Trends

Tumbuh 16% YoY, Pendapatan Kuartal I-2024 Bukalapak Capai Rp 1,17 Triliun

Tumbuh 16% YoY, Pendapatan Kuartal I-2024 Bukalapak Capai  Rp 1,17 Triliun

Bukalapak mengumumkan hasil keuangan yang tidak diaudit untuk kuartal pertama yang berakhir pada 31 Maret 2024. "Pencapaian pada kuartal perdana ini adalah salah satu momen penting dalam Sejarah perusahaan berkode BUKA di Bursa Efek Indonesia ini. Untuk pertama kalinya, kami meraih keuntungan berbasis EBITDA yang Disesuaikan per kuartal sepanjang 3 bulan pertama di tahun 2024. Hasil yang luar biasa ini dicapai melalui pertumbuhan pendapatan yang kuat, take rate yang terus meningkat—terutama di segmen Online to Offline (O2O) --serta upaya pengendalian biaya operasional yang efektif," ujar Teddy Oetomo, Presiden Bukalapak.

Bukalapak, menurut Teddy, terus fokus untuk mencapai tujuan pertumbuhan dan keuntungan yang berkelanjutan di kuartal-kuartal mendatang, terutama sepanjang tahun 2025, sambil terus memanfaatkan peluang pertumbuhan dalam bisnis Mitra Bukalapak, gaming, dan e-retail. "Pencapaian ini adalah buah dari usaha dan fokus kami tersebut,” ungkapnya.

Pendapatan inti—dihitung sebagai laba bersih yang dilaporkan tidak termasuk keuntungan/kerugian investasi, nilai tukar, goodwill, dan non-recurring items—mencapai Rp 185 miliar, meningkat pesat dibandingkan kerugian Rp 117 miliar yang dialami perusahaan pada kuartal pertama tahun lalu. Basis modal, rasio modal, dan neraca keuangan Bukalapak tetap kuat dengan kas, setara kas, dan investasi likuid senilai Rp 19,1 triliun.

Pendapatan tumbuh sebesar 16% YoY pada kuartal pertama, dengan peningkatan pertumbuhan sebesar 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu di segmen O2O didorong optimalisasi dari portofolio produk yang ditawarkan dan peningkatan ragam layanan dengan cakupan lebih luas untuk Mitra sehingga mendukung kesuksesan Mitra yang terus berlanjut. Sekitar 64% dari Total Processing Value (TPV) berasal dari luar wilayah Tier 1 di Indonesia, di mana Bukalapak terus melihat pertumbuhan kuat dalam semua penetrasi all-commerce dan tren digitalisasi di antara toko ritel mikro offline. Segmen O2O sendiri mewakili 55% pendapatan Bukalapak di kuartal pertama.

Margin kontribusi Bukalapak secara keseluruhan, dihitung sebagai laba kotor setelah biaya penjualan dan pemasaran, meningkat dari Rp 104 miliar di Kuartal Pertama 2023 ke Rp124 miliar di Kuartal Pertama 2024. Margin kontribusi oleh segmen O2O sebagai persentase dari TPV naik 23 basis poin dari -0,10% dan kembali membawa angka positif untuk kedua kalinya sebesar 0,13% di Kuartal Pertama 2024. Perusahaan mengharapkan pendapatan dapat meningkat antara 15-20% YoY menjadi setidaknya Rp5.104 miliar, dengan EBITDA yang Disesuaikan diharapkan melebihi Rp 200 miliar di FY2024.

Menitikberatkan pada empat divisi, yakni mitra, mobile & console game, ritel O2O, dan layanan keuangan, Bukalapak berkomitmen untuk memberikan yang terbaik dalam layanan bagi pelanggan terus menjadi kunci. Hal ini dilakukan melalui investasi dan inovasi dalam proposisi nilai pelanggan, menawarkan berbagai pilihan, pengalaman pengguna yang lebih baik di aplikasi, dan opsi pengiriman yang lebih baik.

Selain upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan efisiensi ditambah pertumbuhan yang stabil, Bukalapak juga memiliki posisi modal yang kuat dengan kas, setara kas, dan investasi likuid, termasuk obligasi pemerintah dan reksa dana senilai Rp 19,1 triliun per tanggal 31 Maret 2024. Neraca yang kuat memungkinkan perusahaan untuk berinvestasi dalam inovasi, memperluas pasar, mendiversifikasi produk, dan meningkatkan skala operasi di waktu yang tepat.

"Kesabaran dan kerja keras kami telah membuahkan hasil melalui pencapaian target positif EBITDA yang Disesuaikan yang ditetapkan dan diumumkan lebih dari dua tahun lalu. Kemampuan untuk mengiringi pertumbuhan tersebut dengan pengembangan infrastruktur yang sesuai sehingga Bukalapak memiliki pondasi yang sangat kuat dan membentuk Bukalapak menjadi perusahaan yang lebih baik, lebih kuat, dan dapat memberikan penawaran beragam. Profitabilitas telah menjadi prioritas dibandingkan pertumbuhan. Menciptakan pertumbuhan yang menguntungkan secara berkelanjutan dan menciptakan nilai nyata sambil mengoptimalkan operasi dan menjaga disiplin keuangan adalah fokus utama tim manajemen di tahun-tahun mendatang," kata Teddy Oetomo.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved