Sajian Utama

Living Legend, Resep Tripatra Menggeber Inovasi dan Diversifikasi Bisnis

President Director & CEO Tripatra, Raymond Naldi Rasfuldi. (Foto : Prio Santoso/SWA).

Tak mudah bagi pelaku bisnis kontraktor swasta untuk terus berjaya puluhan tahun, terutama karena persaingan dan karakter bisnisnya yang begitu keras. Terlebih bila masuk di bisnis konstruksi sektor migas, pemain-pemain kontraktor EPC (engineering, procurement & construction) kelas global yang umumnya mendulang kesuksesan dan menonjol di bisnis ini. PT Tripatra Engineers and Constructors (Tripatra) adalah contoh terbaik dari perusahaan swasta lokal yang layak mendapat acungan jempol. Perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Wiwoho Basuki dan Iman Taufik ini terus eksis sebagai pemain utama di sektor EPC hingga sekarang.

Reputasi Tripatra sudah dikenal sebagai perusahaan nasional bidang rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC), dan manajemen proyek. Perusahaan yang berdiri sejak 1973 ini berpengalaman di sektor ini. Tripatra merupakan pionir dalam pengembangan engineering dan project manajement, khususnya dalam bidang industri petrokimia serta minyak dan gas (migas). Seiring berjalannya waktu, perusahaan ini kemudian berkembang ke sektor lain seperti pengembangan fasilitas marine & offshore, petrochemicals & industrial plants, power generation & transmission dan bahkan sempat menggarap bisnis sistem telekomunikasi.

Hingga saat ini, Tripatra dikenal sebagai penyedia jasa terintegrasi pada sektor energi. Jumlah karyawannya sekitar 1.000 orang untuk menggarap berbagai proyek. Sederet portofolio Tripatra adalah proyek onshore dan offshore untuk membangun fasilitas pengolahan migas, LNG, maupun LPG. Bebarapa kliennya adalah perusahaan papan atas, diantaranya HESS Indonesia, Pertamina, Samtan Gas, PLN, ExxonMobil Cepu Ltd, Medo E&P Tomori, Inpex Masela, Eni Muara Bakau B.V, BP Berau Ltd, dll.

Saat ini, Tripatra diminta oleh Saipem dan Daewoo untuk mengerjakan proyek Front-End Engineering and Design (FEED) pada fasilitas hulu proyek di PNG LNG di negeri tetangga, Papua Nugini. "Kami mengedepankan budaya inovasi dan kolaborasi dengan menerapkan metodologi manajemen proyek terkini," ungkap President Director & CEO Tripatra, Raymond Naldi Rasfuldi, tentang sukses perjalanan Tripatra hingga lebih dari 50 tahun.

Tripatra menggulirkan beragam inovasi. Praktik pengembangan bisnis ini menjadi ujung tombak Tripatra dalam menghadapi persaingan bisnis yang ketat. Tripatra berkomitmen terhadap pengembangan inovasi di seluruh lini dan mendorong partisipasi aktif seluruh karyawannya dalam menciptakan solusi inovatif. Bukti nyata dari komitmen ini adalah membentuk Transformation Management Office (TMO) sebagai organisasi khusus yang berperan penting dalam menghimpun dan mengolah ide-ide inovatif menjadi inisiatif bisnis yang nyata.

Inovasi Berbasis Teknologi

Contoh dari inovasi itu, misalnya, Tripatra menerapkan sistem dan aplikasi terbaru untuk meningkatakan efektivitas dan efisiensi pengelolaan proyek, termasuk menghadirkan aplikasi praktis untuk memudahkan hubungan dengan pemasok dan mitra. Tripatra menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan teknologi domestik maupun internasional.

Sebut contoh, Tripatra menerapkan digitalisasi modeling konstruksi dengan teknologi BIM (Building Information Modeling). Teknologi ini bisa dilakukan simulasi digital secara komprehensif dari proyek dan mengurangi risiko kesalahan. Implementasi BIM ini meningkatkan akurasi dan efisiensi pada perencanaan, desain, dan konstruksi.

Tak hanya itu, untuk memperkuat manajemen proyek, Tripatra telah menerapkan Digital Control Tower (DCT) dan Live Project Management System (LPMS) yang sangat membantu efisiensi di operasional. Sistem-sistem ini memungkinkan pengintegrasian dan analisa data proyek secara real-time, memperkuat komunikasi tim, dan mempercepat proses pengambilan keputusan. Tripatra juga membuat aplikasi Tripatra Application (TAP) modul E-Procurement yang memudahkan perusahaan berkomunikasi dnegan pemasok, mengelola rantai pasok (supply chain), memastikan transparansi dan efisiensi, serta mempercepat proses pengadaan.

Inovasi tak hanya di sisi teknologi. Sebab, Tripatra berinovasi mengembangkan lini usaha. Tripatra sejak 2019 menggenjot tranformasi bisnis sehingga bisa mengepakkan sayap bisnis ke segmen lainnya. Bila di era awal Tripatra lebih banyak menggarap sektor migas dan petrokimia, maka Tripatra semakin aktif sebagai kontraktor di sektor infrastruktur dan energi terbarukan.

Perusahaan yang merupakan bagian dari Indika Energy Group ini makin aktif dalam program transformasi energi dan proyek percepatan hilirisasi. Saat ini, Tripatra sudah mulai masuk ke proyek energi baru terbarukan (EBT) seperti panas bumi, energi surya, dan biofuel generasi kedua.

Pendapatan Tripatra pada lima tahun mendatang itu diproyeksikan bersumber dari sektor EBT dan proyek EPC pada hilirisasi pengolahan mineral. Sektor ini diprediksi menjadi kontributor utama terhadap total pendapatan Tripatra. Pelan tapi pasti, Tripatra menggenjot proyek di sektor EBT.

Raymond Naldi Rasfuldi, President Director & CEO Tripatra. Manajemen Tripatra menggulirkan program inovasi berbasis teknologi dan pengembangan SDM. (Foto : Prio Santoso/SWA) .

Contohnya, sejak 2021, Tripatra diminta oleh Star Energy Geothermal Salak Ltd (SEGS) untuk membantu perluasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak. Dalam proyek itu Tripatra menyediakan layanan EPC untuk pembangunan Brine Heat Recovery Binary Power Plant dengan potensi output mencapai 14 MW (mega watt). SEGS merupakan salah satu operator pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di dunia dengan kapasitas pembangkit mencapai 377 MW.

Manajemen Tripatra terus berusaha memastikan bahwa transformasi dan inovasi selalu berdampak positif terhadap keberlanjutan bisnis. Untuk mendukung program inovasi dan memastikan perusahaan tetap berada di garis terdepan dalam teknologi, Tripatra mengalokasikan proporsi yang signifikan dari pendapatannya ke dalam inovasi dan pengembangan.

Pengembangan SDM

Yang perlu ditekankan, dalam pengembangan inovasi, Tripatra mengalokasikan dana untuk membiayai program pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui berbagai pelatihan, seminar, sertifikasi , mengadopsi pengembangan teknologi dan digitalisasi termutakhir di berbagai fungsi atau departemen.

Manajemen Tripatra menggulirkan beragam pelatihan agar inovasi berkelanjutan terasa dampaknya di seluruh lini operasional perusahaan. Karyawan rutin diberikan akses ke pelatihan terbaru dalam teknologi dan alat-alat yang relevan dengan industri. Juga dilakukan program mentoring dengan mempertemukan mentee dan mentor untuk memperoleh pengetahuan (keterampilan) teknis dan keterampilan manajemen proyek.

Perusahaan sering menyelenggarakan sesi seminar Familiarisasi Sektor Baru guna memperkenalkan karyawan tentang industri dan sektor baru yang menjadi target ekspansi perusahaan. Seminar-seminar itu menampilkan para pakar dari internal dan luar perusahaan.

Berbagai inisiatif inovasi dan semangat pengembangan di berbagai lini usaha itu membuat panji bisnis Tripatra terus berkibar selama 50 tahun terakhir ini. Tampaknya, perbaikan berkelanjutan dalam semua aspek operasional perusahaan telah membantu perusahaan kontraktor swasta ini untuk menjadi living legend di sektor EPC. Tripatra tetap eksis di bisnisnya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved