Trends

Mbrebes Mili Mengkreasikan Ekonomi Sirkular, Pacu Transaksi Non Tunai di Brilianpreneur

Dini Windu Asih menunjukkan minyak goreng yang zero waste innovation di rumah dan sekaligus lokasi produksi Mbrebes Mili di Cimanggis, Depok, Jawa Barat pada Jumat, 19 April 2024. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Mbrebes Mili, produsen olahan bawang, mengkreasikan ekonomi sirkular lantaran mengolah minyak goreng sekali pakai menjadi produk minyak bawang. Mbrebes Mili meluncurkan minyak bawang lantaran produknya itu menciptakan zero waste yang bernilai ekonomi. Mbrebes Mili adalah jenama yang dimiliki oleh PT Mbrebes Mili Food. Perusahaan ini didirikan oleh pasangan suami-isteri, Dini Windu Asih dan Mohammad D. Marhendra pada 2017.

Dini mengisahkan ide mendaur ulang sisa minyak goreng itu lantaran adanya permasalahan untuk membuang sisa-sisa minyak goreng. Oh ya, Mbrebes Mili memproduksi bawang goreng tanpa tepung. Nah, bawang goreng ini merupakan produk utama Mbrebes Mili. Perihal bekas minyak goreng itu, Dini sejak 2017-2019 tidak membuangnya di sembarang lokasi agar tidak mencemari lingkungan dan meresahkan masyarakat.

Minyak goreng yang sekali digunakan untuk menggoreng bawang merah dan bawang putih itu diberikan Dini kepada pengepul minyak jelantah “Saya memberikannya kepada pengepul minyak goreng jelantah di Cibubur, Jakarta Timur, jumlahnya 5 liter minyak bekas diganti 1 liter minyak goreng baru,” tutur Dini saat ditemui SWAonline di rumahnya sekaligus lokasi produksi Mbrebes Mili di Kompleks Departemen Koperasi, Cimanggis, Depok, Jawa Barat pada Jumat (19/4/2024).

Kala itu, karyawan pengepul minyak jelantah rutin menyambangi rumah Dini untuk mengambil minyak jelantah itu. Pada periode berikutnya, Dini rutin mengikuti beragam pelatihan dan lokakarya kewirausahaan, diantaranya lokakarya di 2020. Sebagai contoh, Dini pada 2019 mengikuti lokakarya oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kota Depok, Jawa Barat. Dinkes Depok menghimbau Dini untuk mengolah minyak jelantah menjadi produk bernilai tambah yang bisa dijual kembali.

Berpijak dari rekomendasi Dinkes Depok, Dini dan sang suami melakukan riset kecil-kecilan tentang pengolahan sisa-sisa minyak goreng bawang dan peluang bisnisnya. Minyak goreng bekas memproduksi bawang ini kualitasnya masih layak sehingga Dini optimistis untuk bisa mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi. “Saya 2019 mencoba saran Dinkes Depok, saya dan suami mengolah ulang minyak goreng bawang tanpa tepung yang sekali pakai, memproduksi minyak bawang dan menjualnya ke konsumen,” ucap Dini.

Wanita berhijab ini juga mengemukakan si bos pengepul minyak jelantah adalah pembeli minyak goreng bawang Mbrebes Mili. Ceritanya begini. Bos pengepul minyak jelantah ini membeli sisa minyak goreng dari Dini untuk membuat usaha mie ayam yang minyaknya dari minyak bawang. “Alhamdulilah, respon konsumen bagus,” ujar Dini. Pengalaman ini kian memacu Dini dan suami memproduksi minyak bawang dari sisa produksi tersebut.

Pada 2020, Dini memproduksi minyak goreng bawang ini di Facebook. Maklum, kala itu pandemi Covid-19 melanda Indonesia. “Waktu itu, kita memproduksi minyak bawang 80-140 botol per hari ,” ucap Dini yang lahir di Jakarta pada 1978. Minyak bawang dikemas dalam botol berukuran 140 ml.

Dini menyampaikan pengolahan minyak goreng sekali pakai menjadi produk bernilai ekonomi ini memang terkait ekonomi sirkular. “Ketika saya mengikuti kompetisi kewirausahaan, mentor bisnis yang menjadi juri di kompetisi menyebutkan produk minyak goreng bawang Mbrebes Mili adalah produk zero waste innovation,” ungkap Dini seraya menyebutkan Mbrebes Mili didapuk penghargaan pada kompetisi kewirausahaan Juragan Jaman Now Season 2 pada Juli 2023.

Perihal ekonomi sirkular, Windri Handayani, peneliti pengolahan sampah organik dan dosen di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), menyampaikan model zero waste bertujuan agar tidak ada sumber daya yang terbuang dan tidak termanfaatkan. “Praktik ekonomi sirkular akan mengolah semua sumber daya terbuang menjadi bermanfaat dan bernilai ekonomi sehingga tidak menjadi sampah yang terbuang,” tutur Windri saat dihubungi SWAonline.

Tingginya minat konsumen terhadap minyak goreng bawang Mbrebes Mili ini memantik peningkatan jumlah reseller. Jumlah reseller Mbrebes Mili naik menjadi 50 reseller dari sebelumnya 10-an reseller. Guna memenuhi kepatuhan terhadap peraturan, Dini dan suami mendaftarakan minyak bawang dan seluruh produk Mbrebes Mili ke regulator untuk mendapatkan izin edar dan sertifikat PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), dan sertifikat halal. “Kami sudah menyelesaikan sertifikasi dan izin sejak 2019, kami berjualan harus izin edar dan kenyamanan konsumen,” sebut Dini.

Minyak goreng bawang Mbrebes Mili itu memantik minat sejumlah perusahaan. Mereka mendatangi tempat produksi Mbrebes Mili untuk melakukan audit. “Perusahaan yang sudah kami pasok adalah Haus! yang membeli minyak goreng bawang dan bawang goreng Mbrebes Mili,” ucap Dini. PT Inspirasi Bisnis Nusantara, pengelola Haus!, adalah perusahaan makanan dan minuman yang rutin membeli produk Mbrebes Mili.

Peningkatan basis konsumen Mbrebes Mili berdampak terhadap pertumbuhan produksi bawang goreng dan minyak goreng. Produksi minyak goreng bawang merah di 2024, misalnya, naik 5 kali lipat dari 80-140 botol per hari. Sedangkan, produksi minyak goreng bawang putih naik 2 kali lipat. Dini menyebutkan peningkatan produksi minyak goreng bawang selaras dengan produksi bawang goreng yang menjadi produk utama Mbrebes Mili. ”Kami juga menjual minyak wijen dan minyak chili untuk menambah varian produk dan meningkatkan branding awareness Mbrebes Mili,” imbuhnya. Rencananya, Mbrebes Mili hendak memproduk minyak ayam bawang. Produk ini masih dalam tahap pengembangan.

Dini optimistis minyak goreng bawang Mbrebes Mili semakin diapresiasi konsumen. Optimisme ini terindikasi dari keberhasilan mengekspor produk ini ke Australia. “Minyak goreng bawang merah dan bawang putih sudah kami ekspor via buyer ke Australia di Februari 2024. Jumlahnya sebanyak 420 botol yang dikemas dalam 10 boks,” tutur Dini menjabarkan. Rinciannya, minyak goreng bawang merah diekspor sebanyak 5 boks. Sisanya, minyak goreng bawang putih. Pembeli ini adalah pelanggan Mbrebes Mili yang membeli bawang goreng pada 2022. Untuk ekspor perdana bawang goreng, Mbrebes Mili mengekspor produknya ke Selandia Baru di 2020.

Di pasar domestik, minyak goreng bawang merah dan putih dijual seharga Rp 15.000/botol. Dini menjualnya di website Mbrebes Mili, Tokopedia, Blibli,Shopee, dan Lazada. Produknya juga menembus jaringa toko ritel modern, antara lain Aneka Buana, Gelalel, dan Hero, dan Farmers Market. Dini menyampaikan strategi Mbrebes Mili menembus toko ritel modern adalah menyodorkan produk berkualitas, berdisiplin dan rutin memasok produk sesuai jadwal pemesanan, mematuhi regulasi karena produknya mengantongi izin edar dan sertifikasi dari regulator. “Ada permintaan konsumen untuk memproduksi minyak goreng bawang sebanyak 500 liter per hari, tapi kami belum bisa memenuhinya karena kami sedang tahap pengembangan kapasitas produksi,” ucap Dini yang pernah berkarier di Lembaga Nirlaba.

Permudah Konsumen Bertransaksi Non Tunai

Tak hanya itu, Dini dan sang suami rajin berjejering bersama komunitas UMKM (usaha kecil, mikro, dan menengah), mengikuti pelatihan, pameran dan kompetisi kewirausahaan di 2017 hingga tahun lalu. Pada 2023, misalnya, Mbrebes Mili lolos seleksi ajang UMKM EXPO(RT) Brilianpreneur 2023 yang diselenggarakan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

Dini menyampaikan Mbrebes Mili berpartisipasi di Brilianpreneur berdasarkan informasi yang disebar oleh para penggiat UMKM dan mengetahui infromasi kegiatan ini di Instagram. Lantas, Dini pada Oktober tahun lalu mengakses website brilianpreneur.com untuk mendaftarkan Mbrebes Mili. “Selama 2 bulan diproses oleh panitia Brilianpreneur, kami lolos kurasi dan mengikuti Brilianpreneur di Jakarta Convention Center di 7 Desember hingga 10 Desember 2023. Tujuan saya mengikuti Brilianpreneur untuk meningkatkan ilmu dan menambah jaringan serta buyer,” ungkap Dini

Dini mengikuti pelatihan via Zoom semisal pelatihan pemasaran digital dan pembekalan untuk ekspor. Merujuk situs Brilianpreneur, Mbrebes Mili ada pada klaster makanan dan minuman. Dini menyediakan mesin EDC (Electronic Data Capture) dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) BRI. Hal ini untuk memudahkan konsumen bertransaksi non tunai. Penjualan Mbrebes Mili cukup aduhai lantaran menjaring omset dua digit selama mengikuti Brilianpreneur itu. “Alhamdulilah produk kami laku, transaksi konsumen menggunakan EDC dan QRIS-nya BRI. Total transaksi sekitar Rp 20-an juta,” ucap Dini menjabarkan.

Mayoritas transaksi dari Rp 20 juta itu adalah transaksi non tunai via QRIS dan EDC-nya BRI. “Transaksi non tunai memudahkan kami karena kami tidak repot menyediakan uang kembalian,” ucap ibu dari satu anak ini.

Partisipasi Mbrebes Mili di Brilianpreneur ini berdampak positif terhadap penambahan mitra bisnis. Pasangan suami-isteri ini berhasil menjaring perusahaan distributor asal Bali yang mendistribusikan produk Mbrebes Mili di Pulau Dewata. “Distributor di Bali mendistribusikan 100-an pieces produk kami di Bali di awal tahun ini. Jumlahnya masih sedikit, tetapi langkah awal untuk memperluas distribusi,” ucap Dini yang bertugas sebagai sales & marketing dan sang suami menangani operasional Mbrebes Mili. Penjulan bawang goreng berkontribusi sebesar 50% dan minyak bawang sebanyak 45% dari total penjualan Mbrebes Mili per Januari-Maret 2024. Sisanya dikontribusikan dari penjualan sambal, minyak chili dan produk lainnya.

(kedua dari kiri) Dini berinovasi memproduksi minyak bawang dari minyak goreng sekali pakai untuk menggoreng bawang goreng bawang merah dan bawang putih tanpa tepung. Dini dan suaminya, Mohammad D. Marhendra , mendirikan Mbrebes Mili pada 2017 (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Ke depannya, couplepreneur ini bercita-cita mengolah kulit bawang menjadi pupuk organik. Dini bersama sang suami sudah menjajaki riset mengenai hal ini ke salah satu perguruan tinggi negeri. Jumlah sisa kulit bawang cukup melimpah. Mbrebes Mili membeli bawang merah dan bawang putih sebanyak 1-2 ton per bulan. Bawang ini dipasok dari Brebes, Jawa Tengah. Kemudian, bawang ini dikupas oleh tenaga honorer.

Nah, pengupas kulit bawang ini adalah masyarakat sekitar di rumah produksi Mbrebes Mili di Cimanggis, Depok. Jumlahnya ada 5 orang. “Pengupas kulit bawang diberikan honor Rp 2.500 per kilogram. Mereka adalah ibu rumah tangga yang mengupas kulit bawang untuk menambah penghasilan keluarga. Umumnya, suami mereka bekerja sebagai ojek online,” ungkap Dini. Setiap hari, Mbrebes Mili memproduksi bawang goreng sebanyak 80-90 kilogram per hari. Nah, limbah kulit bawang ini dibuang. Kondisi ini memantik Dini untuk membuat pupuk organik dari kulit bawang.

Selain ingin memproduksi pupuk, Mbrebes Mili berancang-ancang mencatatkan saham perdana alias IPO (initial public offering) di Bursa Efek Indonesia. Saat ini, Dini sedang merapikan administrasi dan manajemen untuk menyongsong IPO di 2-3 tahun mendatang. Mbrebes Mili mempekerjakan karyawan sebanyak 7 orang yang saling berbagi tugas di bagian produksi dan administrasi. Omsetnya mencapai Rp 150-an juta/nula. “Mbrebes Mili sudah ikutan di IDX Incubator di BEI, semoga saja cita-cita IPO tercapai,” sebut Dini. Good luck, ya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved