Trends

Kredit Produktif BRI Cair, Kapasitas Produksi Anwar Putra Broiler Melejit 650%

Hendra Hermawan, pemilik dan pendiri Anwar Putra Broiler di Pasar Musi, Depok, Jawa Barat pada Minggu, 28 April 2024. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Hendra Hermawan, pemilik dan pendiri Anwar Putra Broiler, berdisiplin menggunakan pinjaman dana dari bank sebagai modal usaha untuk pengembangan usaha pemotongan ayam broiler dan daging ayam segar. Hendra memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Investasi dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada 2016 dan 2019 .

Bank BUMN yang akrab disebut BRI ini menyokong permodalan Hendra untuk membeli peralatan produksi, lahan untuk gudang dan fasilitas pemotongan ayam serta kendaraan bermotor. Pinjaman dari BRI dioptimalkan Hendra untuk meningkatkan kapasitas produksi pemotongan ayam yang pada 2024 menjadi 1.500 ekor per hari atau naik sebesar 650% dari 200 ekor/hari di 2016.

Hendra memulai usaha penjualan daging ayam pada 1997. Dia berdagang daging ayam potong di Pasar Musi Baru, Depok, Jawa Barat. Saat itu, Hendra berhasil menjual daging ayam sebanyak 30 ekor/hari. Dagangannya laris manis. Tetapi, dia berhenti berjualan di tahun 2000 hingga 2007. Walau sempat vakum, insting Hendra untuk menjadi penggiat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tak pernah pudar. Ia kembali menjadi pedagang daging ayam di tahun 2007 hingga saat ini.

Ayah dari lima anak ini menggenjot volume pemotongan ayam broiler pasca memperoleh KUR senilai Rp 200 juta di tahun 2016. KUR bertenor 3 tahun ini disalurkan oleh Kantor BRI Unit Proklamasi, Depok. Hendra adalah nasabah BRI. “KUR digunakan untuk menambah modal usaha,” ujar Hendra saat dijumpai SWAonline di kantor Anwar Broiler di Pasar Musi Baru, Depok, Jawa Barat pada Minggu (28/4/2024). Angsuran KUR ini sudah lunas pada 2019.

Hendra mengisahkan dana KUR ini digunakan bertahap untuk membeli berbagai fasilitas pendukung produksi. “Pada tahap awal, saya menggunakan 50% dari Rp 200 juta untuk membeli alat-alat produksi,” tutur Hendra. Setahap demi setahap, Hendra menggunakan dana KUR untuk membeli berbagai peralatan dan meningkatkan pasokan ayam broiler.

KUR ini memperkuat struktur permodalan Anwar Putra Broiler jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, Hendra bisa menambah pasokan ayam broiler hidup yang jumlahnya berlipat ganda itu. Dampaknya, jumlah daging ayam segar kian bertambah pasokannya untuk dijual ke konsumen di pasar tradisional.

Hendra menjual daging ayam segar di Pasar Musi Baru. “Saya memiliki 3 lapak penjualan daging ayam di Pasar Musi Baru. Isteri saya membantu penjualan daging ayam di pasar,” ujar Hendra. Lapak Umi Anwar, yang dikelola sang isteri, ada di lantai bawah Pasar Musi Baru. Selain itu, Anwar Putra Broiler memasok daging ayam ke para pedagang di Pasar Cisalak, Pasar Palsigunung, dan Pasar Agung di Depok.

Setelah angsuran KUR itu lunas, Hendra pada 2019 mengajukan Kredit Investasi senilai Rp 900 juta ke BRI Kantor Cabang Depok di Jl Margonda Raya. Kredit ini dirancang BRI sebagai pinjaman untuk membiayai operasional usaha termasuk kebutuhan untuk pengadaan bahan baku, proses produksi, piutang dan persediaan para debitur BRI.

Sumber : BRI.

Hendra menggunakan Kredit Investasi BRI untuk membeli lahan seluas 320 m2 di tahun 2019. sebelumnya, Hendra menyewa lahan untuk gudang dan pemotongan ayam broiler. Lokasi lahan di samping Pasar Musi Baru. Setahun berikutnya, Hendra mulai membangun lahan ini untuk menjadi gudang dan fasilitas pemotongan ayam broiler. Pada 2021, pembangunannya rampung.

Total dana yang tersedot untuk pembangunan ini mencapai Rp 2 miliar. Selain dana pinjaman dari BRI, Hendra memperoleh pendanaan dari bank lainnya untuk membiayai pembangunan gudang dan fasilitas pemotongan ayam broiler. “Kredit Investasi dari BRI digunakan untuk membeli perlengkapan produksi, down payment 50% untuk membeli 1 unit truk dan mobil pick up 1 unit,” ´tutur Hendra.

Fasilitas pemotongan ayam ini meningkatkan skala produksi. “Dalam sehari kami memotong ayam broiler sebanyak 1.500 ekor,” ujar Hendra. Raihan ini melampaui jumlah pemotongan ayam sebanyak 200 ekor/hari di 2016. Sebanyak 500 dari 1.500 ekor itu dipasok ke 3 lapak Anwar Putra Broiler di Pasar Musi Baru. Selain itu, Hendra memasok daging ayam sebanyak 1.000 ekor/hari ke para pedagang di Pasar Cisalak, Pasar Palsigunung, dan Pasar Agung di Depok. Para pedagang ini adalah mitra bisnis Hendra.

Perihal KUR, manajemen BRI mendapatkan alokasi KUR terbesar untuk tahun 2024, yakni senilai Rp 165 triliun. Supari, Direktur Bisnis Mikro BRI, mengatakan perseroan berkomitmen untuk dapat memenuhi target tersebut karena BRI sudah memiliki infrastruktur yang memadai. “Dari sisi infrastruktur, saat ini BRI telah memiliki BRISPOT yang terus dioptimalisasikan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan tenaga pemasar (mantri),” imbuh Supari pada keterangan tertulisnya.

Terapkan Wisdom Orang Tua

Lebih lanjut, Hendra menyampaikan pendampingan mantri BRI telah membantu usaha dan mengelola dana KUR dan Kredit Investasi. Pendampingan mantri ini memperkokoh keyakinan Hendra untuk menggunakan pinjaman ini sesuai tujuannya. “Saya sejak kecil dan remaja diajarkan kedua orang tua saya untuk jujur, berdisiplin dan bertanggung jawab. Jadi, saya menggunakan pinjaman BRI untuk modal usaha,” kata Hendra.

Tiga prinsip yang diajarkan orang tuanya itu dipraktikkan Hendra dalam mengarungi bisnis daging ayam. Udin Syamsudin, ayah Hendra, mengajarkan hal ini. Sang ibu juga memberikan kearifan (wisdom) yang serupa. Hendra sejak kecil hingga remaja membantu bisnis pemotongan ayam dan daging ayam orang tuanya ini. “Jam 3 dini hari membantu orang tua, saya memotong ayam dan menyiapkan daging ayam segar untuk dijual ke pasar. Jam 6 pagi saya siap-siap berangkat sekolah di STM (saat ini SMK),” ucap Hendra yang menamatkan sekolah di SMK Ganesa, Depok, pada 1997.

Hendra mengapresiasi nasihat orang tuanya untuk bersikap jujur, berdisplin dan bertanggungjawab. Walau orangtuanya ini sudah wafat, ketiga prinsip itu ditularkan Hendra kepada lima anak-anaknya (3 wanita dan 2 laki-laki). Hendra menyiapkan anak laki-lakinya itu untuk melanjutkan tongkat estafet bisnis keluarga di masa mendatang. “Anak-anak juga disiapkan untuk menghadapi perubahan, contohnya transaksi keuangan konsumen sudah sering menggunakan QRIS," ucapnya.

(kanan) Hendra Hermawan, pemilik Anwar Putra Broiler, bersama pegawai. Hendra mempekerjakan karyawan sebanyak 12 orang dari sebelumnya 6 orang. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Oh ya, Anwar Putra Broiler ini berasal dari nama anaknya. Skala bisnis Hendra kian berkembang seiring dengan sokongan modal usaha dari KUR dan Kredit Investasi BRI. Adapun, angsuran Kredit Investasi dicicil Hendra senilai Rp 21 juta per bulan. “Saya dan isteri berdisplin mengatur cash flow untuk membayar angsuran, biaya operasional dan produksi, gaji pegawai serta biaya lainnya. Saya memisahkan uang untuk biaya kebutuhan rumah dan bisnis,” tutur Anwar yang bertugas di manajemen keuangan dan operasional.

Saat ini, Hendra menyerap tenaga kerja sebanyak 12 orang dari sebelumnya 6 orang. Pegawainya saling berbagi tugas. Mereka bertugas sebagai tenaga pemasaran, produksi dan supir. “Tenaga sales melakukan pendekatan ke para pedagang di pasar-pasar tradisional, kami menawarkan daging ayam yang harganya sesuai standar sehingga tidak mengganggu harga daging ayam,” ungkapnya. Harga daging ayam berfluktuasi. Sebagai contoh, Hendra menyebutkan harga daging ayam di bulan puasa lalu berkisar Rp 40-45 ribu per ekor. Pasca lebaran, harganya turun menjadi Rp 37 ribu/ekor.

Untuk meningkatkan pelayanan konsumen, Hendra telah mengantongi sertifikat halal, sarana pemotongan ayam yang higienis, rutin menjalin komunikasi dengan pelanggan agar menyerap aspirasi konsumennya, dan bersikap fleksibel menghadapi dinamika bisnis. Ke depannya, Hendra bercita-cita menambah lini usaha,yakni berbisnis kos-kosan. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved