Trends

Empat Tips Memulai Gaya Hidup Ramah Lingkungan Untuk Pemula

Di masyarakat masih sering kita temui penggunaan plastik sekali pakai, membakar sampah, atau lupa mematikan listrik di siang hari. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini, walau terlihat sepele, tapi sebenarnya memiliki konsekuensi serius bagi lingkungan. Beberapa dampak negatif yang dapat timbul dapat berupa kerusakan ekosistem, punahnya spesies, dan berbagai masalah kesehatan.

Tanpa disadari, kita sering kali masih menjadi kontributor utama terhadap berbagai masalah lingkungan. Untungnya, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memulai gaya hidup yang ramah lingkungan (sustainable lifestyle) untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah.

Beberapa tips ini bisa dilakukan untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan untuk pemula.

1. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai

Hampir semua orang sudah tahu bahwa plastik sekali pakai, seperti kantong plastik, sedotan, dan botol plastik, merupakan penyumbang terbesar polusi lingkungan. United Nations Environment Programme (UNEP) memperingatkan polusi plastik di lautan diprediksi akan melonjak drastis hingga tiga kali lipat, dari yang sebelumnya 9-14 juta ton pada tahun 2016 menjadi 23-27 juta ton pada tahun 2040 apabila tidak dilakukan langkah pencegahan.

Untuk ambil andil dalam mengurangi sampah plastik, kita bisa menerapkan conscious living dengan membawa tas belanja sendiri saat berbelanja, menggunakan botol minum isi ulang, dan hingga menghindari penggunaan sedotan. Dengan langkah ini, kita ikut andil mengurangi sampah plastik yang berakhir ke tempat pembuangan akhir sampah.

"Kunci menerapkan gaya hidup sustainable adalah mulai dari diri sendiri. Kita perlu secara sadar mempertimbangkan apa saja yang kita butuhkan, memikirkan dampak jangka panjang yang akan timbul saat membeli produk, serta meminimalisir single use plastic dengan mencari alternatif yang lebih sustainable. Setelah terbiasa, barulah kita bisa membagikan kesadaran (awareness) kepada orang lain dan menyebarluaskan dampaknya," kata Marketing Associate Liberty Society Rachel Dwieputri.

2. Pilah sampah anorganik dan organik

Memilah sampah bukan hanya tugas petugas kebersihan, masyarakat semua bisa berkontribusi dengan memisahkan sampah. Seringkali sampah bertumpuk menjadi benda yang tak terpakai, padahal di balik itu terdapat potensi besar untuk menyelamatkan bumi.

Sampah anorganik seperti wadah plastik, botol kaca, dan logam bekas dapat diolah menjadi produk pakai baru seperti tas dan aksesoris, hiasan dinding, serta perabot rumah tangga. Sedangkan sampah organik seperti sisa dapur, makanan, sayuran dan kulit buah juga dapat diolah menjadi kompos tanah serta pakan ternak hewan.

"Memilah atau memisahkan sampah itu menjadi bagian penting dari pengelolaan sampah. Jika sudah dipilah, maka ini akan sangat memudahkan banyak pihak yang berkomitmen untuk mengelola sampah lebih lanjut, seperti Magalarva. Bahkan memilah sampah ini juga bisa menjadi pemasukan tambahan untuk kita karena ada beberapa pihak yang bersedia membayarnya,” ujar Rendria Labde, Pendiri Megalarva dalam siaran pers di Jakarta (29/04/2024).

3. Stop pembakaran sampah

Co-founder & CEO Nafas Nathan Roestandy mengatakan, pembakaran sampah menjadi salah satu penyumbang polusi udara, sehingga menghindari kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya simpel yang dapat dilakukan masyarakat dalam kesehariannya agar tidak memperparah kualitas udara. Membakar sampah rumah tangga, plastik, dan kayu yang dicat bukan hanya praktik yang tidak ramah lingkungan, tetapi juga bisa membahayakan kesehatan dalam jangka panjang.

“Asap pembakaran sampah mengandung bahan kimia beracun yang mencemari udara dan dapat terhirup oleh manusia dan hewan. Oleh karena itu, penting untuk menghindari pembakaran sampah dan mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan,” ujarnya.

4. Menggunakan produk alternatif ramah lingkungan

Menggantikan penggunaan produk alternatif yang ramah lingkungan merupakan investasi jangka panjang untuk menjamin kesejahteraan planet kita dan generasi mendatang. Lebih dari itu, produk ramah lingkungan juga seringkali diproduksi menggunakan teknologi dan bahan baku yang lebih berkelanjutan, sehingga membantu memperpanjang umur sumber daya alam yang terbatas.

"Banyak orang masih menganggap produk ramah lingkungan itu mahal dan kualitasnya rendah, sehingga menjadi hambatan berkembangnya pasar produk ramah lingkungan di Indonesia. Untuk menyikapinya, masyarakat Indonesia perlu memiliki keterbukaan dan melakukan riset terhadap produk ramah lingkungan demi bumi yang lebih lestari kini dan nanti," kata Co-founder & Chief of Sustainability Plana Joshua C. Chandra.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved