Sajian Utama

Kalla Group, Living Legend yang Menjalankan Prinsip Kaizen

Solihin Jusuf Kalla, CEO Kalla Group. (Foto : Ihsan Sulaiman/SWA).

Bagi pebisnis di Indonesia Timur, nama Kalla Group (PT Hadji Kalla) cukup populer. Bisnis perusahaan yang dirintis sejak 18 Oktober 1952 ini memang menggurita di Indonesia Timur, dengan cakupan mulai dari otomotif, transportasi & logistik, properti, hospitality, energi, tambang mineral, hingga pendidikan.

Salah satunya, telah lama menjadi mitra penjualan mobil Toyota untuk wilayah Indonesia Timur. Di usianya yang lebih dari 70 tahun dan sudah melibatkan generasi ke-4 pendiri, Kalla Group bukan hanya mampu survive, tapi juga terus tumbuh.

Perusahaan yang kini dipimpin oleh Solihin Jusuf Kalla sebagai CEO/Presiden Direktur ini menjalankan improvement terus-menerus sebagaimana tercakup dalam prinsip kaizen (Jepang). “Kami di Grup Kalla berusaha secara konsisten mengelola program inovasi untuk internal karyawan. Misalnya, dengan kaizen, program improvement menggunakan metode Quality Control Cycle 8 Step dan 7 tools improvement untuk penyelesaian masalah,” kata Solihin Kalla.

“Ada pula program Breakhtrough & Corp. Innovation untuk mewadahi inovasi karyawan dengan level Strategic Leader. Dan, juga ada program Kalla Open Innovation untuk menampung ide-ide inovasi dan pengembangan dari karyawan," tambahnya.

Inovasi dan berusaha mengikuti perubahan bukan sekadar jargon di group perusahaan yang mempekerjakan 4.310 karyawan ini. Contohnya, konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini banyak dijalankan perusahaan di dunia, Kalla Group turut menerapkannya. “Kalla memiliki visi untuk membangun ekosistem bisnis ESG sebagaimana sedang dijalankannya dalam membangun end-to-end ekosistem bisnis kendaraan listrik di Indonesia dengan membangun green industrial estate yang listriknya akan dialiri oleh energi hijau,” Solihin Kalla menjelaskan.

Tak mengherankan, saat ini Kalla Group, melalui salah satu unit bisnisnya, PT Bumi Mineral Sulawesi, yang terletak di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan, juga memproduksi nikel sulfat yang menjadi bahan baku baterai untuk kendaraan listrik yang dinilai lebih green. Tidak hanya output, Bumi Mineral Sulawesi pun menghadirkan teknologi ramah lingkungan dan energi yang berasal dari air (PLTA), bukan dari batu bara yang mencemari lingkungan.

Tak salah, pada lima tahun ke depan Kalla Group memang akan fokus pada inovasi bisnis ke arah energi terbarukan dan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Hal itu dimulai dari pengembangan bisnis hydro power plant yang kini tersebar di beberapa wilayah, seperti PLTA Poso, PLTA Malea, PLTA BMS, PLTA Mamuju, dan PLTA Kerinci Merangin.

Kini total kapasitas energi terpasangnya mencapai 1 Gwh, yang sebagian dijual ke PLN. Dalam lima tahun ke depan, bisnis hydro power plant Kalla Group ditargetkan telah mencapai kapasitas 2.060 MW.

Manajemen grup ini meyakini, agar perusahaan mampu tumbuh lincah, inovasi menjadi keniscayaan. Terlebih, grup ini memiliki visi ingin “Menjadi kelompok bisnis terbaik di Indonesia dan panutan dalam pengelolaan usaha yang profesional dan berkelanjutan”.

Karena itulah, Board of Directors (BOD) Kalla Group pun selalu memberikan challenge dengan memberikan target tertentu kepada karyawan agar berinovasi sesuai dengan visi yang ingin digapai perusahaan. BOD juga sangat mendukung keberlangsungan inovasi di perusahaan dengan memfasilitasi karyawan yang ingin mengembangkan ide inovasinya. Yaitu, dengan memberikan kebijakan berupa penyesuaian beban kerja karyawan dengan harapan karyawan dapat fokus pada inovasinya.

Tak hanya itu, untuk menumbuhkan semangat berinovasi karyawan, grup ini menerapkan kebijakan: setiap karyawan wajib mendaftarkan minimal satu proyek Improvement/Inovasi setiap tahunnya. Kebijakan ini kemudian dijadikan sebagai salah satu indikator penilaian kinerja karyawan yang dihitung sebagai program pengembangan karyawan. Board of Directors juga terlibat langsung dalam pelaksanaan program inovasi perusahaan sebagai panelis yang ikut menyeleksi project Improvement & Inovasi yang dikembangkan karyawan,” kata Solihin Kalla.

Yang menarik, di Kalla Group sudah dikembangkan platform khusus bagi karyawan untuk pengelolaan proyek Inovasi. Platform tersebut dapat diakses di https://excellence.kallagroup.co.id. Di link ini, karyawan bisa mendaftarkan ide Improvement & Inovasi-nya. Ide inovasi itu kemudian diseleksi dengan mempertimbangkan strategi perusahaan, sumber daya, resiko, dan dampak positifnya pada perusahaan.

Dalam hal ini. BOD pun terlibat aktif dalam penentuan kebijakan program Improvement dan Inovasi. Tentu saja, orientasi dari inovasi itu tidak hanya fokus pada kepentingan jangka pendek, tapi juga mempertimbangan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved