Management

Solusi Mengurangi Masalah Presenteeism di Kalangan Karyawan

Fenomena presenteeism atau kondisi di mana karyawan hadir secara fisik di kantor tetapi tidak produktif seperti biasanya, menjadi sebuah tantangan untuk perusahaan maupun karyawan secara individu. Fenomena ini bukan terjadi karena kemalasan, namun terjadi karena kondisi fisik maupun mental yang sedang tidak baik.

Hasil riset menunjukan bahwa 71% karyawan di Asia Tenggara tidak mengambil cuti sakit meskipun merasa tidak sehat karena tuntutan pekerjaan yang tinggi. Dengan demikian, potensi terjadi presenteeism di negara-negara Asia Tenggara kemungkinan akan sejalan dengan data tersebut.

Business Development Director HashMicro (perusahaan software manajemen bisnis ERP) Lusiana Lu menilai, jika tidak ditangani dengan tepat, presenteeism bisa lebih merugikan dibandingkan karyawan yang tidak hadir, atau absenteeism. Fenomena ini akan menyebabkan penurunan produktivitas jangka panjang, kesalahan dalam bekerja dan potensi kerugian lain baik untuk karyawan maupun perusahaan.

Biasanya, karyawan memaksakan diri untuk tetap hadir dapat disebabkan oleh beberapa faktor eksternal seperti tuntutan dan beban pekerjaan yang tinggi, kultur yang mengglorifikasi waktu kerja yang panjang, atau stigma yang hadir ketika karyawan sering absen dari tempat kerja.

“Kami melihat presenteeism sebagai suatu masalah yang bisa diselesaikan lewat proses kerja yang lebih efisien dan terorganisir. Presenteeism memiliki keterikatan erat dengan masalah produktivitas. Oleh karena itu, perusahaan harus mendefinisikan ‘produktivitas’ dengan tepat dan memastikan ‘produktivitas’ tersebut bisa tercapai,” ujar Lusiana dalam siaran pers di Jakarta (17/04/2024).

Produktivitas yang positif, kata Lusiana, tidak hanya diukur dari jumlah output yang dihasilkan, tetapi juga dari kesejahteraan karyawan. Karyawan yang produktif adalah mereka yang dapat menyelesaikan tugasnya dengan efisien, efektif, dan tepat waktu tanpa mengorbankan kesehatan mental dan fisiknya.

Hal tersebut dapat dicapai dengan menciptakan budaya kerja yang mendukung, memberikan karyawan akses ke teknologi dan sumber daya perusahaan yang mereka butuhkan, dimana hal tersebut dapat mendorong keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi. “Agar tuntutan kerja terhadap karyawan tidak berlebihan, perusahaan perlu dapat mengakses informasi tentang aktivitas karyawan secara cepat untuk memastikan setiap target yang ditetapkan realistis,” ujarnya.

Guna menciptakan proses kerja yang efisien dan terorganisir, dibutuhkan sistem terintegrasi yang mampu mengotomatisasi berbagai tugas dan proses, sehingga karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dengan output yang lebih besar. Selain itu, karyawan bisa berfokus pada pekerjaan strategis dan memberikannya otonomi untuk berkembang.

Selain itu, sistem yang mumpuni juga bisa memberikan data dan analitik untuk melihat distribusi pekerjaan, performa tim, dan potensi bottleneck. Data ini bisa dijadikan acuan untuk melihat tren dan pola yang menunjukan masalah yang lebih luas yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan.

“Dengan menggunakan data yang diperoleh dari sistem ERP, manajer bisa proaktif berkomunikasi secara terbuka dengan timnya untuk membicarakan seputar workload, performa kerja, kesejahteraan karyawan, dan hal-hal yang bisa ditingkatkan kembali baik untuk tim maupun masukan untuk perusahaan. Kami yakin bahwa dengan menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif, karyawan akan lebih termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaiknya,” ucapnya.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved