dilakukan, selain untuk mempercepat proses pengembangan, juga untuk mendapatkan pengalaman berharga dari perusahaan sejenis,” kata Prihadiyanto.

Transformasi dilakukan juga untuk organisasi perusahaan melalui reformasi struktur organisasi yang lebih efisien. Hal ini untuk memperkuat koordinasi antardivisi/direktorat demi mendukung visi, misi, dan strategi bank.

Dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM), hibank mengawali dengan proses mekanisme selektif yang tepat (select right). Kemudian, memfasilitasi agar karyawan berkontribusi dengan memberikan kinerja baik (perform right) dan berkembang dengan baik (develop right) untuk membentuk budaya yang kuat dan positif dalam setiap karyawan, sehingga menjadi pendorong keberhasilan pencapaian tujuan organisasi.

Menurut Prihadiyanto, hibank akan menjadi orkestrator ekosistem UMKM dalam menerapkan strategi bisnis, baik di sisi funding dan lending, dengan pendekatan ekosistem yang berbasis komunitas (community-based ecosystem). Target pasar komunitas hibank antara lain: industri (ekonomi, finansial, teknologi), asosiasi (pasar tradisional, pekerja migran), dan demografi (komunitas hobi, keluarga, residential, lifestage, sekolah).

Selain melakukan pendekatan melalui komunitas tersebut, hibank juga akan melakukan pendekatan ekosistem rantai pasok dengan beberapa perusahaan di bidang consumer goods, ritel, dan lain-lain. Ekosistem rantai pasok ini mencakup pendanaan dan kerjasama dengan pemasok (dan subpemasok), juga dengan distributor (dan subdistributor).

Upaya transformasi hibank untuk menjadi orkestrator UMKM, mencakup lima stream strategy, yakni: (1) Penguatan sumber daya manusia; (2) Pengembangan bisnis model baru dengan menjadi orkestrator UMKM; (3) Penguatan dan penyempurnaan tata kelola dan manajemen risiko dalam mendukung operasional bisnisnya sebagai bank digital; (4) Pengembangan kapabilitas teknologi informasi dan infrastruktur yang andal untuk membangun platform bank digital yang dapat mendukung aktivitas usaha UMKM; dan (5) Pelaksanan strategi branding agar hibank dapat dikenal sebagai bank UMKM berbasis digital.

Menurut Prihadiyanto, hibank secara optimal mengembangkan kapabilitas digital untuk memberikan layanan prima kepada seluruh nasabah, termasuk para pelaku UMKM. Harapannya, nasabah tidak hanya memperoleh akses layanan perbankan, tapi juga akan mendapatkan akses dengan rantai pasok hanya dengan satu genggaman melalui super platform-nya.

Prihadiyanto meyakini transformasi dan perbaikan terus-menerus yang dilakukan akan menjadi langkah awal hibank dalam menjadi bank digital dengan kapabilitas unggul dan produk kompetitif yang berperan penting dengan menjadi orkestrator UMKM Indonesia. (*)

Cakupan Transformasi hibank

  1. Menjalankan ekspansi bisnis yang prudent kepada target nasabah potensial melalui pendekatan ekosistem
  2. Menyempurnakan proses bisnis, kebijakan, dan tata kelola perusahaan
  3. Membangun kapabilitas digital, teknologi infrastruktur, dan keamanan siber
  4. Memperkuat Human Capital serta organisasi yang agile dan adaptif
  5. Melakukan rebranding untuk memosisikan hibank sebagai orkestrator UMKM di Indonesia

Jeihan K. Barlian


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved