Capital Market & Investment

Meneropong Potensi Cuan Reksa Dana Berbasis Saham-Saham Perbankan

Direktur Utama PT Surya Timur Alam Raya Asset Management, Hanif Mantiq di Jakarta pada Selasa, 23 April 2024. (Foto : Mirae Asset).

Investor mencermati untuk berinvestasi pada instrumen reksa dana indeks yang fokus pada sektor perbankan, salah satunya Reksa Dana Indeks STAR Infobank 15, mengingat kinerja sektor perbankan yang stabil dan prospeknya yang masih menjanjikan. M. Arief Maulana, Head of Wealth Management PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan Reksa Dana Indeks STAR Infobank 15 merupakan salah satu produk yang hanya berinvestasi pada saham-saham sektor perbankan. “Dengan prediksi kinerja sektor perbankan yang stabil seperti seperti sekarang ini, kami merekomendasikan reksa dana saham yang fokus pada saham-saham perbankan, salah satu yang fokus yaitu Reksa Dana Indeks STAR Infobank 15, yang tidak akan keluar dari saham perbankan karena mengacu pada indeks bank,” ujar Arief di Jakarta, Selasa (23/4/2024).

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan dana kelolaan industri reksa dana pada 2023 senilai Rp 501 triliun yang berasal dari 1.809 produk reksa dana yang dikelola 94 manajer investasi. Salah satu pendukung pertumbuhan industri reksa dana adalah agen penjual. Mirae Asset adalah salah satu Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) berlisensi OJK yang memasarkan ratusan reksa dana terpilih dari sekitar 30 manajer investasi.

Arief menjelaskan bahwa dukungan dari inovasi digital Mirae Asset memungkinkan tersedianya aplikasi NAVI by Mirae Asset untuk investor ritel dan NAVI Corporate berbasis website untuk investor korporasi dan institusi. Dengan berbagai fitur di aplikasi NAVI, investor dapat menikmati bermacam kemudahan dalam berinvestasi, terlebih lagi, dapat menikmati bebas biaya transaksi. Reksa Dana Indeks STAR Infobank 15 sudah dapat diakses melalui aplikasi NAVI dan informasinya dapat dipantau setiap waktu.

Hanif Mantiq, CEO PT Surya Timur Alam Raya Asset Management (STAR AM), mengatakan sektor perbankan tetap menjadi primadona di pasar modal, dengan kapitalisasi pasar yang besar dan kinerja yang terus menunjukkan tren positif. Sektor ini memainkan peran penting dalam mendorong pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

PT Bursa Efek Indonesia sudah meluncurkan beberapa indeks khusus. Pada 2012, BEI bersama Majalah Infobank meluncurkan indeks Infobank 15, yang terdiri dari 15 saham perbankan terbaik berdasarkan kriteria khusus seperti peringkat bank, tata kelola perusahaan yang baik, dan likuiditas. “Kami optimistis Reksa Dana Indeks STAR Infobank 15 akan mampu membuat nasabah memiliki risk and return yang stabil, terutama melihat fenomena bursa saham yang sedang bergejolak seperti sekarang ini. Reksa dana indeks itu memiliki empat keistimewaan utama, seperti besarnya dividen yang dapat dinikmati investornya dan manajemen risiko yang efektif seiring dengan kenaikan imbal hasilnya,” tutur Hanif.

Fokus pada perbankan terutama karena Indonesia diperkirakan akan naik menjadi ekonomi nomor 4 terbesar di dunia pada 2050 yang akan ditopang perbankan. Kemudian, kinerja historis yang impresif karena kenaikan STAR Infobank15 mencetak kenaikan rata-rata per tahun mencapai 11,5% per tahun dalam 10 tahun terakhir, mengungguli indeks-indeks saham lain seperti LQ45, IHSG, dan Sri-Kehati 2,3%-5,8%.

Lalu, dividen yang menarik dengan tren peningkatan dividen yield yang signifikan selama 5 tahun terakhir, dengan perkiraan mencapai 4,07% pada 2024 dan dengan rata-rata rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) sebesar 45,8%. Berikutnya, manajemen risiko yang efektif dengan kenaikan imbal hasil sebesar 25,8% dalam 3 tahun terakhir, melampaui rata-rata indeks saham lain sekitar 6%. Meskipun pertumbuhannya signifikan, Indeks Infobank15 tetap mempertahankan risiko volatilitas yang terkendali dengan nilai beta sebesar 1,18, hampir dengan rata-rata indeks lain yang berada pada 1,14.

Beta di atas 1 berarti semakin volatil dibanding acuan. "Kami meyakini produk ini tidak hanya akan menawarkan kesempatan investasi yang berkualitas tetapi juga akan memperluas jangkauan kami untuk menarik lebih banyak investor, terutama bagi investor yang berminat terhadap investasi di sektor perbankan Indonesia,” ungkapnya.

Pertumbuhan Industri Perbankan

Pada kesempatan ini, Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist Mirae Asset, optimistis sektor perbankan masih akan menjanjikan karena pertumbuhan kredit di sektor perbankan akan tetap tumbuh tinggi, masih akan sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia yang di kisaran 10-12%.

Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), lanjutnya, juga mulai membaik pada Januari dan Februari tahun ini yang masing-masing sebesar 5,8% dan 5,7% (year on year), setelah tiga bulan terakhir di tahun 2023 tumbuh di bawah 4% secara tahunan. “Rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR juga masih relatif terjaga di bawah 85%, dan dengan tingkat kredit tidak lancar (NPL) yang juga masih rendah, ruang bagi peningkatan pertumbuhan kredit juga masih terbuka,” ujar Rully.

Dia menuturkan kondisi tersebut merupakan hasil dari kebijakan makroprudensial pemerintah yang pro-growth. Pertumbuhan kredit pada Januari 2024 tercatat cukup tinggi mencapai 11,8% dibandingkan periode sama tahun lalu. Raihan ini tertinggi pada 5 tahun terakhir. Pertumbuhan kredit di Februari 2024 sedikit lebih rendah tapi tergolong tetap tinggi sebesar 11,3% secara tahunan.

Gross NPL atau kredit macet pada periode yang sama tetap rendah, yaitu 2,35%. “Kami memandang bahwa dengan kebijakan makro prudensial yang longgar dan disertai dengan likuiditas yang masih memadai, pertumbuhan kredit masih akan tetap kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia meski di tengah berbagai tantangan di sepanjang tahun 2024 ini,” kata Rully.

Namun demikian, Rully juga menilai risiko yang harus dimitigasi ke depan agar stabilitas sektor keuangan tetap terjaga. Perbankan sepertinya memang akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit mengingat kebijakan stimulus restrukturisasi kredit perbankan untuk dampak Covid-19 telah berakhir per 31 Maret 2024.

Saat ini Loan at Risk (LaR) perbankan masih cukup tinggi yaitu 11,56% per Februari 2024. Di luar perbankan, dia menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih dihadapkan dengan banyak tantangan. Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah tingginya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Dia mengatakan pergerakan rupiah dalam jangka menengah masih sangat sulit untuk diprediksi karena sangat dipengaruhi oleh isu global, bukan dipengaruhi oleh kondisi di dalam negeri. Tren pelemahan Rupiah lebih disebabkan oleh sentimen higher-for-longer suku bunga kebijakan the Fed yang kembali menyebabkan volatilitas dan ketidakpastian pasar global. Sentimen global tersebut, yang juga berdampak kepada besarnya aliran modal asing keluar dari Indonesia, menyulitkan BI untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved