Marketing

Ghanior Memompa Penjualan Jersey Futsal di TikTok

Ghanior Memompa Penjualan Jersey Futsal di TikTok
Nanda Aprizal, pendiri dan CEO Ghanior sedang menginspeksi proses produksi jersey futsal. (Foto : Dok Pribadi).

Omset produsen jersey (seragam) futsal masih cenderung melemah pasca pandemi Covid-19. Ghanior, misalnya, mengalami penurunan penjualan sebesar 50%. Nanda Aprizal, pendiri dan CEO Ghanior, mengatakan penjualan jersey Ghanior di 2021 dan 2022 sempat melonjak setelah mengalami penurunan omset di 2020. "Tahun 2023 (penjualan) turun lagi, bahkan sampai 50%, biasanya penjulan jersey Ghanior per bulan itu bisa mencapai 1.500 pieces, tahun ini sekitar 600 pieces per bulan," ujar Nanda kepada swa.co.id pada Selasa (21/5/2024).

Untuk menyiasati tantangan ini, Nanda menggenjot kanal promosi dan penjualan di media sosial. Nanda mengatakan Ghanior sejak awal tahun ini rutin mempromosikan Ghanior di TikTok. "Meski penjualan belum besar, namun sudah mulai membuahkan hasil. Kini, persaingan bisnis jersey semakin ketat dan perang harga. Saya enggak mau ikutan perang harga dan tetap pada pakem, mempertahankan kualitas dengan harga yang ada saat ini dan masih banyak fokus di jersey futsal," ucap Nanda.

Konsumen Ghanior berasal dari berbagai segmen, semisal perusahaan dan sekolah sepak bola (SSB), karyawan perusahaan, dan klub futsal. Sebelumnya, Nanda pada awal 2020 pernah menyampaikan sebanyak 40-50 klub futsal amatir telah menggunakan jersey produksi Ghanior di 2019 hingga 2020.

Saat itu, jersey futsal buatannya ini juga digunakan oleh dua klub Liga Futsal Profesional (Professional Futsal League) Indonesia, yaitu Halus FC dan Cosmo FC, serta Tim Nasional (Timnas) Futsal Indonesia, khusus untuk pertandingan persahabatan.

Kala itu, Nanda mengandalkan pemasaran Ghanior dari mulut ke mulut (word of mouth marketing) yang mendongkrak citra merek Ghanior. “Konsumen membeli jersey buatan Ghanior minimal selusin, 12 pemain futsal yang menggunakan kaos Ghanior ketika berlaga di lapangan futsal itu menjadi ajang marketing Ghanior,” kata Nanda.

Kesuksesan pemasaran Ghanior ini melanjutkan strategi pemasarannya di media sosial ketika Nanda merintis bisnis ini di tahun 2010. Saat itu, dia mempromosikan Ghanior di Facebook dan Kaskus. Dia menyodorkan jersey yang desain, bahan sablon, dan kainnya dikustomisasi sesuai dengan keinginan pembeli. Nanda merespons permintaan pembeli seperti ini.

Mereka menginginkan rancangan desain, kain, dan kualitas sablon yang berbeda dengan produsen jersey sejenis. “Produk Ghanior harus berbeda dari produk massal atau manufaktur. Makanya, saya tidak main-main dalam membuat produk,” tutur pengusaha kelahiran 1988 ini.

Resep bisnis ini manjur lantaran pembeli kian kesengsem mengenakan jersey buatan Ghanior. Sejak tahun 2012, Ghanior semakin dikenal sebagai produsen jersey futsal oleh pemain futsal di seluruh Indonesia. “Kami menjaga pasar dengan kualitas dan desain yang baik,” ia menegaskan.

Cikal Bakal Ghanior

Embrio bisnis Ghanior itu dirintis Nanda pada 2010 ketika masih kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. Di sela-sela waktu luang mengerjakan skripsi, dia mempelajari seluk-beluk memproduksi jersey di perusahaan konveksi di Bandung, Jawa Barat dan mempelajari pembuatan seragam olahraga di YouTube. Lantas, dia mencoba-coba rancangan desain yang dibuatnya untuk diproduksi oleh perusahaan konveksi di Kota Kembang itu. Dia belum menyematkan Ghanior sebagai jenama jersey futsal.

Namun, jersey futsal Nanda cukup banyak dipesan dan dibeli mahasiswa. Seluruh keuntungan di tahun itu diserahkan Nanda kepada orang tuanya. Di tahun 2011, setelah merampungkan kuliahnya di UPI, dia menggunakan merek Ghanior yang berasal dari kata “Al-Ghani”, salah satu asmaul husna, nama-nama Allah Swt. yang baik di agama Islam. Al-Ghani artinya memakmurkan. Nanda menambah “or” yang merupakan singkatan kata “orang”. Arti Ghanior secara harfiah adalah memakmurkan semua orang.

Lantas, Nanda mengalihkan produksi Ghanior ke Jakarta untuk mengejar margin keuntungan yang lebih tinggi jika dibandingkan memproduksinya di Bandung. Branding untuk membangun awareness Ghanior digenjotnya di berbagai medsos. Strateginya tetap mempertahankan jersey yang dikustomisasi. “Profit yang saya peroleh ditabung,” ujarnya. Ia bisa membeli mesin dan mempekerjakan pegawai. Sebagai mantan pemain futsal, Nanda memahami kebutuhan jersey futsal yang diinginkan konsumen. Biasanya, konsumen mengirim desain seragam. Lalu, Nanda bersama timnya memproduksinya berdasarkan desain itu.

Selain itu, tim Ghanior memberikan rekomendasi desain kepada pembeli yang umumnya berasal dari klub futsal amatir. Kantor Ghanior yang berlokasi di kawasan Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, merupakan etalase untuk menjual dan mempromosikan Ghanior. Jersey buatan Ghanior dijual pula di toko online. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved