Trends

Agar Anak Muda Mau Kembali ke Desa

Tri Mumpuni (ketiga dari kanan) usai mengisi acara AstraTalk di Kota Kendari. (dok Astra)

Desa kini semakin sepi. Ditinggalkan anak-anak muda yang memilih pergi ke kota untuk ekonomi yang lebih baik. Data Statista menunjukkan, dalam rentang 2012 hingga 2022, laju angka urbanisasi di Indonesia terus meningkat hingga 57,93%.

Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, Tri Mumpuni, mengungkapkan sejatinya desa tidak kekurangan potensi sumber daya, tetapi tidak ada orang yang kompeten untuk memaksimalkannya. Anak-anak muda yang memiliki kompetensi (untuk menggali potensi tersebut) enggan balik ke desa karena merasa sulit dan butuh waktu, berbeda jika bekerja di kota yang bisa mendapat upah pasti setiap bulan.

Untuk mengatasi hal ini, Tri Mumpuni menciptakan program pendidikan yang dirancang untuk membekali pemuda dengan empat kompetensi kunci, sehingga mereka terdorong untuk kembali dan membangun desanya. Apa saja kompetensi tersebut?

Pertama, keteknisan; ilmu-ilmu pasti yang bisa diterapkan di desa nanti. Kedua, perjuangan; dia harus mencintai Indonesia dimanapun dia berada. Ketiga, kerakyatan; bagaimana menjadi intelektual yang bisa membaur dengan masyarakat. Dan keempat, keikhlasan; agar semua kesulitan yang dihadapi dia mampu menerimanya dengan lapang dada.

Program ini melibatkan penempatan peserta di wilayah 3T—terluar, tertinggal, dan terdepan—untuk satu tahun, dimana mereka tinggal bersama warga lokal sehingga mengalami langsung permasalahan yang ada. "Ini seperti pisau bermata dua, sebagai anak bangsa dia tahu persis kenapa bangsa yang kaya raya ini ternyata masih ada yang tertinggal, untuk orang 3T itu merasa negara hadir, lewat anak muda,” ucapnya.

Tri Mumpuni, yang juga tercatat sebagai salah satu ilmuwan muslim paling berpengaruh dunia versi The World's 500 Most Influential Muslims 2021, telah berhasil mengaplikasikan ilmunya dalam proyek pembangkit listrik mikro hidroelektrik di 65 desa di Indonesia dan satu desa di Filipina. Dia pernah menjabat sebagai anggota Komite Inovasi Nasional (sekarang BRIN).

Sementara itu, penerima SATU Indonesia Award Astra 2017, Jamaluddin menceritakan, dalam membangun desa tidak bisa dilakukan sendirian, perlu kolaborasi dengan anak-anak muda yang lain. Kolaborasi ini bisa berbentuk organisasi yang memiliki struktur maupun hanya sebatas komunitas yang lebih cair.

“Kita jangan sendirian (dalam membangun desa), perlu kerja sama. Kalau sendirian, sulit, tidak ada yang bisa diajak bertukar pikiran ketika menghadapi sebuah tantangan di lapangan. Pendekatan yang dilakukan juga harus sesuai dengan kebiasaan masyarakat desa, misal makan bareng di sawah, iya kita ikut, gotong royong, juga terlibat,” ujar Jamal usai mengisi acara AstraTalk di Kota Kendari, Sabtu, 18 Mei 2024.

Migrasi ke kota memang sebuah tantangan. Namun, perjuangan untuk menghidupkan kembali desa dengan pendidikan yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan dedikasi, desa-desa di Indonesia dapat bertransformasi menjadi komunitas yang makmur dan mandiri. Kembali ke desa bukan lagi sebuah pengorbanan, melainkan peluang untuk berinovasi dan berkembang. Ini adalah momentum bagi pemuda Indonesia untuk menjadi agen perubahan yang akan membawa desa mereka menuju masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved