Technology

Pemegang Merek Dipacu Mendaftarkan Merek Untuk Melindungi Hak Kekayaan Intelektual

Pemegang Merek Dipacu Mendaftarkan Merek Untuk Melindungi Hak Kekayaan Intelektual
Para pembicara pada diskusi UpMarks! AI-Impowered Trademarks: Leveraging AI for Superior Brand Protection yang digelar di Jakarta pada Rabu, 22 Mei 2024. (Foto : Eva Martha Rahayu/SWA)

Dalam konteks komunikasi pemasaran, jenama (merek/brand) berperan penting sebagai identitas visual suatu produk atau layanan, nilai-nilai, kualitas, dan citra merek. Hal tersebut menjadi pembahasan pada diskusi bertajuk UpMarks! AI-Impowered Trademarks: Leveraging AI for Superior Brand Protection yang digelar oleh Mebiso berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM pada Rabu pekan ini.

Diskusi yang berkaitan dengan kekayaan intelektual ini mengulas berbagai aspek tersebut agar para pemegang jenama bisa melindungi kekayaan intelektual atau mereknya. Dorien Kartikatikawangi, Wakil Ketua Umum Perhumas Indonesia mengatakan, menyampaikan merek pada aspek komunikasi adalah fondasi yang kuat untuk membangun hubungan emosional dengan konsumen . “Membangun dan melindungi reputasi merek adalah kunci. Membangunnya membutuhkan waktu, komitmen, dan konsistensi. Namun, untuk meruntuhkannya hanya perlu waktu sekejap. Karenanya, melindungi reputasi secara komprehensif, baik internal maupun eksternal, akan menjamin keberlanjutannya,” jelas Dorien seperti ditulis pada Jumat,(24/5/2024).

Hal ini pernah dialami oleh akun gosip Lambe Turah yang baru-baru ini mengalami permasalahan merek. Merek Lambe Turah pada 2018 didaftarkan oleh orang lain yang bukan pemilik asli. “Hal ini menjadi perhatian penting bagi pelaku usaha agar lebih memahami pentingnya perlindungan merek,” kata Petrus Bala Pattyona, Kuasa Hukum Lambe Turah dalam forum diskusi tersebut.

Petrus menyampaikan proses legal contoh Lambe Turah. Petrus dan pemilik akun Lambe Turah, Argo Dinar (Dino), menjalani proses yang cukup panjang. Saat itu, merek Lambe Turah diketahui telah didaftarkan oleh pihak lain pada tahun 2018. Hal ini baru diketahui Dino di tahun 2023. Kemudian, Dino pada 2024 mengajukan gugatan pembatalan merek. Gugatan tersebut bergulir di pengadilan.

Selama proses berjalan di meja hijau, pemilik awal Lambe Turah teridentifikasi, yakni Dino. Sebab, saat ditelaah lebih jauh, pihak yang mendaftarkan merek Lambe Turah tak memiliki akses untuk masuk ke akun tersebut. “Sehingga, gugatan kami dikabulkan. Sebab, pihak kami yang memiliki akun dan wewenang untuk melakukan upload konten,” kata Petrus.

Seiring hal tersebut, Kemenkominfo memiliki program Gerakan Nasional 1.000 Startup. Salah satu alumni program tersebut adalah Mebiso. Startup asal Surabaya ini merancang Trademark Analyzer dengan mengadopsi teknologi artificial intelligence (AI), dengan fitur Dokumen Hasil Analisis (DHA). Plaku bisnis membutuhkan waktu tak lebih dari lima menit untuk mendapatkan hasil secara realtime menggunakan fitur Mebiso ini.

Saat ini, lebih dari 5.160 pengusaha memanfaatkan DHA agar tak ditolak saat mendaftarkan merek. Kolaborasi antara Kemenkominfo dan DJKI sangat penting untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan inovatif. Proses pendaftaran merek melalui DJKI adalah langkah strategis perusahaan rintisan (startup) digital untuk melindungi dan mengembangkan bisnis mereka dengan aman dan berkelanjutan.

Mebiso merupakan jasa merek yang menggunakan teknologi AI. Platform ini membantu pengusaha melindungi mereknya secara real time dan affordable. Tujuan platform adalah untuk menjawab kebutuhan perlindungan merek dari tahap pra-pasca pendaftaran merek, mulai dari memperhitungkan potensi keberhasilan daftar merek, hingga memasang fitur proteksi yang aktif selama 24 jam dalam sepekan untuk mendeteksi dan mencegah tindak peniruan merek.

Teknologi AI Permudah Pendaftaran Merek

AI menjadi perbincangan banyak pihak lantaran mampu memudahkan pekerjaan manusia. Hal ini turut menjadi perhatian Kemenkominfo. Teknologi kecerdasan buatan ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan sektor strategis telah menjadi perhatian hampir seluruh negara di dunia.

Pada kesempatan ini, Direktur Ekonomi Digital dari Kemenkominfo, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia berkomitmen tinggi untuk merespons penggunaan teknologi AI secara positif dan memperkuat ekosistem AI nasional. "Misalnya pada sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan dan sektor lain. Sehingga capaian-capaian ini perlu terus kita dukung karena AI akan menjadi benchmark penguasaan teknologi digital dalam lima sampai 10 tahun mendatang," jelasnya.

Perkembangan dan pertumbuhan ekosistem AI membawa dampak yang positif terutama dari sisi penggunaan yang dapat mempermudah dan membantu sektor-sektor strategis. “Dalam sesi ini, kami mengajak peserta untuk mengenal merek untuk startup melalui pemaparan materi dan studi kasus dari pembicara ahli sesuai spesifikasi model bisnisnya,” papar Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Startup Digital Kemenkominfo, Sonny Hendra Sudaryana.

Pada kesempatan tersebut, perlindungan merek menjadi concern Kemenkominfo yang dibuktikan dengan seremonial pendaftaran dua program IP (intelectuall property). Hal ini merupakan salah satu aksi nyata bahwa perlindungan kekayaan intelektual menjadi hal yang penting. “Memahami proses pendaftaran merek melalui DJKI adalah langkah strategis bagi startup digital untuk melindungi dan mengembangkan bisnis mereka dengan aman dan berkelanjutan. Dukungan Kemenkominfo dalam fasilitasi proses ini sangat penting untuk memastikan startup dapat memanfaatkan kekayaan intelektual mereka secara maksimal,” katanya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved