Sajian Utama

Great Giant Foods, Manfaatkan Teknologi Terkini untuk Dukung Inovasi Bisnis Agrikultur

Tommy Wattimena, CEO Great Giant Foods. (Foto : Ihsan Sulaiman/SWA).

Great Giant Foods (GGF) ‒nama resminya: PT Great Giants Pineapple‒ merupakan salah satu perusahaan ternama di Tanah Air di bidang agrikultur. Perusahaan yang berdiri tahun 1979 ini memproduksi buah-buahan segar dan produk olahannya. Ada lima pilar bisnis yang kini dtekuninya, yakni Processed Pineapple, Fresh Fruit, Consumer Branded Product, Protein, dan Plant Business.

CEO GGF, Tommy Wattimena, menjabarkan perusahaannya ini menempatkan inovasi sebagai salah satu strategi utama untuk merealisasi misi menghasilkan produk makanan berkualitas yang diproduksi dengan cara inovatif dan berkelanjutan. Tommy menyebutkan, selain memperkuat core business-nya pada produk Processed Pineapple (yang telah diekspor ke lebih dari 60 negara), perusahaannya berkomitmen mengembangkan lini bisnis baru untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

Komitmen ini juga ditunjukkan para pemimpin bisnis di GGF. Bukan hanya sekadar menentukan arah dan prioritas proyek-proyek inovasi, tapi juga melahirkan gagasan-gagasan yang mendukung keberhasilan proses inovasi. Agar ide-ide inovasi lahir lebih cepat dan mudah dieksekusi, dibentuklah Departemen Research & Development (R&D) yang bertanggung jawab langsung kepada CEO GGF.

Tradisi berinovasi GGF selaras dengan nilai-nilai korporat yang dipegangnya, yakni GREAT, singkatan dari Governance, Reliability, Excellence, Agil, dan Teamwork. Menurut Tommy, dua nilai, yakni Excellence dan Agile, merepresentasikan komitmen perusahaannya untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan dan tantangan pengembangan bisnis.

Salah satu contoh budaya inovasi yang dijalankan GGF ialah digelarnya aktivitas Bulan Mutu GGF (BMG) berupa kompetisi berbasis inovasi. Kegiatan ini bertujuan mencari inovasi terbaik dari setiap departemen, yang kemudian diseleksi hingga mendapatkan pemenang inovasi di level perusahaan. “Hingga kini aktivitas BMG telah dilakukan lebih dari 15 tahun dan telah menjadi kompetisi inovasi yang prestisius bagi karyawan,” kata Tommy.

Organisasi R&D di GGF, yang ditugaskan untuk menjalankan program inovasi, dibagi menjadi dua sesuai dengan fokus aktivitasnya. Pertama, R&D untuk Plantation guna memfasilitasi inovasi baru pada proses agrikultur dan pengembangan komoditas: nanas, pisang, jambu kristal, durian, pepaya, mangga, kelapa pandan, dan aneka varian komoditas lainnya.

Kedua, R&D untuk Consumer Product. Ini fokus pada riset dan pengembangan produk-produk olahan dari produk baku yang dihasilkan GGF: keripik pisang, produk dairy, dan sebagainya. Mengenai mekanisme inovasi, Direksi GGF telah meresmikan aturan Manajemen Proyek Strategis, yang menyediakan panduan dalam proses inovasi. Mulai dari penampungan ide-ide inovasi, pengujian ide inovasi, pemberian modal untuk pengembangan dan pelaksanaan proyek inovasi, serta pemberian insentif bagi pelaksana proyek inovasi yang sukses menjalankannya.

Penampungan dan pengujian ide inovasi didesentralisasi ke fungsi/departemen masing-masing agar uji kelayakan lebih relevan dengan kebutuhan. Singkatnya, ide-ide proyek inovasi dari departemen akan dikonsolidasikan dan dibawa ke rapat jajaran direksi (BoD Meeting), yang akan menentukan proyek inovasi mana saja yang akan diberi modal investasi.

Proyek-proyek inovasi itu, dijelaskan Tommy, harus dijalankan dengan komitmen memenuhi batasan: tepat waktu, sesuai dengan ekspektasi kualitas, dan tidak melebihi anggaran. Proses verifikasi atas kinerja pelaksanaan proyek dilakukan oleh Departemen Strategic Portfolio Management dan Tim Compensation & Benefit Divisi HR. “Proyek-proyek inovasi yang berhasil dijalankan sesuai komitmen tersebut akan mendapatkan insentif dari manajemen sebagai bentuk penghargaan,” katanya.

Tommy menjelaskan, ada sejumlah program inovasi yang dijalankan GGF, yang mencakup aspek-aspek: Pengembangan Produk Baru, Peningkatan Kapasitas Produksi, Digitalisasi, dan Perbaikan Berkelanjutan.

Pada aspek Pengembangan Produk Baru, GGF punya program mengembangkan lebih dari 10 produk merek baru hingga kuartal II/2026, yang sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Produk-produk tersebut adalah produk makanan dan minuman berbasis komoditas pertanian yang mayoritas berasal dari kebun dan peternakan sendiri.

Pada aspek Peningkatan Kapasitas Produksi, GGF telah berhasil membangun sejumlah fasilitas produksi penting, seperti fasilitas ekstraksi jus nanas, pencacahan nanas, pematangan pisang, pengolahan keripik pisang, dan pengolahan susu berperisa. Selain itu, saat ini juga sedang dijalankan ekspansi fasilitas ekstraksi bonggol nanas, penimbangan panen buah nanas segar otomatis, serta ekspansi fasilitas biopestisida dan fasilitas otomatisasi produk jus buah siap minum.

Lalu, pada aspek Digitalisasi, GGF sedang menjalankan sejumlah program memanfaatkan teknologi terkini dalam aktivitas pertanian. Mulai dari implementasi teknologi kecerdasan buatan (AI), pemantauan kesehatan ekologis kebun menggunakan sensor, peningkatan produktivitas melalui perawatan kebun secara prediktif, monitoring kesehatan tanaman menggunakan drone chopper, dan perkiraan ketersediaan air irigasi dengan drone boat. “Program-program tersebut dilaksanakan secara estafet dari tahun 2022 dan ditargetkan selesai di tahun 2027,” ungkap Tommy.

Adapun pada aspek Perbaikan Berkelanjutan, GGF melakukannya pada aspek-aspek penunjang, melalui program Regenerative Agriculture, pengurangan food loss dan food waste, serta inisiatif menurunkan emisi karbon dalam rangka mendukung target emisi nol.

Gunakan Teknologi

Salah satu hal yang menonjol, meskipun bergerak di bidang pertanian yang pemainnya pada umumnya kurang adaptif dengan perkembangan teknologi, GGF justru banyak memanfaatkan sejumlah teknologi pendukung (supporting tools) untuk mendukung inovasinya. Sebagai contoh, pada Precision Agriculture Program, GGF memanfaatkan teknologi remote sensing (drone, GPS, dan Aerial Imagery), IoT (Internet of Things) dan teknologi sensor, mobile apps untuk pekerja lapangan, Automated Machinery, serta Farming Management System.

Untuk program Smart Supply Chain, teknologi pendukung yang dimanfaatkan yakni Sales Force Automation, Distribution Management System, Transport Management System, Warehouse Management System, dan Blockchain.

Menurut Tommy, aneka program inovasi yang dijalankan GGF sudah memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek kinerja bisnis, mencakup peningkatan produktivitas, penjualan, efisiensi operasional, kepuasan pelanggan, daya saing dan keberlanjutan, serta pengurangan biaya operasional.

Tak kalah pentingnya, budaya inovasi juga meningkatkan daya tarik perusahaan yang kini diperkuat oleh lebih dari 8.400 karyawan fulltime ini sebagai tempat kerja idaman. “Inovasi mendorong perusahaan menciptakan lingkungan kerja dan proses pembelajaran yang menarik bagi bakat-bakat kreatif dari calon pegawai baru, sebesar tiga kali lipat, sehingga meningkatkan kualitas dan kreativitas tim,” kata Tommy. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved