Technology

Transaksi Non Tunai Beres, Konsumen Kesengsem QRIS

Tatang Sutardi menunjukkan barcode QRIS di kios kelontong dan BRILink miliknya di Depok, Jawa Barat pada Selasa, 23 April 2024. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Tatang Sutardi mengikuti arus perubahan zaman seiring dengan perubahan perilaku konsumen yang menginginkan transaksi non tunai. Tatang, yang memiliki usaha Agen BRILink dan warung kelontog menyediakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang diterbitkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero)/BRI. Konsumen tak perlu repot-repot membawa uang tunai lantaran hanya menyorongkan kamera handphone ke barcode QRIS dan scan (pindai) barcode-nya.

Transaksi beres, konsumen puas. Tatang pun tak perlu repot-repot menyediakan uang kembalian. “Sejak tahun 2022, saya menyediakan QRIS dari BRI. Sejak saat itu, uang recehan yang saya siapkan berkurang sekitar 20%. Biasanya, saya menyiapkan uang kembalian antara Rp 500 ribu hingga Rp 700 hari per hari. Uang recehan ada yang Rp 500, Rp 2.000 hingga Rp 10.000,” ujar Tatang di Depok, Jawa Barat, Selasa (23/4/2024).

Tatang dan isterinya, Yuli, memiliki Agen BRILink dan warung kelontong di Jalan Proklamasi, Sukmajaya, Depok. Kios BRILink dan toko kelontong ini sering dikunjungi konsumen dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak muda hingga pensiunan. “Anak-anak muda yang sudah bekerja sering belanja di sini. Mereka membayar di QRIS. Kalau pensiunan jarang pake QRIS. Mereka ke sini hanya tarik tunai ngambil gaji pensiunan saja di BRILink,” tutur Tatang.

Sejak menggunakan QRIS, uang recehan yang disiapkan untuk uang kembalian tak pernah kehabisan. Tatang menunjukkan toples yang tingginya sekitar 15-20 cm dan berisi uang logam. Isinya masih penuh. “Lihat tuh, recehan Rp 500 masih banyak di toples, ada sekitar Rp 200-an ribu,” sebut Tatang sambil menunjukkan toples plastik transparan yang berisi tumpukan uang logam berwarna perak itu.

Tatang memulai debut perdana sebagai Agen BRILink pada 2018. Usaha BRILink miliknya terus berkembang. Tatang dan sang isteri disokong BRI yang menyediakan QRIS pada 2 tahun silam. Sebelum menjadi Agen BRILink, Tatang mengandalkan pendapatan dari warung kelontong. Dia menjual kopi, makanan dan minuman serta produk lainnya. Waktu itu, sebagian besar pelanggan warung kelontongnya adalah para nasabah BRI Unit Depok Timur. Lokasi kios dan kantor BRI ini saling berhadapan.

Hingga kini, konsumen yang berbelanja di warung kelontongnya tak kunjung surut. Seringkali, mereka membayar non tunai. “Bayar di QRIS, pernah ada yang jajan walau jajannya cuma beli permen, bayar Rp 500 perak pake QRIS,“ ungkap Tatang sambil melempar senyum. Tatang menyebutkan pengguna QRIS adalah anak-anak muda. Mereka sudah memiliki penghasilan dan seringkali berbelanja di warung ini. Para karyawan ini kerapkali melintas di kawasan Proklamasi, Depok.

Biasanya, mereka membeli air minum dalam kemasan, teh siap minum, kopi seduh, rokok, dan lainnya. “Rata-rata transaksi QRIS sekitar 500 kali per bulan di bulan Januari hingga Maret kemarin),” sebut Tatang. Jika demikian, jumlah total transaksi di QRIS selama tiga bulan itu sebanyak 1.500 kali.

Tatang tidak terlalu terkejut dengan jumlah transaksi non tunai di QRIS-nya ini. “Perubahan zaman, kondisi dulu dengan sekarang uda berbeda, ini zamanya digital,” ucap Tatang. Lantaran demikian, dia senantiasa mengedukasi konsumennya untuk bertransaksi non tunai di QRIS.

BRI senantiasa berinovasi mengembangkan QRIS. Pada November 2023, misalnya, BRI menyediakan QRIS antar negara (cross-border) di aplikasi BRImo. Fitur ini memudahkan pengguna bertransaksi di Singapura. Selain itu, BRI telah memiliki berbagai strategi untuk terus meningkatkan kinerja QRIS, diantaranya meningkatkan akuisisi nasabah dan penetrasi user BRImo agar nasabah bisa bertransaksi secara digital, memperluas jaringan QRIS dengan meningkatkan penetrasi QRIS pada merchant, serta memperkuat sistem dan menjaga kualitas reliability.

BRI memiliki konsep pemberdayaan UMKM secara end to end. “Yakni pemberdayaan dari fase dasar hingga pengembangan platform berbasis digital yang mampu menjadi solusi pengembangan ekosistem UMKM. Hal ini bertujuan untuk memastikan UMKM mempunyai daya saing dan mampu beradaptasi dengan pasar,” ungkap Supari, Direktur Bisnis Mikro pada keterangan tertulisnya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved