Capital Market & Investment

STAR Asset Management dan Infovesta Ungkap Prospek Perbankan Tahun 2024

STAR Asset Management dan Infovesta Ungkap Prospek Perbankan Tahun 2024

Jika menjelang pemilu banyak pelaku bisnis dan investor bersikap wait and see, kini setelah pemilu usai, saatnya semua pihak terkait melakukan aksi nyata atau mengeksekusi business plan atau rencana investasinya. Jika masih penasaran bagaimana prospek perekonomian tahun 2024, khususnya pasar modal pasca-pemilu, ada baiknya menyimak hasil diskusi ‘Market Outlook 2024 dan Prospek Investasi di Sektor Perbankan Pasca Pemilu dan Musim Pembagian Dividen’.

Forum diskusi ini diselenggarakan oleh PT Surya Timur Alam Raya Asset Management (STAR Asset Management) berkolaborasi dengan Infovesta diadakan di Main Hall Bursa Efek Indonesia dengan narasumber dari Bursa Efek Indonesia, Bank Mandiri, Mandiri Sekuritas dan Infovesta.

Dalam kesempatan tersebut, Jeffrey Hendrik, Direktur Bursa Efek Indonesia menekankan pentingnya adaptasi pasar modal Indonesia terhadap tren global dan teknologi finansial untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi.

Sementara Verdi Ikhwan, Head of Research Division Bursa Efek Indonesia, memberikan wawasan tambahan tentang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan aktivitas transaksi yang tercatat di BEI, yang menunjukkan peningkatan kapitalisasi pasar dan mencapai all time high sebesar Rp11.913 triliun pada 13 Maret 2024, mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Rata-rata nilai transaksi harian BEI juga mengalami peningkatan sebesar 4.9% (ytd) menjadi Rp11.3 triliun pada 16 April 2024. Pertumbuhan perusahaan tercatat di BEI yang stabil dengan total 924 perusahaan pada tahun 2024, menjadikan Indonesia memiliki jumlah perusahaan tercatat terbanyak di ASEAN, yang mencerminkan dinamika pasar modal yang kuat dan prospek ekonomi yang menjanjikan bagi investor.

Kemudian, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyoroti pertumbuhan Produk Domsetik Bruto yang stabil sebesar 5,1% dalam tahun terakhir. Dia menekankan peranan signifikan sektor perbankan, dengan pertumbuhan kredit tahunan mencapai 9% dan rasio kredit terhadap deposito (LDR) yang bertahan di 92%, menunjukkan likuiditas yang memadai untuk ekspansi lebih lanjut. Tambahan lagi, peningkatan laba bersih sektor perbankan sebesar 15% dari tahun sebelumnya memperkuat peran sektor ini dalam mendukung perekonomian nasional.

Dalam kontinuitas analisis tersebut, disebutkan bahwa kredit sektor perbankan naik sebesar 8% tahun lalu, sementara deposito tumbuh 6%. Penurunan rasio kredit bermasalah dari 2,9% menjadi 2,5% juga menunjukkan peningkatan dalam kualitas aset, memperkuat fungsi sektor perbankan sebagai pilar utama ekonomi dan pasar modal di Indonesia.

Parto Kawito, Direktur Infovesta menyimpulkan tentang ketahanan sektor perbankan yang tangguh di tengah tantangan ekonomi global. Dalam paparannya, dia menyoroti bahwa pertumbuhan kredit di sektor perbankan telah meningkat sebesar 8% selama tahun terakhir, sementara pertumbuhan deposito stabil di angka 6%. Selain itu, kualitas aset meningkat dengan penurunan rasio kredit macet (non-performing loan atau NPL) dari 2,9% menjadi 2,5%, yang menunjukkan peningkatan kualitas aset di sektor perbankan. Indikator ini menegaskan peran penting sektor perbankan dalam mendorong perekonomian Indonesia dan dinamika pasar modal.

Kresna Hutabarat, Deputi Kepala Divisi Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas memberikan wawasan mendalam tentang dampak kebijakan moneter terkini pada sektor perbankan. Dengan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%, biaya pendanaan meningkat, namun ini juga mendorong kenaikan margin bunga bersih dari 4,3% menjadi 4,8% bagi bank yang efisien. Meskipun biaya pendanaan naik, banyak bank berhasil menyesuaikan strategi kredit dan manajemen risiko untuk memaksimalkan keuntungan, terbukti dari penurunan Non Performing Loan (NPL) dari 3,2% menjadi 2,8%.

Di sisi lain, Edbert Suryajaya, Direktur Infovesta mengungkapkan bahwa Indeks Infobank15, yang berfokus pada saham-saham perbankan terpilih, mencatat kenaikan impresif 12% dalam setahun terakhir, menandakan ketahanan dan potensi pertumbuhan sektor ini. Rata-rata dividen yield saham dalam Indeks Infobank15 mencapai 5,2% pada tahun 2024, dengan rasio P/E yang stabil di angka 13,5, menunjukkan valuasi yang menarik dibanding sektor lain.

Manajemen risiko yang efektif tercermin dalam nilai beta yang relatif rendah pada 0,9, menandakan bahwa saham-saham dalam indeks ini lebih stabil dan kurang terpengaruh oleh fluktuasi pasar yang tajam, menjadikannya pilihan investasi yang menarik bagi mereka yang mengutamakan keamanan investasi dan pertumbuhan jangka panjang.

Paparan ditutup dengan STAR Infobank15 sebagai Reksa Dana Indeks yang berfokus pada sektor perbankan oleh Susanto Chandra, Direktur STAR Asset Management mengenalkan kembali STAR Infobank15. Produk reksa dana indeks ini diharapkan akan memudahkan investor untuk mengakses peluang di sektor perbankan dengan risiko yang terkontrol. Diharapkan, produk ini akan menjadi alternatif cara investasi yang menarik bagi para investor yang memiliki minat di saham-saham sektor perbankan yang memiliki kinerja fundamental kuat dan likuiditas tinggi.

Dalam paparannya, Susanto menyampaikan empat keunggulan utama dari STAR Infobank15. Pertama, fokus pada sektor perbankan. Proyeksi OECD memprediksi Indonesia akan menjadi ekonomi keempat terbesar global pada 2050, dengan sektor perbankan yang berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Kedua, kinerja historis yang impresif. Data Bloomberg menunjukkan bahwa dalam dekade terakhir, STAR Infobank15 mencatat kenaikan tahunan rata-rata sebesar 11.5%, melampaui indeks seperti LQ45, IHSG, dan Sri-Kehati yang berkisar 2.3% hingga 5.8%.

Ketiga, dividen yang menarik, Dalam lima tahun terakhir, Indeks Infobank15 menunjukkan tren kenaikan dividen yield yang mencapai estimasi 4.07% pada 2024, dengan payout ratio rata-rata 45.8%, menandakan prospek imbal hasil menarik bagi investor jangka panjang dan kenaikan nilai Nilai Aktiva Bersih melalui dividen yang berkesinambungan.

Keempat, manajemen risiko yang efektif. Dalam tiga tahun terakhir, STAR Infobank15 mencatat kenaikan imbal hasil sebesar 25.8%, signifikan melampaui indeks pembanding yang hanya mencapai 6%. Meski mencatat pertumbuhan tinggi, Indeks Infobank15 mempertahankan volatilitas terkendali dengan nilai beta 1.18, menunjukkan kombinasi luar biasa antara imbal hasil tinggi dan stabilitas risiko.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved