Companies

Pertamina Geothermal Energy, Bertekad Ciptakan Budaya K3 ke Level Generatif

Ahmad Yani, Direktur Operasi PGE.

Tahun 2023, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGE) mencatat prestasi, antara lain, tak terjadi sama sekali alias nol facility accident di tengah load kerja yang besar di 14 wilayah kerjanya, yang meliputi Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Sebanyak 80% dari total terpasang panas bumi di Indonesia dipegang oleh anak perusahaan PT Pertamina (Persero) ini.

Di samping itu PGE juga memperoleh ESG (Environment, Social, and Environment) Rating dengan indeks 8,4, nomor 3 di dunia, di renewable power production sub industry. Dan, peringkat 120 dari 15.717 perusahaan dari seluruh sektor industri di dunia.

“Kami juga berhasil meraih PROPER Emas di Area Kamojang 13 kali, dua kali di Area Ulubelu, dan satu kali area Lahendong. Target kami ke depan, semua area harus ditingkatkan untuk area PROPER,” ungkap Ahmad Yani, Direktur Operasi PGE.

Ahmad Yani menegaskan, dalam melakukan aktivitas, PGE mengedepankan aspek mutu, kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan. Dan, keberhasilan perusahaan yang go public pada 24 Februari 2023 ini dalam mengimplementasikan program HSSE (Health, Safety, Security, Environment), karena didukung komitmen dari para top leader-nya.

“Peran leadership penting untuk mendukung program yang akan dilaksanakan, baik dari anggaran maupun kehadiran sebagai role model untuk building trust karyawan,” katanya.

Menurut Ahmad Yani, PGE punya standar acuan yang berlaku secara global dalam menjalankan HSSE, yakni ISO 45001:2018 tentang Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), ISO 14001:2015 tentang Manajemen Lingkungan, dan ISO 22301:2019 tentang Sistem Manajemen Keberlangsungan Bisnis. Implementasi sistem tersebut didukung oleh HSSE digital solution, monitoring rutin, dan audit secara berkala terkait standar yang telah ditetapkan perusahaan ini.

Pelibatan stakeholders dalam program HSSE dilakukan melalui CSMS (contractor safety management system) untuk konraktor. Sebab, kecelakaan kerja yang terjadi di wilayah operasional PGE, menurut Ahmad Yani, kebanyakan bukan terjadi langsung pada pekerja organik, tetapi kontraktor.

Maka, “Kami punya sistem CSMS untuk memastikan safety dari stakeholder memenuhi standar yang ditetapkan. Itu langkah awal kami menyaring perusahaan yang sesuai dengan standar HSEE kam,” ungkapnya.

Adapun keterlibatan pemerintah (regulator) dalam menjamin implementasi aspek HSSE dilakukan dengan melaksanakan inspeksi dan evaluasi sistem manajemen K3 dan lingkungan secara periodik dalam bentuk penilaian Subroto Award bidang K3 dan Lingkungan.

Namun, kata Ahmad Yani, hal yang juga penting ialah membangun kesadaran pekerja, yang didahului dengan tingkat pemahaman risiko bahaya di tempat kerja. “Kemudian, kami memonitor bagaimana implementasi dari pelaksanaan program. Kami punya golden rules dengan menanamkan patuh, intervensi, dan peduli yang harus dilaksanakan dengan baik oleh pekerja,” ungkapnya.

Tool yang digunakan untuk monitoring adalah MWT (Management Work Through) ke area operasi sebagai bentuk komitmen manajemen PGE. Yakni, dengan berinteraksi langsung dengan pekerja di lapangan dan memastikan program in line sampai ke bawah.

Program PGE untuk Mendorong Budaya K3 di Perusahaan

  1. Pembuatan komitmen HSSE yang ditandatangani BOD.
  2. Pelaksanaan Management Walk Through sebagai bentuk kepedulian dan aspek leadership HSSE manajemen puncak.
  3. Penyampaian HSSE Leadership Talk oleh BOD dalam pelaksanaan Grand HSSE Meeting.
  4. Pelaksanaan Grand HSSE Meeting sebagai wadah komunikasi dua arah antara manajemen dan pekerja untuk membahas aspek HSSE.
  5. Implementasi pelaporan Pengamatan Keselamatan Kerja (PEKA).
  6. Implementasi HSSE Golden Rules: Patuh, Intervensi, Peduli.
  7. Implementasi 12 Corporate Live Saving Rules.
  8. Pelaksanaan HSSE Basic Training di HSSE Demo Room.
  9. Pemasangan media kampanye HSSE (poster, banner, dll.) di lokasi kerja.
  10. Pelaksanaan audit budaya HSSE untuk memotret pencapaian budaya HSSE di PGE, dan improvement yang perlu dilakukan untuk meningkatkan budaya HSSE.

“Kami ingin menciptakan budaya HSSE ke level generatif. Kami punya asisten yang dinamakan Supreme (Sustainability Pertamina Expectation for HSEE Management Excellence). Dari situ, ada proses yang dilalui dan monitoring yang dilakukan sehingga program yang telah dijalankan dievaluasi sesuai target dan improvement ke depan,” papar Ahmad Yani.

HSSE atau K3 level generatif merupakan tingkat tertinggi. Pada tingkatan ini, keselamatan dan kesehatan kerja sudah merupakan bagian dari setiap proses dan kegiatan bisnis pada perusahaan tersebut dalam segala tingkatan.

Program MWT telah dilakukan sebanyak 23 kali ke lapangan, site verification Merrat, Ferrat, Gerrat yang dilakukan secara rutin. Sementara, dari aspek safety, PGE melakukan pre to work karena potensi bahaya dan risiko dimulai dari bagaimana karyawan memulai pekerjaan. Dan, dari aspek environment, semua kegiatan harus memenuhi aspek yang telah ditetapkan regulasi.

Adapun program green yang dijalankan PGE, antara lain, menurunkan emisi melalui efiensi energi, menggunakan energi low carbon 1.561,51 ton CO2e, merealisasi upaya 3R (reduce, reuse, recycle) limbah padat non-B3 (bahan berbahaya beracun) sebesar 71,91%, membatasi pembukaan lahan sesuai dengan kebutuhan (misalnya, stacked pipeline), serta melakukan konservasi satwa endangerd, yaitu elang jawa (nisaetus bartlesi) di Pusat Konservasi Elang Kamojang, sebanyak 143 ekor.

“Pencapaian rating ESG 8,4 sangat mendukung kepercayaan publik. Kami telah mengelola green energy dan mendukung program pemerintah untuk mencapai target net zero emission ke depan,” kata Ahmad Yani.

Arief Safari, Anggota Komite Akreditasi Nasional yang menjadi anggota juri Indonesia Best Companies in HSE Implementation 2024, mengatakan, PGE merupakan salah satu perusahaan yang dapat dijadikan sebagai benchmark dalam penerapan K3.

“PGE memiliki budaya K3 mayoritas pada tingkat proaktif dan generatif, di mana HSE sudah menjadi mindset/bagian dari pekerja dalam melakukan bisnis dan pekerja fokus pada setiap masalah HSE yang ditemukan,” kata mantan Dirut Sucofindo (Persero) itu.

Di samping itu, Arief menambahkan, PGE juga sudah memiliki sertifikasi ISO 14000 dan 45001 yang didukung aplikasi digital HSSE Pass, JPO (job hazard and safety environmental analysis), Patroli86, PEKA (Pengamatan Keselamatan Kerja), ERICA (Early Response), PAS Supreme, dan Montila (Monitoring Tindak Lanjut). Sehingga, siklus PDCA (plan, do, check, and act) serta perbaikan berkelanjutan bisa dijalankan dengan efektif dan efisien.

Dan, Dewan Juri Indonesia Best Companies in HSE Implementation 2024 pun akhirnya sepakat memberikan nilai 90,60 kepada PGE, sehingga berhak meraih predikat “Excellent”. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved