Companies

Nusantara Regas, Gabungkan Standar dan Praktik Terbaik

Erwin Jonathan, Departement Head HSSE Nusantara Regas.

Bagi PT Nusantara Regas, urusan manajemen K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) bukanlah perkara sederhana. Maklum, didirikan pada 14 April 2010, Nusantara Regas adalah penyedia utama gas untuk pembangkit listrik Muara Karang, Tanjung Priok, dan Muara Tawar, mendukung 60% kebutuhan listrik di Jakarta serta Jawa Barat.

Karena perannya yang vital, Nusantara Regas berupaya menerapkan manajemen K3 yang unggul. Bahkan, dipimpin Direktur Utamanya, M. Iskandar Mirza, mereka telah menetapkan kebijakan QHSSE (Quality, Health, Safety, Security, and Environment) yang ambisius, untuk memastikan bahwa operasi mereka tidak hanya mencerminkan visi dan misi perusahaan, tetapi juga mematuhi standar internasional, seperti ISO 45001, ISO 14001, ISO 9001, dan ISPS Code.

Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut, Nusantara Regas menerapkan strategi manajemen HSSE yang inovatif, dengan mengadopsi model Supreme (Sustainability Pertamina Expectations for HSSE Management Excellence). Model ini merupakan gabungan dari International Standards & World Class Practices dan Government Regulatory Compliance & Standards yang kemudian dipadukan dengan Pertamina Lesson Learnt in Journey HSSE Risk Management.

Jadi, “Supreme ini berbasis risiko, berorientasi proses. Strateginya melakukan integrasi dari standar internasional dan praktik-praktik terbaik perusahaan kelas dunia,” ungkap Erwin Jonathan, Departement Head HSSE Nusantara Regas.

Menyadari K3 tidak bisa terimplementasikan dengan baik, manajemen Nusantara Regas secara serius menggembleng SDM terkait agar mereka kompeten. Beriringan dengan hal itu, pembangunan budaya HSSE juga digiatkan. Strateginya ialah melibatkan pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up) dan dari atas ke bawah (top-down).

Pada tingkat atas, para leader harus bisa menjadi role model yang dapat diteladani, sehingga tercipta trust (kepercayaan). Sementara itu, dari sisi bawah, terdapat pembentukan perilaku melalui penggunaan human program improvement, seperti BBS (Behavior-Based Safety) dan Just Culture.

Mendampingi hal itu, Nusantara Regas juga mematrikan golden rules dan life saving rules pada karyawannya. Hal ini diterapkan agar terbentuk awareness, knowledge, dan skill sehingga tercipta perilaku karyawan yang diharapkan, yang kemudian menjadi habit dan terbentuklah culture yang mendukung HSSE.

Dituturkan Erwin, ada tiga golden rule yang ditanamkan secara penuh komitmen, yakni: patuh, intervensi, dan peduli. Patuh, artinya harus selalu taat pada hukum, kebijakan, peraturan, dan prosedur perusahaan. Intervensi, artinya kesiapan mengintervensi setiap tindakan dan situasi berisiko yang melanggar aturan. Sementara Peduli, maknanya menunjukkan perhatian terhadap lingkungan dan keselamatan sekitar.

Adapun life saving rules, di antaranya, tools dan equipment (memastikan peralatan dan perlengkapan layak pakai), isolation (memeriksa kondisi isolasi sebelum melakukan pekerjaan), dan safe zone position (memastikan berada di zona aman, terhindar dari pergerakan peralatan).

Untuk melihat bagaimana potret budaya HSSE dalam lingkungan internal, Nusantara Regas pun melakukan pengukuran secara rutin. Hasilnya? “Kami berada di Proactive (4,05),” jawab Erwin.

Dia menambahkan, hasil survei menunjukkan mayoritas responden (77,81%) berada pada level Proaktif (37,44%) dan Generatif (40,37%). Ini menandakan kesuksesan Nusantara Regas dalam membangun fondasi yang solid dalam budaya HSSE.

Melengkapi hal tersebut, Nusantara Regas juga melakukan survei kepada pelanggan dan masyarakat untuk mendapatkan masukan yang berharga terhadap layanan serta operasi yang dijalankan.

Erwin menjelaskan, untuk memantau dan mengukur efektivitas program-program yang diimplementasikan, Nusantara Regas menerapkan beberapa metode monitoring yang terstruktur sesuai dengan jenis program. Yang terkait perilaku, ada program observasi, sementara yang terkait lingkungan, diterapkan monitoring lingkungan.

Hasil dari pemantauan dan inspeksi ini kemudian dianalisis untuk mendapatkan insight yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan dan perbaikan berkelanjutan. Selain itu, mereka juga menjalankan berbagai audit, termasuk audit ISO, yang memeriksa kesesuaian sistem manajemen dengan standar internasional.

Kemudian, guna meningkatkan proses monitoring dan pelaporan, Nusantara Regas telah menerapkan penggunaan aplikasi online untuk observasi dan inspeksi oleh karyawan. Data yang dilaporkan dapat langsung dianalisis untuk pengambilan keputusan dan tindakan perbaikan yang cepat.

Dari hasil monitoring dan audit tersebut, Erwin mengungkapkan, hingga kini kinerja operasional Nusantara Regas selalu melampaui target yang ditetapkan, tanpa adanya kecelakaan berat, menunjukkan keberhasilan dalam pencapaian Key Performance Indicators (KPI).

Keberhasilan itu juga didukung oleh pencapaian beberapa sertifikasi sistem manajemen, termasuk ISO 9001:2015 (manajemen mutu), ISO 14001:2015 (manajemen lingkungan), ISO 45001:2018 (manajemen kesehatan dan keselamatan kerja), serta ISO 37001:2016 (manajemen antipenyuapan). Sertifikasi-sertifikasi ini menegaskan komitmen perusahaan terhadap standar tertinggi dalam kualitas, lingkungan, keselamatan kerja, dan integritas bisnis.

Di tengah pencapaian yang ada, Nusantara Regas masih terus mengejar pekerjaan rumahnya, yang sebenarnya menjadi PR setiap perusahaan, yakni menekan emisi. Terkait hal ini, Erwin menyampaikan, Nusantara Regas memiliki program unggulan terkait net zero emission pada tahun 2060, yakni bisa menurunkan 90,6 ton CO2 per tahun. (*)

Teguh S. Pambudi & Sri Niken Handayani


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved