Personal Finance

Ratih Triutami Wijayanti Rajin Berinvestasi di Reksa Dana

Ratih Triutami Wijayanti, Corporate Secretary LPPI di jumpa pers LPPI Run 2024 di Jakarta pada Jumat, 25 Mei 2024. (Foto: Audrey Aulivia Wiranto/SWA).

Ratih Triutami Wijayanti mahir mengelola keuangan pribadinya. Dia mengalokasikan dana untuk belanja kebutuhan sehari-hari, berinvestasi di reksa dana, dan membeli produk asuransi. Dia menakar dan membatasi pengeluaran per bulan sesuai rencana keuangannya.

Sekretaris Perusahaan di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) ini menyisihkan pendapatannya dengan skema 20:80. “Maksudnya, 20% dari total pendapatan saya itu ditabung untuk dana darurat dan 80% untuk kebutuhan sehari-hari dan investasi," ujar Ratih kepada swa.co.id di sela-sela jumpa pers LPPI Run 2024 di Jakarta pada Jumat (25/4/2024).

Ratih berdisiplin menerapkan prinsip tersebut. Dia sejak 2013 mengalokasikan pendapatannya untuk membeli reksa dana dan asuransi. “Untuk investasi, Saya melakukan diversifikasi portofolio di reksa dana,” ucap Ratih yang menjabat Sekretaris Perusahaan LPPI sejak Januari 2024.

Dia meyakini berinvestasi bisa mengembangbiakkan nilai asetnya dan berguna untuk memenuhi beragam kebutuhan di masa depan. Misalnya saja, dana pendidikan anak-anak hingga biaya di masa pensiun. Ratih menghimbau generasi muda untuk tidak mengikuti tren fear of missing out (FOMO) atau takut ketinggalan untuk membelanjakan dana untuk hal yang konsumtif. Ini bisa berdampak negatif terhadap keuangan. " Nantinya, terus-menerus mengeluarkan uang karena tidak mau ketinggalan. Ujung-ujungnya, uang habis karena tidak bisa mengatasi mengatasi FOMO, misalnya selalu mengikuti tren-tren yang ada di media sosial," ujar Ratih yang pernah berkarier di PT Syailendra Capital pada 2016-2017.

Guna menangkis budaya pemborosan, Ratih mencontohkan metode pengelolaan keuangan pribadi. Misalnya saja skema 50/30/20. Skema ini mengalokasikan 50% dari total pendapatan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, kemudian 30% untuk belanja, dan 20% disisihkan untuk tabungan.

Perihal manajemen keuangan Ratih, perencana keuangan independen, Rizki Marman Saputra, CFP (Cerified Financial Planner), meyakini literasi keuangan Ratih sangat baik karena rutin menyisihkan dana darurat, belanja harian dan berinvestasi. “Ratih bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menghindari pengeluaran yang dipicu oleh FOMO, dan menggunakan metode pengelolaan yang efektif yang sesuai dengan kondisi finansialnya. Dia berinvestasi untuk mencapai tujuan keuangan dan membeli asuransi untuk proteksi. Langkah-langkah ini, membantu Ratih dan setiap individu untuk mencapai stabilitas finansial dan tujuan keuangan di jangka panjang,” ujar Rizki.

Dia mencermati kebiasaan yang umumnya dialami masyarakat adalah minimnya manajemen keuangan sehingga pengeluaran tidak terkendali.”Banyak yang terjebak dalam kebiasaan pengeluaran yang tidak terkendali serta kurangnya perencanaan keuangan yang matang,” sebut Rizki.

Oleh sebab itu, Rizki menghimbau masyarakat untuk meningkatkan literasi keuangan agar mahir membuat keputusan finansial yang tepat. “Hal-hal penting yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan evaluasi berkala terhadap rencana keuangan pribadi, sebab situasi keuangan dapat berubah seiring waktu, dan evaluasi rutin tersebut dapat membantu menyesuaikan rencana agar tetap relevan dan efektif,”ucapnya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved