Best CEO

William Lumentut, Sukses Membawa Bentoel Turnaround

William Lumentut, CEO BAT (British American Tobacco) Indonesia.

Industri rokok di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan penuh tantangan. Di samping persaingan yang masih ketat karena adanya sejumlah merek yang bersaing, belakangan ini juga ada tantangan yang berat, terutama menyangkut perubahan regulasi dan gaya hidup.

Situasi sulit yang dihadapi industri rokok secara umum terlihat dari penurunan volume industri sebesar 3%-5% setiap tahunnya. Tambahan lagi, sejak tahun 2020, Pemerintah RI menetapkan kenaikan cukai rokok 23% dan harga jual eceran rokok 35%.

Situasi seperti itulah yang dihadapi salah satu pemain di industri rokok, Bentoel Group, yang kini juga dikenal sebagai BAT (British American Tobacco) Indonesia.

Perusahaan ini kini dikomandani William Lumentut ‒sebagai presiden direktur‒ sejak Juli 2022.

Sebelum menjadi orang Indonesia pertama yang menduduki posisi tersebut, ia punya pengalaman karier lebih dari 20 tahun di berbagai jenis industri. Dari industri FMCG hingga healthcare. Dari perusahaan lokal hingga perusahaan global.

Eksposur dan pengalaman karier yang kaya itu menjadi bekal bagi William untuk memimpin Bentoel menghadapi tantangan bisnis yang tidak mudah itu. Sejak memimpin Bentoel, ia menerapkan berbagai strategi, termasuk menjalankan langkah transformasi bisnis dan organisasi agar perusahaan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan pasar secara lebih cepat, dan mampu turnaround dari kondisi merugi menjadi profitable.

“Bagi saya, di setiap industri, baik itu growing industry ataupun sunset industry, pasti punya tantangan masing-masing,” katanya. “Kuncinya adalah bagaimana kita men-drive perusahaan itu,” ujar berusia 48 tahun itu.

Selain transformasi bisnis, Wiliam berupaya membangun keyakinan seluruh karyawan agar sanggup menghadapi berbagai tantangan. Ia menekankan pada kolaborasi, keterbukaan, dan komunikasi.

Ia mendorong organisasi yang lebih terbuka dan less hierarchical. “Dalam memimpin, saya selalu menerapkan open door policy dan skip level discussion,” kata William. “Jadi, saya tidak hanya berinteraksi atau berdiskusi dengan orang yang direct report ke saya, tapi juga mereka yang berada dua-tiga level di bawahnya,” ujarnya lagi.

Ia membuka kanal seluas-luasnya agar karyawan dapat menyampaikan masukan dan ide. Salah satunya disebut Will’s Mailbox, yang dikhususkan bagi karyawan untuk bisa memberikan saran atau masukan langsung kepada CEO melalui jaringan intranet.

“Banyak sekali ide yang sudah diimplementasikan lewat mailbox tersebut. Idenya bisa dalam bentuk apa pun: ide bisnis, pola kerja, work-life balance, dan sebagainya,” katanya.

William ingin membangun informalitas dalam hubungannya dengan karyawan, dan bukan sebagai pemimpin yang perlu ditakuti. Menurutnya, ketika hubungan secara personal sudah lebih cair, akan lebih mudah untuk menyampaikan pesan-pesan terkait dengan pekerjaan.

Cara ini diterapkan William untuk menjaga ritme organisasi agar tidak ada blind spot. “Sering perusahaan gagal karena blind spot, yang menyebabkan mereka menjadi salah arah atau haluan,” katanya.

Untuk bisa menemukan peluang bisnis baru, Bentoel selalu mengacu pada visi perusahaan, yakni mewujudkan a Better Tomorrow. Menurut William, perusahaan memasuki kategori bisnis baru dengan melihat kebutuhan konsumen dan tren perubahan pasar dengan menawarkan produk alternatif yang memiliki potensi risiko lebih rendah, yakni Vuse, sebagai produk pengantar nikotin elektrik. Satu hal yang bisa diandalkan, Bentoel telah memiliki fasilitas pabrik kelas dunia yang telah memproduksi berbagai produk hasil tembakau ke 25 negara di dunia.

Dalam hal eksekusi strategi, William meyakini bahwa hasil terbaik diperoleh dari 10% strategi dan 90% eksekusi. Caranya, mulai segala sesuatu dari yang kecil.

“Cara berpikir kita harus always think big, start small, and then scale fast. Strategi ini sudah kami lakukan dengan sangat konsisten untuk semua merek kami,” ungkap William.

Di bawah kepemimpinannya, hingga saat ini Bentoel merupakan perusahaan yang profitable, dengan gross profit Rp 1 triliun pada tahun 2022 (naik 20% dari tahun sebelumnya). Net profit juga tumbuh signifikan pada 2023, yakni di atas 400% pada kuartal III/2023 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

William juga berhasil membawa investasi yang lebih besar ke Indonesia, dengan relokasi fasilitas produksi dari Singapura ke Malang, yang menguatkan posisi Indonesia sebagai global export hub bagi BAT Group. Di samping itu pula, terdapat berbagai pencapaian dalam hal sustainability (zero waste to landfill) sejak tahun 2022, dengan tingkat daur ulang 100% untuk limbah non-B3 di wilayah pabrik dan 100% renewable electricity.

Tidak ketinggalan, Bentoel pun menjadi talent exporter di BAT Group: 42 karyawan Bentoel atau BAT Indonesia bekerja di luar negeri per Oktober 2023, merupakan yang tertinggi dalam sejarah BAT Indonesia. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved