Best CEO

Taufik Aditiyawarman, Membawa KPI Fokus pada Pengembangan Energi Ramah Lingkungan

Taufik Aditiyawarman, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Indonesia.

Peran PT Kilang Pertamina Indonesia (KPI) dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri sangat signifikan, sebab kontribusinya mencapai sekitar 60%. Maka, stabilitas dan ketahanan energi nasional banyak bergantung pada anak perusahaan PT Pertamina (Persero) ini.

Dan, tanggung jawab untuk memimpin KPI saat ini ada di tangan Taufik Aditiyawarwan. Sarjana Teknik Mesin dari Institut Teknologi Bandung ini dipercaya menjadi Direktur Utama KPI sejak 23 Agustus 2019. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Direktur Operasi dan Produksi PT Pertamina Hulu Energi.

“Dalam melaksanakan hal tersebut, KPI berupaya untuk dapat menghasilkan produk bernilai tinggi dengan tetap mengedepankan efisiensi dan juga tetap kompetitif jika dibandingkan dengan kilang lainnya di kawasan regional. KPI dalam hal ini menjalankan operasional berbasis price reference, yakni pasar internasional,” kata Taufik.

Menurut CEO KPI ini, dalam beberapa tahun terakhir terdapat tantangan yang dihadapi perusahaan yang dipimpinnya itu untuk mempertahankan atau meningkatkan kinerja. Di antaranya, pertama, dampak pandemi Covid-19, yang mengakibatkan perubahan kebutuhan BBM. Tahun 2020-2021, akibat adanya pembatasan mobilisasi sosial, permintaan BBM menurun. Namun, menginjak tahun 2022 kondisi mulai normal yang membuat permintaan akan BBM meningkat.

Kedua, dampak geopolitik dan konflik yang terjadi di sejumlah negara, yang menyebabkan beberapa implikasi. Antara lain, volatilitas harga komoditas, termasuk minyak mentah dan produk olahan kilang, serta perubahan alur logistik supply & demand.

“Hal ini sangat berpengaruh pada industri minyak dan gas, termasuk KPI, karena mayoritas atau hampir seluruh produk merupakan produk turunan minyak mentah,” kata Taufik, yang menyelesaikan pendidikan pascasarjana di MBS University of Manchester United Kingdom. Dengan adanya volatilitas harga, KPI harus mencari peluang dan melakukan inisiatif strategis agar dapat mempertahankan kinerja yang apik dan sesuai dengan target yang ditetapkan oleh pemegang saham.

Namun, Taufik meyakini, salah satu kunci utama yang mendorong peluang bisnis baru ini berasal dari tantangan yang dihadapi. Dari tantangan tersebut, kemudian dia dan tim melihat kilang yang dimiliki saat ini dan dengan upaya yang dilakukan, baik secara short term maupun long term, dapat menghasilkan margin dan menjadi new growth engine untuk KPI ke depan.

Selain itu, “Dengan adanya tuntutan tersebut, tentunya kami melihat kebutuhan di pasar meningkat sehingga harga di pasar juga tergolong baik. Dengan demikian, secara optimasi produk kami dapat memaksimalkan produksi di KPI,” tambahnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, KPI menyusun program dan strategi inisiatif yang terkait dengan pengadaan bahan baku BBM, menjalankan efisiensi proses produksi, meningkatkan produksi yang bernilai jual tinggi sehingga didapatkan margin dan profitabilitas yang baik, serta mengembangkan dan menjaga pertumbuhan perusahaan untuk menjadikan KPI sebagai world class refinery & petrochemical company.

Di samping itu, juga mewujudkan keberlanjutan/sustainability perusahaan. KPI bersama Pertamina Group telah menjalankan program terdepan dalam melaksanakan dekarbonisasi untuk menurunkan emisi dan melaksanakan rating ESG (Environmental, Social, and Governance). “Tahun 2023, kami mendapatkan rating 24,2 atau telah masuk dalam medium risk, dan menjadi urutan ke-9 dunia dalam sub-industri kilang dan pemasaran,” ungkap Taufik.

Menurutnya, untuk menjalankan program KPI sebagai sebuah organisasi yang besar dengan jumlah pekerja organik mencapai 5.900 orang, dibutuhkan visi, misi, dan program strategis yang jelas. Kemudian, diturunkan dalam program kerja yang mudah dipahami, realistis untuk dijalankan, serta tecermin dalam Key Performance Indicators (KeyPI) fungsi dan pekerja.

“Penyusunan program kerja tersebut dijalankan tidak hanya top-down sesuai dengan target yang diminta oleh pemegang saham, tapi juga bottom-up sesuai dengan masukan dan brainstorming yang dilakukan oleh tim. Hal ini yang kami jalankan. Sebagai contoh, di tahun 2023, saat kondisi spread market menurun, dengan upaya program value creation yang disusun oleh tim sebanyak 18 inisiatif, profitabilitas KPI dapat terjaga dengan baik,” Taufik memaparkan.

Agar strategi dapat dieksekusi dan dijalankan karyawan secara efektif –dan mereka dapat memahaminya dengan mudah‒ kuncinya adalah komunikasi. Beberapa upaya pun telah dijalankan untuk mengubah pola pikir dan pola kerja yang kompleks, menjadi lebih singkat dan transparan. Misalnya, mengadakan pertemuan (townhall) dengan seluruh pekerja untuk membangun alignment, hingga penyusunan KeyPI yang specific, measurable, achievable, relevant, and time-bound (SMART).

Taufik mengungkapkan, capaian yang dihasilkan selama 1-2 terakhir di antaranya kinerja keuangan terbaik dalam sejarah sub-holding Pertamina Group ini, yaitu dengan meraih laba US$ 349 juta. KPI juga mampu mempertahankan kemandirian energi dalam menyuplai produk avtur dan solar, yang 100% dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Selain itu, beberapa Proyek Strategis Nasional telah diselesaikan. Antara lain, Green Refinery Cilacap Phase 1 yang mampu memproduksi HVO dan SAF, serta RDMP Balongan yang mampu meningkatkan kapasitas KPI Balongan, dari 125 ribu barel menjadi 150 ribu barel per hari.

Dengan pola kerja dan komunikasi yang telah dibangun saat ini, Taufik yakin, KPI akan berkembang semakin baik, lebih agile dan adaptif. Terlebih, jika dilihat pada beberapa tahun terakhir, perusahaan dapat survive dan terus membukukan kinerja positif. Dia bertekad, sebagai garda terdepan dalam pemenuhan kebutuhan energi, khususnya BBM, KPI akan berupaya dapat menjaga kestabilan energi dalam negeri.

Salah satu yang didorong sebagai tujuan dan visi ke depan KPI ialah fokus mengembangkan atau diversifikasi produk energi lain yang ramah lingkungan. Contohnya, biofuel, blue ammonia, dan metanol yang masih sangat dibutuhkan, terutama dalam upaya dekarbonisasi. Di samping itu, juga akan didorong untuk pemanfaatan H2 dan CO2 excess untuk dapat ditangkap dan diutilisasi lebih lanjut.

Produk BBM ramah lingkungan, menurut Taufik, saat ini mampu berkontribusi 7%-10% dari 10 besar produk yang dihasilkan KPI. Dia melihat ke depan kebutuhan BBM ramah lingkungan ini akan terus meningkat. Dan, perusahaannya pun akan terus berupaya, dengan pengembangan kilang, dapat menambah volume dan menjadi pemain regional di masa mendatang.

Menurut Taufik, volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA) merupakan tantangan yang masih harus dihadapi ke depan. Untuk itu, dia menegaskan, gaya kepemimpinan yang dibangun haruslah berorientasi pada perubahan yang dinamis.

“Dalam kondisi seperti ini, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat memberikan keputusan dan memimpin berdasarkan kondisi dan situasi (situational leadership),” dia menegaskan. (*)

Sri Niken Handayani


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved