Economic Issues

Meneropong Prospek Uang Rupiah Digital

Bank Indonesia tengah mengkaji pengembangan rupiah digital, juga dikenal sebagai Central Bank Digital Currency (CBDC). White Paper kajian pengembangan rupiah digital telah dipublikasikan BI sejak November 2022 bernama Proyek Garuda, inisiatif BI yang memayungi eksplorasi desain CBDC.

Laporan terbaru dari the World Economic Forum menyatakan bahwa lebih dari 98% dari jumlah total bank sentral sedang melakukan riset, eksperimen, menguji coba ataupun meluncurkan CBDC untuk melihat kapabilitas dan meningkatkan akses kepada uang sentral, termasuk Indonesia. Tidak dapat dielakkan, bahwa perubahan digital dan industri keuangan akan terus bersinggungan ke depannya. Dengan kehadiran rupiah digital, perubahan dapat terjadi di banyak aspek di sektor keuangan.

Presiden Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Ardan Adiperdana, menyebutkan CBDC merepresentasikan pergeseran paradigma dalam evolusi uang dan keuangan, tidak seperti uang kripto. CBDC juga berfungsi sebagai bentuk digital dari uang fisik yang dikeluarkan oleh pemerintah, dengan keamanan dan stabilitas aset digital bagi konsumen. Dampak CBDC kepada kebijakan moneter dan kestabilan finansial tidak dapat dielakkan karena uang digital menawarkan efisiensi dan transparansi. “Kehadiran rupiah digital nantinya tidak akan melepaskan fungsinya sebagai alat tukar, penyimpanan dan satuan hitung. Bedanya, rupiah digital akan membuat transaksi di era digital menjadi lebih fleksibel dan efisien karena ada faktor perbedaan ongkos pembuatan, jika dibandingkan dengan uang kertas yang harus dicetak terlebih dahulu. Karena itu, saya juga mengajak para akuntan agar lebih ahli dan fleksibel untuk kebaruan ini,” ucapnya dalam acara Decoding CBDCs: Unveiling the Future of Digital Money pada Selasa (21/5/2024).

Mengulik sisi keamanan, pada era perkembangan aset kripto sebagai alat tukar kerap tidak stabil dan dikendalikan oleh entitas yang tidak dikenal, kehadiran rupiah digital terbitan Bank Indonesia bisa memperkuat ekosistem keuangan digital. Selain itu juga bisa menjaga stabilitas sistem keuangan dari ancaman eksternal, seperti penyalahgunaan mata uang kripto. "Saya juga mengajak para akuntan agar lebih ahli dan fleksibel untuk kebaruan ini," ucapnya.

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy, menegaskan bahwa CBDC tidak menciptakan uang baru sehingga tidak akan mengubah uang. Saat ini, Bank Indonesia masih di tahap penelitian dan akan menuju fase menengah. Belum ada waktu pasti kapan rupiah digital akan diluncurkan, saat ini BI belum melihat urgensi untuk meluncurkan secepatnya. “Namun, kami sudah mempersiapkan diri agar bisa diluncurkan saat dibutuhkan. Lain dari uang digital pihak swasta, bank sentral tidak memiliki ekosistem tersendiri. Maka dari itu, bank sentral harus bekerja sama dengan industri, bank komersial dan non bank untuk mengeluarkan CBDC,” kata Ryan.

Meskipun pihak swasta atau lembaga non perbankan dapat menerbitkan uang elektronik mereka sendiri, rupiah digital diterbitkan oleh Bank Indonesia selaku otoritas moneter sebagai pelengkap pilihan alat pembayaran. Ketika nanti resmi diterbitkan, rupiah digital dapat menjadi kompetitor e-wallet lainnya yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat. Namun jika dibandingkan dengan uang elektronik pihak swasta, basis blockchain dan akun perorangannya menjadikan rupiah digital lebih aman dan mudah dilacak.

Elaine Hong, Director The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) for China and South-East Asia, mengungkapkan pelaku sektor keuangan sangat antusias menyambut terobosan baru ini. Pihaknya yakin bahwa peran seorang akuntan sangat krusial dalam perubahan besar ini nantinya. Kehadiran CBDC tentu mewakili perubahan besar dalam lanskap keuangan, dan tentunya pemahaman mengenai implikasinya sangat penting bagi profesi akuntan. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved