Best CEO

Iman Rachman, Terapkan Kepemimpinan yang Adaptif dalam Menakhodai BEI

Iman Rachman, Terapkan Kepemimpinan yang Adaptif dalam Menakhodai BEI
Iman Rachman, Direktur Utama BEI

Self-regulatory organization atau regulator pasar modal, seperti PT Bursa Efek Indonesia (BEI), mempraktikkan serangkaian langkah adaptif untuk menjaga kinerja perusahaan tetap apik. Langkah ini digulirkan lantaran industri pasar modal menghadapi beragam tantangan seiring dengan adanya pergeseran perilaku pelaku pasar, serta dinamika makroekonomi nasional dan global pada masa pandemi Covid-19 dan pascapandemi di 2022.

Iman Rachman, Direktur Utama BEI, mengatakan bahwa ketika pandemi Covid-19 merebak di tahun 2020, BEI dan ekosistem pasar modal Indonesia telah siap beradaptasi dan mengapitalisasi shifting market behavior dari offline ke online dengan memanfaatkan teknologi. Pengalaman Iman di industri pasar modal dan sebagai chief financial officer di sejumlah BUMN menjadi bekal untuk menakhodai BEI dalam merespons beragam tantangan itu.

Menurutnya, karakteristik tantangan yang dihadapi CEO perusahaan saat ini dan 5-10 tahun lalu itu berbeda. Contohnya, jumlah karyawan generasi milenial dan Gen Z di masa kini lebih dominan dibandingkan masa sebelumnya yang mayoritas dari generasi Baby Boomers.

Berikutnya, Iman mengidentifikasi perkembangan teknologi yang mengakselerasi transformasi teknologi dan tren mempraktikkan ESG (Environmental, Social, Governance) untuk mewujudkan bisnis berkesinambungan yang berdampak positif terhadap lingkungan dan publik. “Seorang CEO harus memiliki kepemimpinan yang adaptif agar dapat menyesuaikan dirinya dengan perubahan dan kondisi,” kata CEO BEI sejak 29 Juni 2022 ini.

Iman menjadikan tantangan tersebut untuk mengelola peluang dan mitigasi risiko di BEI. Eksekutif kelahiran Jakarta pada 1972 itu mendorong BEI untuk memacu pendalaman pasar; menambah produk baru; memperluas edukasi, literasi, dan perlindungan investor; serta membangun sinergi dan konektivitas regional. Serangkaian strategi ini dieksekusinya dengan prinsip saling bekerjasama dan kolaborasi yang mempraktikkan Tata-kelola Perusahaan yang Baik atau Good Corporate Governance (GCG).

Dia berpendapat, seorang CEO sebaiknya berkarakter sebagai pemecah masalah (problem solver), terus belajar, pendengar yang baik, berinovasi, bekerja dengan cara berbeda, dan meliris produk terbaru. “Serta forward thinking untuk melihat tantangan yang dihadapi sebagai peluang usaha, berkarya untuk jangka panjang dan tidak hanya pada periode penugasan tertentu, tidak cepat puas, bekerja secara profesional, dan berpegang pada GCG agar terus memberikan yang terbaik untuk perusahaan dan negeri,” Iman menegaskan.

Direktur Perbankan Investasi PT Mandiri Sekuritas 2003-2016 ini senantiasa memberdayakan jajaran direksi dan pegawai BEI. Praktik ini membuka ruang selebar-lebarnya kepada kolega kerjanya untuk menyampaikan ide dan gagasan, serta memberikan kepercayaan untuk mengambil keputusan.

“Salah satu upaya yang saya lakukan pada saat pertama kali bertemu dengan rekan-rekan direksi BEI adalah melakukan one on one personal meeting untuk dapat saling bertukar pikiran dan sebagai upaya membangun hubungan inter personal dan meningkatkan building trust,” ungkap Iman.

Dia juga mendorong insan BEI untuk berinovasi, adaptif, serta lincah. Guna menjaga kelincahan BEI pada pasca pandemi Covid-19, dia menerapkan kebijakan hybrid working arrangement (HWA) dengan memanfaatkan teknologi. Karyawan bekerja di kantor (work from office) selama dua pekan secara bergantian dalam satu bulan. Berdasarkan data demografis per Desember 2023, mayoritas jumlah karyawan di BEI berusia 30-40 tahun dan rata-rata usia manajer 40-44 tahun.

“BEI masih dapat menerapkan HWA dengan efektif dan tetap menghasilkan performa karyawan yang optimal. Tingkat perputaran (turnover rate) pegawai pada 2023 relatif rendah, yakni sebesar 4,37%,” ungkap Iman yang hobi berolahraga dan berkumpul bersama keluarga di waktu senggang ini.

Dukungan karyawan dan jajaran direksi membantunya untuk mengkreasikan beragam inisiatif terbaru selama memimpin BEI sejak Juni 2022 itu. ”Saya juga berusaha memiliki agile mindset dan selalu adaptif terhadap rencana pengembangan strategis BEI,” ujarnya.

Salah satu contohnya, meluncurkan Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon) pada September 2023 sebagai salah satu upaya BEI untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam pencapaian Nationally Determined Contribution. “Walaupun, rencana tersebut belum tertuang dalam Rencana Strategis Jangka Panjang Perusahaan (RSJPP) BEI,” kata Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjajaran (1995) dan Magister of Business Administration (MBA) Finance dari Leeds University Business School (1997) ini. Bursa karbon nasional diestimasikan senilai Rp 3.000 triliun.

Ada sederet pencapaian Iman, yaitu merealisasi pencatatan waran terstruktur di BEI pada 19 September 2022, memublikasikan hasil ESG scoring emiten di website BEI sejak 12 November 2022, meluncurkan Papan Perdagangan Ekonomi Baru pada 5 Desember 2022 untuk mengakomodasi pencatatan perusahaan berbasis teknologi, dan mencatatkan laba usaha BEI pada 2022 sebesar Rp 612 miliar. “Laba usaha di tahun 2022 merupakan laba tertinggi yang pernah dicatatkan BEI,” ungkapnya.

Pada periode selanjutnya, Iman mengimplementasikan Papan Pemantauan Khusus Tahap 1 pada 12 Juni 2023. Kemudian, pada 13 Juli 2023 dia berada di podium Main Hall BEI untuk meluncurkan aplikasi New IDX Mobile, yang bertujuan memudahkan akses investor. Jumlah pengunduh aplikasi ini mencapai 105.233 pengguna per akhir tahun lalu.

Sebulan kemudian, pada 10 Agustus 2023, Iman terlibat aktif meluncurkan kampanye bertajuk “Aku Investor Saham”. Jumlah investor pasar modal per 20 Desember 2023 sebanyak 12,13 juta, atau naik 17,6% dibandingkan 2022 sebanyak 10,31 juta. Likuiditas dan transaksi investor masih semarak.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 2 Januari 2024 mencatatkan rekor tertinggi pada level 7.323 poin, memecahkan rekor sebelumnya di 7.318 poin pada 13 September 2022. Kapitalisasi pasar BEI juga menyentuh rekor teringgi, Rp 11.768 triliun; rekor sebelumnya pada 28 Desember 2023, Rp 11.762 triliun.

Jumlah perusahaan tercatat saham di BEI per 2023 mencapai 903. Ada 79 perusahaan yang IPO di tahun lalu. BEI menduduki peringkat ke-6 di dunia dari segi jumlah perusahaan IPO serta peringkat ke-9 dari segi total penghimpunan dana (fund raised) di antara bursa-bursa global. “Jumlah perusahaan yang IPO di tahun 2023 itu merupakan pencapaian tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia,” ujar Iman.

Torehan Iman lainnya adalah BEI memperoleh kategori Low Risk di ESG Risk Rating yang dinilai oleh Sustainalytic pada September 2023. Rating ini mengantarkan BEI menduduki peringkat ke-2 pada ESG Risk Rating bursa se-Asia Pasifik.

Pada 2024, Iman bersama jajaran direksi dan karyawan BEI menjalankan berbagai inisiatif yang masih akan diwarnai berbagai tantangan. BEI menargetkan pencapaian 230 efek baru, di antaranya saham, obligasi, dan waran terstruktur. Selain itu, BEI menargetkan penambahan 2 juta investor, rata-rata nilai transaksi harian Rp 12,25 triliun, pendapatan usaha Rp 1,44 triliun, dan laba bersih Rp 264 miliar.

Iman berikhtiar memuluskan rencana induk BEI 2021-2025 untuk menjadi bursa efek yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia. “Untuk mencapainya, saya mengedepankan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk sinergi dengan anak perusahaan BEI, sehingga selalu dapat berinovasi untuk mencapai tujuan untuk menjadi bursa yang kredibel.”

Selain itu, Iman pun berharap BEI dapat menjadi perusahaan yang nyaman untuk bekerja bagi karyawan sehingga BEI dapat menjadi top of mind terbaik untuk bekerja. (*)

Vina Anggita & Vicky Rachman


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved