Capital Market & Investment

8 Emiten Beraset Jumbo Ada di Pipeline IPO

Foto : Vicky Rachman/SWA.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 13 perusahaan telah go public atau IPO dan berhasil menghimpun dana total Rp3 triliun per 17 Mei 2024. Jumlah perusahaan IPO bakal bertambah jika menelisik daftar antren IPO di BEI. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyampaikan jumlah perusahaan di daftar tunggu (pipeline) pencatatan saham IPO itu sebanyak 38 perusahaan. Berdasarkan asetnya, jumlah calon emiten beraset jumbo sebanyak 8 perusahaan. “Nilai asetnya di atas Rp250 miliar,” ujar Nyoman kepada awak media di Jakarta, Senin (20/5/2024).

Nyoman merincikan jumlah calon emiten beraset menengah (Rp50 miliar–250 miliar) itu sebanyak 24 perusahaan. Sisanya, 6 perusahaan beraset skala kecil di bawah Rp50 miliar. Lebih lanjut, Nyoman mengatakan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) berpeluang untuk menggalang dana melalui IPO di pasar modal Indonesia.

Sesuai ketentuan POJK Nomor 7 Tahun 2024 tentang Bank Perekonomian Rakyat dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah yang diterbitkan pada 25 April 2024, maka BPR dan BPRS dapat melakukan penawaran umum perdana saham melalui pasar modal Indonesia. Namun, mereka wajib memiliki sejumlah persyaratan.

Misalnya saja, modal inti minimum Rp80 miliar dan penilaian tata kelola dengan predikat paling rendah peringkat dua, penilaian profil risiko paling rendah peringkat dua, dan tingkat kesehatan paling rendah PK-2 yang dinilai dalam dua periode terakhir. ”Dapat kami sampaikan bahwa cukup banyak BPR dan BPRS yang berminat menjajaki opsi pendanaan melalui pasar modal. Hal ini tercermin dari kebutuhan yang disampaikan BPR/BPRS di seluruh Indonesia yang disampaikan kepada BEI untuk mendapatkan informasi mengenai hal-hal yang diperlukan dalam rangka persiapan IPO,” tutur Nyoman

Nyoman mengungkapkan BPR dan BPRS belum ada yang mengajukan permohonan IPO. "Karena peraturan IPO untuk BPR dan BPRS ini masih relatif baru, dapat kami sampaikan bahwa saat ini belum ada permohonan pencatatan saham IPO dari BPR dan BPRS," sebut Nyoman

Pada kesempatan terpisah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada awal pekan ini meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS (RP2B) 2024-2027. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan peran industri BPR dan BPRS diperlukan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di lapisan bawah, serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, memaparkan bahwa RP2B 2024-2027 merupakan landasan kebijakan untuk mewujudkan industri BPR dan BPRS yang berintegritas, tangguh dan kontributif dalam memberikan akses keuangan kepada UMK dan masyarakat di wilayahnya. Untuk memperkuat industri BPR dan BPRS, maka diperkokoh sinergi dan kolaborasi OJK, industri dan asosiasi BPR dan BPRS, bank umum, bank umum syariah, kementerian dan lembaga dan stakeholders terkait lainnya. "OJK akan senantiasa mengawal perwujudan visi tersebut melalui pengaturan, perizinan dan pengawasan, sehingga menciptakan ekosistem yang kondusif bagi Industri BPR dan BPRS,” imbuh Dian di Jakarta pada Senin kemarin.

Berikut 24 perusahaan dari berbagai sektor antre untuk IPO di BEI, rinciannya sebagai berikut:

- 2 perusahaan dari sektor industri dasar

- 5 perusahaan dari sektor konsumer siklikal

- 4 perusahaan dari sektor konsumer non siklikal

- 8 perusahaan dari sektor industrial

- 1 perusahaan dari sektor infrastruktur

- 1 perusahaan dari sektor properti dan real estate

- 3 perusahaan dari sektor energi

24 perusahaan antre untuk IPO, rinciannya sebagai berikut:

- 2 perusahaan dari sektor industri dasar

- 5 perusahaan dari sektor konsumer siklikal

- 4 perusahaan dari sektor konsumer non siklikal

- 8 perusahaan dari sektor industrial

- 1 perusahaan dari sektor infrastruktur

- 1 perusahaan dari sektor properti dan real estate

- 3 perusahaan dari sektor energi


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved