Sajian Utama

Coach Justin; “Be Yourself!”

Di rumahnya, Justin rutin mengunggah video analisis atau komentar untuk netizen (IG @Coachjustinl)

Bicara tentang dunia sepak bola Indonesia saat ini, tampaknya kurang lengkap jika tak menyinggung sosok yang satu ini: Justinus Lhaksana, yang lebih dikenal sebagai Coach Justin (baca: Jastin), atau yang sering juga disapa Koci.

Lelaki kelahiran Surabaya, 28 Juli 1967 ini memang bukan mantan pemain timnas sepak bola nasional. Kendati punya banyak koleksi jersey orisinal, dia tak pernah meliuk-liuk menggiring bola di lapangan hijau dengan klub mana pun.

Tapi jangan keliru, untuk urusan komentar sepak bola, bisa dikatakan Coach Justin adalah salah satu pengamat paling berpengaruh yang komentarnya selalu ditunggu-tunggu fans sepak bola di Tanah Air. Komentar serta celetukannya yang ceplas-ceplos dan pedas, seakan menjadi bumbu yang menambah gurih keriuhan perbicangan di antara fans sepak bola. Bahkan belakangan, Justin seakan selalu ada di pusaran kontroversi dunia sepak bola nasional seperti kasus jersey timnas serta polemik naturalisasi yang membelah menjadi dua kubu: pro dan anti naturalisasi.

Anda yang rutin mengikuti YouTube Justin tentu paham betul dengan narasi-narasinya yang lugas macam “sok asyik, lo”, “jangan kardus”, “nguber pantat”, “krosang-krosing”, “seperti kapas basah”, sampai makian-makian khasnya yang membuat banyak netizen terbelah: menjadi haters, atau fans beratnya, yang kemudian Justin menjulukinya sebagai “Domba-domba gue”.

Suka atau tidak, inilah dunia Justin sekarang. Dunia mengomentari pertandingan serta ragam polah klub (pemain, manajemen, sampai pemilik klub), dan industri sepak bola. Hari-harinya disibukkan dengan taping komentar sepak bola atau live reaction pertandingan secara langsung. Dan jangan heran, saat live reaction, puluhan ribu orang sering memantengi kanal YouTube-nya untuk menunggu reaksinya yang natural.

Ada yang menunggunya tertawa terbahak atau marah-marah, untuk kemudian dijadikan meme yang di-share di kalangan netizen penggemar si kulit bundar. Tapi banyak pula, para “domba-dombanya” yang membeli produk yang menjadi sponsor live reaction, atau menyumbang – istilahnya saweran – sesuka hati mereka untuk meramaikan suasana. Bahkan ada salah seorang “dombanya” yang rutin menyawer Rp500 ribu saat Justin siaran langsung.

Keterlibatan lelaki plontos berkacamata di jagat para pandit (ahli atau analis) sepak bola Indonesia, sejatinya dimulai tahun 2008. Saat itu dia diundang menduduki kursi komentator Liga Belanda (Eredivisie) di TVOne karena dianggap belum ada yang memahami liga Negeri Kincir Angin tersebut. Para komentator sepak bola di Tanah Air memang lebih akrab dengan Liga Inggris dan Liga Spanyol yang lebih gemerlap. Justin dipandang yang paling memahami lekuk-lekuk Eredivisie.

Klub-klub Belanda memang bukan hal asing buatnya, apalagi dia adalah seorang Utrechters, pendukung fanatik FC Utrecht. Lahir dari ayah berkebangsaan Belanda dan ibu dari Indonesia, Justin hijrah ke Utrecht – kota terbesar keempat di Belanda – pada tahun 1979 bersama kedua orang tuanya.

Bersekolah Ilmu Politik di salah satu universitas dan bekerja di negeri itu (menjadi sales manager perusahaan asuransi dan retail manager perusahaan telekomunikasi), semasa mudanya, Justin rutin menonton klub berjuluk Utreg atau Domstedelingen ke mana pun mereka bertanding. Dari tribun penonton, Justin tak pernah lelah mendukung tim kesayangannya bertanding. Dia baru kembali ke Indonesia tahun 1999, tinggal di Jakarta dan berkiprah sebagai sales manager di salah satu anak usaha Grup Sinarmas.

Berawal dari Futsal

Persahabatannya dengan mendiang Adjie Massaid membawanya ke dunia yang tidak disangka akan membesarkan namanya. Tahun 2003, Adjie yang bernama lengkap Raden Pandji Chandra Pratomo Massaid, mengajak Justin membantunya mengembangkan futsal. Seperti halnya Justin, Adjie yang kelahiran 7 Agustus 1967 itu juga besar di Belanda dan penggila berat sepak bola, terutama FC Ajax – klub yang nota bene justru dianggap musuh bebuyutan para Utrechters.

Adjie sendiri diminta Agum Gumelar yang saat itu menjabat Ketua PSSI (1999-2003) untuk mengangkat futsal Indonesia di tahun 2002. Futsal yang dipopulerkan oleh Juan Carlos Ceriani pada 1930 di Montevideo, Uruguay, sejatinya sudah mulai dikenal dan dipopulerkan di Indonesia sejak 1998-1999, di antaranya lewat peran Ronny Pattinasarani, Abi Hasantoso dan Budiarto Shambazy. Namun saat itu bisa dikatakan futsal masih adem ayem.

Agum ingin Adjie makin memanaskannya. Apalagi di tahun 2002, ada momentum besar: Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah oleh Asian Football Confederation (AFC) dalam penyelenggaraan putaran final kejuaraan futsal tingkat Asia di Jakarta, 22-30 Oktober 2002. Kelak, bagi para penggiat futsal di Tanah Air, momen ini dianggap sebagai sejarah awal futsal di Indonesia.

“Adjie mengajak gue masuk, terus kami bikin SSB (sekolah sepak bola) tahun 2003, Adjie Massaid Futsal Clinic. Itu SSB futsal pertama (di Indonesia) yang sampai saat ini masih ada,” ungkap Justin.

Setelah itu, keduanya menempuh kesibukan masing-masing. Adjie terjun ke politik dan kelak menjadi anggota DPR. Justin pun meninggalkan dunia kantorannya. Dia mengelola SSB ini. Bahkan berangkat ke Belanda untuk mengikuti kursus kepelatihan futsal yang dibuktikan dengan keberhasilannya meraih sertifikat kepelatihan futsal KNVB (Asosiasi Sepak Bola Belanda).

Tiada dinyana, perubahan kepengurusan di PSSI membawa angin baru bagi kehidupan Justin. Ronny Pangemanan, Direktur Departemen Futsal era pengurus baru PSSI yang dipimpin Nurdin Halid, menghubungi Justin yang telah selesai menimba ilmu futsal dari KNVB. “Gue diminta pegang Timnas Futsal,” ungkap Justin. Saat itu kalender menunjukkan tahun 2004.

Ilmu futsal yang ditimbanya di Belanda benar-benar diaplikasikan Justin. Meski awalnya diragukan banyak kalangan, dia sukses membawa Timnas Indonesia berlaga di Kejuaraan Futsal AFC pada 2005 dan Piala Asia di Vietnam. Bahkan sempat mengantarkan timnas meraih runner up AFF Futsal Championship pada 2006 dan 2008 serta peringkat 3 pada 2005 dan 2009.

Di sela-sela waktu menjadi pelatih timnas futsal inilah Justin memulai kariernya di dunia komentator sepak bola. Berawal dari mengomentari klub-klub Eredivisie, wajahnya kemudian wara-wiri di layar kaca dan akrab bagi penggila si kulit bundar. “Gue mulai fokus di TV bahas Liga Eropa sampai Piala Dunia dan mulai tinggalin futsal,” ujarnya.

Sejumlah televisi mengontraknya, meminta analisisnya. TV One, Net TV 4, TVRI, dan Bein Sport 2 menghadirkannya rutin. Kendati semula lebih banyak berkiprah di futsal, tak sulit bagi Justin untuk menganalisis pertandingan sepak bola yang dimainkan di lapangan yang lebih luas. Pengagum berat legenda sepak bola dunia, Johan Cruyff ini melihat inti dari sepak bola selalu sama, entah itu lapangan kecil atau luas: bagaimana menciptakan ruang serta peluang. Dan Justin adalah tipikal pemuja sepak bola modern berbasis sistem permainan, bukan skil individu sehingga analisisnya mendasarkan pada hal tersebut.

Titik penting yang membalik kehidupannya terjadi tahun 2018 saat memutuskan meninggalkan televisi dan membuat kanal YouTube-nya sendiri. Tentang hal ini, Valentino Simanjuntak, yang akrab disebut Valent Jebret, memberi kesaksiannya.

Waktu itu tahun 2018. Saya bertemu Justin yang biasa bawa BMW, kok bawa Avanza. Saya tanya, ‘Kenapa lu bawa Avanza?’ Dia lalu bilang mobil itu pun milik orang. Saya tanya lagi, ‘Kenapa lu?’ Dia jawab, ‘Hidup gue lagi di bawah. Tapi biasalah, hidup gue kadang di atas, kadang di bawah.’

Saya lalu bilang, ‘Kenapa lu ga coba YouTube. Lagi rame. Lu kan punya ciri khas, ngomong lu nyeleneh, belagu, jadi orang tuh pasti akan akan banyak respon.’

Bagi banyak yang mengenal dekat Justin -- seperti Valen --, sosok yang satu ini memang figur yang ceplas-ceplos. Bahkan keras kepala jika merasa benar. Valen merasa, Justin punya karakter di tengah para pandit sepak bola lainnya. Valen sendiri sosok pembawa acara sepak bola yang dikenal dengan gaya komentarnya yang energik dan ekspresif, terutama menggunakan kata "jebret" sebagai ungkapan ketika terjadi gol.

Anjuran itu pun diikuti Justin. TV ditinggalkan. “Gue fokus di YouTube,” ujar Justin yang memang juga sudah memikirkan untuk menggeluti dunia yang baru baginya ini. Baginya, tak ada kata “sudah terlalu tua” untuk memulai profesi barunya. Tahun itu, usianya menginjak 51 tahun.

Be Yourself!

Bermodal peralatan seadanya, dan tidak dalam sebuah studio megah, Justin pun merintis karier menjadi YouTuber. Dia berusaha disiplin untuk mengomentari pertandingan sepak bola. Di mana pun berada, dia berusaha taping lalu mengunggahnya. Dia mencari bentuk dan pola. Tapi akhirnya kebanyakan dilakukannya di salah satu ruangan di apartemennya dengan nuansa rumah orang pada biasanya, dengan latar rak pajangan, bukan studio selayaknya ruang mengambil rekaman untuk sebuah siniar (podcast).

Saat awal menjalani karier sebagai YouTuber, Justin seakan mengulang kembali apa yang sudah dilakoni sebelumnya ketika dia diminta menjadi komentator dari posisi seorang pelatih Timnas Futsal.

“Awal-awal memang kita harus adaptasi. Ngomong di TV itu enggak gampang, tapi kalau dibilang sulit, ini masalah adaptasi aja. (Waktu di TV) Adaptasi saya setahun sampai dua tahun, dan tahun ketiga itu pelan-pelan lebih smooth,” ujarnya.

Apakah dia pernah kursus public speaking?

Enggak pernah, lancar saja. Belajarnya dua tahun pertama di TV, dibimbing sama produsernya. Awal-awal juga kagok tapi lama-lama kan kita belajar, di situ kita berkembang terus,” dia menjawab.

Adaptasi. Itu kuncinya. Dan adaptasinya di YouTube berlangsung cepat. Justin benar-benar menjadi self-employed. Dia tak punya tim yang dedicated untuk mengatur proses kreatif. “Gue handle sendiri,” katanya.

Apa yang ditemukannya di YouTube ternyata membuatnya bahagia. Dia merasa lebih bebas untuk bicara di platform ini ketimbang menjadi komentator di televisi. Ini sejalan dengan keinginannya, yang selalu diutarakan di semua platform online.

“Kenapa gue bikin YouTube? Gue ingin ngedidik netizen. Gue ingin mencerdaskan netizen tentang sepak bola karena sekarang itu banyak yang merasa sepak bola itu hanya soal menang kalah. Sepak bola itu terlalu indah (untuk sekadar) dinilai dari menang kalah. Di YouTube, gue punya waktu lebih banyak untuk menjelaskan. Di TV itu kena iklan-iklan, susah. Di YouTube, gue juga lebih bebas ngomong, mau ngomong kasar, mau ngomong apa lah, bebas.”

Sewaktu masih aktif di televisi sebagai komentator (Dok. Bein Sports).

Justin terjun sepenuhnya menjadi pandit sepak bola di YouTube pada tahun 2021. “Waktu Piala Eropa 2020 (digelar 2021), gue pensiun dari TV, dari menjadi komentator match di TV, fokus ke YouTube,” katanya.

Keputusan ini rupanya membawa berkah. Seperti meteor, dia melesat. Pamornya terus menjulang. Seperti botol bertemu tutupnya, publik rupanya menyukai gaya Justin yang ceplas-ceplos di tengah analisisnya yang tajam; membahas taktik hingga mentalitas pemain. Seperti chef, fans berat klub Barcelona serta Arsenal ini menghidangkan makanan yang hangat dan gurih. Ulasannya yang disertai umpatan sesekali atas perilaku pemain sepak bola, menjadi bumbu yang menyegarkan. Yang membuat sajian renyah. Publik melihat sesuatu yang natural.

Harus diakui, kursus di KNVB dan pengalaman Justin menjadi pelatih membuatnya memahami apa yang dihadapi pemain di lapangan serta ruang ganti, baik dari sisi taktik maupun psikologis. Ini sebuah nilai lebih yang tak dimiliki banyak pandit yang kebanyakan datang dari jurnalis olah raga, yang karena latar belakangnya membuat mereka lebih banyak mengamati alih-alih bersentuhan langsung dengan aspek teknis dan non-teknis di lapangan atau ruang ganti. Terlebih banyak pelatih atau mantan pemain berkarier di klubnya masing-masing ketimbang menjadi YouTuber sehingga Justin relatif tidak punya YouTuber pesaing yang memiliki pengalaman serupa.

Maka kanal @JustinusLhaksana28 pun perlahan-lahan punya tempat tersendiri di hati fans sepak bola nasional. Subscriber-nya terus terbang – kini 816 ribu – menyusul pandit lain, Binder Singh lewat kanal @bolabungbinder yang diikuti 907 ribu subscriber. Undangan mengisi talkshow di YouTube pun terus bertambah. “Sekarang ada tujuh talkshow,” dia mengungkap.

Ketika ditanya apa rahasianya untuk membangun personal branding sebagai pandit sepak bola, Justin menjawab singkat: “Be yourself.”

Menurutnya, tidak ada teori khusus yang dipraktikannya. “Jadi diri Anda sendiri. Jangan takut dikritik, jangan sok-sok pansos. Lakukan sesuai dengan karakter Anda. Jangan takut untuk ngomong, berani anti-mainstream, asal semua ada dasarnya,” dia menegaskan.

“Jadi untuk gue, kalau bicara personal branding, gue lakukan apa yang gue ingin lakukan. Jadi gue nggak ada jaim-jaimnya. Gue tunjukkan gue bisa marah, bisa emosional, bisa kesel, tapi gue juga bisa tertawa, bisa happy. Gue itu bagian dari mereka (pemirsa). Mereka melihat identitas diri gue itu di diri mereka sendiri, bahwa mereka pun juga bisa seperti itu. Nah, sementara banyak komentator itu takut di-bully, pengen aman, main data, gue itu enggak main aman. Itulah karakter yang lama-lama terbentuk. Karena mereka melihat diri sendiri, bagian dari karakter mereka itu ada di gue. Itu yang membuat nama gue naik terus,” kata Justin panjang lebar dengan penuh percaya diri.

Karena gayanya seperti itu, Justin pun menjadi sosok yang terkesan sulit diatur. “Orang (memang) gak bisa ngatur gue, ‘Lo harus begini, begini’. Gak ada cerita itu. Jadi semua yang kalian lihat di semua akun gue, itu semua alami. Enggak ada yang dibuat-buat, gak ada yang ngatur, gak ada titipan, gak ada yang harus gue ngomong ini-itu, gak ada. Semua itu alami, semua ngomong dari hati gue. Gue gak bisa diatur,” dia menegaskan.

Sikap inilah yang mengundang banyaknya haters yang kemudian sering diblok Justin – yang jumlahnya hingga belasan ribu akun – di akun media sosialnya. Bahkan orang-orangnya yang mengenalnya dekat pun kadang dibuat jengkel. “Memang kadang jadinya kita sama-sama kesel karena omongannya, keras kepalanya, belagunya. Tapi akhirnya saya mengerti apalagi dia latar belakangnya juga dari Belanda. Orang-orang Belanda juga stereotipenya terkenal enggak mau diatur, keras kepala, gak mau mengalah, tapi jujur, tidak ada kepalsuan, tidak ada ngomongin kita di belakang, tidak ada yang pengen nusuk kita dari belakang,” komentar Valen. Bersama Justin, Valen tak punya kerja sama langsung. Justin hanya menjadi salah seorang talent dalam program Dewan Pundit Indonesia yang dimiliki Valen lewat Jebret Media. Baik Justin dan Valen memang ingin keduanya tidak terikat secara ekslusif sehingga mereka bisa tampil di mana pun. "Yang penting persahabatan terjaga," ujar Valen.

Pandit Termahal

Yang menarik, dengan karakternya seperti itu, sinar Justin justru berkilau di kalangan pemilik brand. Pemilik-pemilik merek mendatanginya. Reputasinya sebagai pandit yang kompeten dengan segala kepribadiannya yang unik membuatnya tampak menonjol.

Ujungnya, tak heran jika berita pun beredar di kalangan para pandit sepak bola Tanah Air: Justin adalah pandit termahal. Benar begitu?

“Benar, memang dia pandit termahal dalam rate YouTuber bola. Kerja sama dengan brand itu harga dia lumayan paling tinggi di antara yang lain. Jadi kalau saya bisa bilang, dia pandit paling mahal saat ini,” ujar Valen penuh keyakinan.

Faktanya, Justin memang pasang harga lumayan. “Satu kali posting itu di Rp25 juta sampai Rp35 juta. IG dan YouTube kira-kira sama, Twitter, TikTok lebih murah dikit. Tergantung produknya juga. Kalau produk rokok, gue cash gede. Produk besar gue cash gede. Kalau produk agak kecil, gue cash lebih murah, bisa Rp20 juta sampai Rp25 gitu. Jadi ada pertimbangan, lihat size brand,” katanya. Di luar itu, dia mengungkap menolak produk yang tidak halal dan promosi judi.

Yang menarik, di samping kolaborasi dengan pemilik merek, Justin sendiri adalah pandit yang berani memonetisasi YouTube miliknya yang dikibarkan lewat brand JustTalk, dengan para subscriber lewat pola berlangganan, dengan tarif Rp30 ribu per bulan untuk para “Domba” dan Rp19.900 untuk “Rookie”. Lalu, berapa sih sebenarnya jumlah pelanggannya?

“Itu rahasia, enggak boleh ada orang yang tahu,” ujar Justin diplomatis. Namun yang pasti dia menyebut persentase “Domba” sedikit lebih banyak, 55%, dibanding Rookie (45%).

Apa pun, pilihan Justin untuk meninggalkan TV tampaknya adalah keputusan yang benar. Berarti duit di YouTube memang lebih besar, dong dibanding TV?

“Wah, 10 kali, 10 kali lipat lebih gede,” dia menjawab lugas.

Sebab potensi besarnya cuan tersebut, Justin pun menjadi entrepreneur di YouTube. Dia mengepakkan sayap bisnisnya. Dibangun 4 kanal dalam naungan Just Talk Media, yakni: Offside Duo (140 ribu-an subscriber), Cik Nit (5 ribu-an), Akang Racing (1600-an), dan Tackle Bebas (5000-an), yang semuanya di luar Just Talk. Untuk mengelola kanal-kanal tersebut, Justin yang memulai dari sendirian, kini dibantu 5 orang: dua editor, dua desainer, plus manager YouTube.

Makin banyak pemilik brand yang menggunakan Justin untuk promo. Termasuk lewat Live Commentary (Dok. Istimewa)

Dengan larisnya di jagat YouTube, maka Justin pun menjadi orang yang super sibuk. Dalam sehari, rata-rata 3-4 kali taping dilakukan, bahkan bisa 6 kali taping. Belum lagi bila ada pertandingan, dia bisa memberikan live reaction yang juga ditunggu dengan setia oleh para “dombanya”, yang tetap dilakukannya meski sudah memasuki dini hari mengikuti jadwal pertandingan – seperti Liga Champions yang memang biasanya berlangsung mulai sekitar pukul 02.00 WIB.

Gue selalu tidur setelah subuh. Ketenangan gue dapatkan jam subuh sampai jam 12 siang. Waktu tidurnya itu jam 5 pagi atau jam 6 pagi. Bangun jam 12. Jam 13 itu aktif sampai malam,” dia bercerita. Tentang pola hidupnya ini, banyak kawannya mengingatkan untuk menjaga kesehatannya. Terlebih Justin adalah penggemar coke.

Kendati makin berkibar, lelaki yang memang berprinsip tak mau berada di zona nyaman ini terus mencari cara untuk me-leverage personal branding yang telah dibangunnya. Kini dia menghidupkan lagi bisnis clothing, berjualan t-shirt yang sempat vakum. Rencananya, istrinya yang sebentar lagi pensiun dari pekerjaannya akan memegang bisnis ini.

Di luar itu, dia masih punya rencana lain. “Gue mau fokus ke bisnis sewa (lapangan) mini soccer. Yang pertama itu di Depok, di Hotel Bumi Wiyata. Ke depannya gue akan bangun mini soccer, namanya (brand) Koci. Investasi mini soccer yang di Depok ini sekitar Rp6 miliar. Setelah di Depok, rencana mungkin nanti di beberapa tempat di Jakarta,” ujarnya.

Sembari menyiapkan rencana itu, dalam waktu dekat, yang tengah digodoknya adalah program mengisi Piala Eropa. “Gue (akan) live commentary. Banyak, ada sekitar 30-an lah live reaction. Live reaction itu kan lagi laku banget, jadi gue sudah dapat sponsor untuk live reaction,” katanya penuh semangat.

Melihat perjalanan yang telah diayunnya, apa yang menantangnya kini, yang juga sering diungkapkannya di kanal YouTube-nya adalah terus membuatnya menjadi yang terdepan dan relevan. Kuncinya? “Gue gak boleh merasa nyaman di zona aman.”

Dia sendiri meyakini apa yang membuatnya bisa sampai di titik ini adalah orisinalitas dan inovasi. “Karena itu gue harus tetap orisinal. Gue itu bekerja di (dunia) kreatif. Orisinalitas itu tidak dipaksakan dan tidak dengan sengaja. Kalau kita orisinal terus, orang ngikutin semua. Jadi, orisinalitas itu yang coba terus dibangun. Istilah-istilah yang biasanya dilontarkan, itu semua spontan, itulah bagian dari orisinalitas,” ujar lelaki yang terus aktif melahap koran-koran asing, termasuk berbahasa Belanda agar tetap up-to date dengan informasi terkini di jagat sepak bola dunia.

Melihat apa yang dicapai Justin, Valen merasa ikut bahagia. Namun dia juga menitipkan pesan. “Enjoy while you on the top. Tapi ingat, justru on the top itu anginnya banyak, terus oksigen semakin sedikit, jadi harus pintar-pintar untuk bisa maintenance dan membuat karya-karya yang lain.”


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved