Property

Tren Positif Sewa Kantor di CBD Jakarta

Rencana proyek pembangunan perkantoran Arumaya milik Astra Property. (Ilustrasi foto Ubaidillah/SWA)

Penelitian terbaru dari Cushman & Wakefield mengungkapkan bahwa pasokan lahan dan gedung perkantoran di Jakarta diperkirakan stagnan pada tahun ini. Laporan yang berjudul "Market Beat" ini menguraikan bagaimana penyewa perkantoran mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional dan stabilitas politik pasca pemilihan umum. Namun, penyerapan sewa perkantoran di kawasan CBD (Central Business District) Jakarta tetap menunjukkan pertumbuhan pada kuartal pertama tahun ini.

Arief Rahardjo, Direktur Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia, menjelaskan bahwa tidak adanya pembangunan proyek perkantoran baru di CBD pada kuartal pertama membuat pasokan properti perkantoran di area tersebut stagnan, dengan total 7,4 juta m² per Maret 2024. Kondisi ini dipengaruhi oleh ketiadaan pembangunan dan penundaan proyek perkantoran baru, seperti penundaan pembangunan Gedung Indonesia 1.

Arief menyatakan bahwa transaksi sewa perkantoran pada tiga bulan pertama tahun ini berlangsung lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Kondisi ini disebabkan oleh sikap hati-hati pasar yang menerapkan strategi wait and see untuk mengantisipasi hasil pemilihan umum dan memantau kondisi perekonomian nasional. Akibatnya, mayoritas penyewa gedung perkantoran cenderung menunda keputusan relokasi dan ekspansi. Namun, masih tercatat beberapa transaksi penyewaan kantor di area CBD oleh penyewa seperti co-working space, lembaga keuangan, dan perusahaan ekspor-impor.

Di kuartal pertama tahun ini, penyerapan sewa perkantoran di CBD mencapai 36.600 m². Sebagian besar disumbangkan oleh ekspansi penyewa yang sudah ada dan sekitar 83% dari penyerapan kuartal ini terjadi di gedung-gedung kelas A. “Dengan tidak adanya pasokan baru yang masuk ke pasar, penyerapan bersih positif selama kuartal pertama ini telah meningkatkan tingkat hunian rata-rata pasar kantor CBD menjadi 73,5% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” papar Arief dalam risetnya yang dikutip pada Kamis, 9 Mei 2024.

Harga sewa mengalami kenaikan seiring peningkatan hunian pasar secara keseluruhan yang stabil. Pada akhir Maret 2024, rata-rata harga sewa dasar mencapai Rp166,80/m² per bulan, naik 4,5% dibandingkan periode tahun lalu. Sementara itu, harga sewa dasar dalam dolar AS menurun 1,6%, menjadi US$10,52. Biaya layanan meningkat 2,2% menjadi Rp93.400/m² per bulan.

Arief menyampaikan bahwa proses pemilihan umum yang berjalan lancar diharapkan akan meningkatkan kinerja ekonomi pada kuartal-kuartal mendatang. Hal ini diproyeksikan akan menjaga minat penyewa perkantoran. “Tingkat hunian diproyeksikan akan terus meningkat tanpa adanya pasokan kantor baru pada tahun 2024,” ujarnya.

Seiring dengan optimisme yang diungkapkan oleh Arief, situasi pasar perkantoran di Jakarta, terutama di CBD, memang menunjukkan ketahanan yang mengesankan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan politik. Stabilitas harga sewa dan peningkatan tingkat hunian mencerminkan kepercayaan yang kontinu dari penyewa terhadap pasar properti komersial Jakarta.

Dengan ekonomi yang diperkirakan membaik pasca pemilihan umum, serta tidak adanya tambahan pasokan signifikan dalam waktu dekat, pasar sewa perkantoran di CBD Jakarta diharapkan terus menunjukkan tren positif. Ini tidak hanya mengindikasikan pemulihan ekonomi yang kuat tetapi juga menawarkan peluang investasi menarik bagi para pengembang dan investor di sektor properti. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved