Marketing

Kunci agar Daya Saing UMKM Indonesia di Asia Tenggara Meningkat

Asia Tenggara adalah rumah bagi jutaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang menyumbang hingga 40% dari ekonomi wilayah tersebut. Bisnis mikro mewakili hingga 94% dari total UMKM, memainkan peran penting sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, terutama di negara-negara seperti Indonesia dan Thailand.

Meski kontribusi UMKM signifikan, 90% pedagang mikro di Asia Tenggara mengalami hambatan seperti akses kredit yang terbatas, tantangan dalam mendapatkan pinjaman karena jaminan yang tidak memadai dan minim riwayat kredit, serta rendahnya literasi keuangan digital, terutama di daerah pedesaan.

Menanggapi hal ini, pelaku industri teknologi finansial, memainkan peran kunci dalam menyediakan layanan yang mudah diakses kepada segmen yang tidak terlayani. Di mana proporsi pinjaman usaha mikro terhadap layanan pinjaman teknologi finansial lebih besar dibandingkan usaha menengah

Perjalanan menuju inklusi akses permodalan bagi usaha mikro turut diiringi dengan meningkatnya tren impact investing. Di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, saat ini menjadi tempat tujuan impact investing yang memungkinkan para investor dan institusi global untuk diversifikasi portofolio mereka di pasar yang berkembang serta turut serta memberikan dampak sosial bagi masyarakat.

Pada periode 2020-2022, impact investor telah berkomitmen lebih dari 67% dari total modal yang diinvestasikan dalam periode 10 tahun sebelumnya dari 2007-2016 di Asia Tenggara. Angka ini menunjukkan percepatan tren aktivitas impact investing di wilayah tersebut.

Andi Taufan Garuda Putra, Pendiri & CEO Amartha mengatakan, inovasi teknologi dan literasi keuangan yang inklusif merupakan kunci dalam meningkatkan daya saing usaha mikro Indonesia di Asia Tenggara. Kondisi geografis yang luas selalu menjadi fokus utama dalam menyediakan akses permodalan yang merata bagi usaha mikro di Indonesia. Salah satu tantangannya adalah penyaluran modal yang belum merata di luar pulau Jawa.

“Sebagai penyedia layanan keuangan digital inklusif, kami terus berkomitmen menghadirkan teknologi terbaik yang relevan dan ramah pengguna bagi usaha pedagang mikro tradisional. Dengan begitu, memungkinkan mereka untuk mencapai potensi terbaik mereka,” kata Andi dalam siaran pers (30/04/2024).

Dalam memastikan inklusivitas, Andi mengaku pihaknya telah membangun infrastruktur keuangan digital yang menghubungkan bisnis mikro di kota-kota tier 2 dan 3 di luar Jawa, dengan menawarkan model pendanaan dan pemberian pinjaman yang terintegrasi baik dari sektor institusi maupun ritel. Hal ini memungkinkan para peminjam untuk mengakses modal kerja dengan efisien.

Lebih lanjut, guna menyediakan ketersediaan akses permodalan yang lebih luas, Andi menggunakan local branchless agents, yang memberdayakan mitra bisnis lokal di daerah pedesaan dengan menawarkan layanan keuangan digital seperti transfer peer-to-peer, tabungan mikro, dan pembayaran tagihan. Produk-produk strategis ini memperluas layanan keuangan esensial kepada para pelaku usaha mikro.

“Di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, saat ini menjadi tempat tujuan impact investing yang memungkinkan para investor dan institusi global untuk mendiversifikasi portofolio mereka di pasar yang berkembang serta turut serta memberikan dampak sosial bagi masyarakat,” ucapnya.

Pada 2023, Amartha telah mendapatkan institutions facility commitment untuk pembiayaan usaha mikro dari tiga organisasi terkemuka, yang mencapai total kontribusi sebesar $285 juta dari Community Investment Management, International Finance Corporation, dan Credit Saison. Besarnya tren impact investing serta konsisten menghadirkan inovasi teknologi yang relevan, menjadikan Amartha memiliki catatan profitabilitas yang baik selama tiga tahun terakhir.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved