Trends

LPS Berinovasi Guna Menyehatkan BPR Indramayu Jabar

Foto : LPS.

swa.co.id, Jakarta-Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berinovasi untuk menangani bank bermasalah. LPS berhasil menyehatkan kembali Bank Perekonomian Rakyat Indramayu Jabar (BIMJ) yang sebelumnya masuk dalam kategori Bank Dalam Resolusi (BDR). Sebelumnya, BIMJ berstatus Bank Normal kemudian memburuk sehingga statusnya menjadi Bank Dalam Penyehatan (BDP). Seiring kondisi kesehatan BIMJ yang tidak kunjung membaik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan status bank tersebut menjadi BDR. OJK pada 12 Januari 2024 menyerahkan penanganannya kepada LPS.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), LPS berwenang menangani bank berstatus BDR. LPS dapat melakukan penjajakan kepada bank yang berminat untuk mengambil alih seluruh, atau sebagian aset dan kewajiban bank serta penjajakan kepada calon investor lainnya, dimana sebelumnya LPS tidak memiliki kewenangan ini.

LPS kemudian melakukan upaya penyehatan BIMJ dengan menggandeng Bank BJB yang merupakan kreditur BIMJ untuk menjadi investor. “Hal ini merupakan langkah terobosan untuk penanganan bank yang lebih efektif, sehingga memungkinkan LPS melakukan tindakan penyelamatan oleh calon investor atau pihak lainnya, sebelum LPS memutuskan opsi resolusi yaitu purchase and assumption, bridge bank, penyertaan modal sementara, atau likuidasi,” ujar Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan dan Resolusi Bank, Didik Madiyono di Jakarta, Rabu (29/5/2024).

Penyehatan BIMJ ini merupakan milestone penting dalam penanganan bank dalam resolusi. BIMJ dan 7 BPR lainnya telah ditetapkan oleh OJK sebagai bank dalam resolusi pada 12 Januari 2024. BPR-BPR ini telah diberikan kesempatan selama lebih dari 1 tahun untuk memperbaiki solvabilitas (KPMM) dan likuiditas (cash ratio).

Namun, sampai batas waktu berakhir, kondisi solvabilitas dan likuiditas bank masih di bawah ketentuan mengenai tingkat kesehatan bank, sehingga ditetapkan oleh OJK sebagai bank dalam resolusi. Bersamaan dengan pemberitahuan BIMJ sebagai bank dalam resolusi oleh OJK, maka LPS segera menjalankan kewenangannya yaitu menonaktifkan pengurus dan menugaskan Tim Pengelola Sementara untuk menjalankan operasional bank.

LPS menunjuk tim pengamanan aset dan tim persiapan rekonsiliasi dan verifikasi simpanan untuk antisipasi dalam hal bank pada akhirnya tidak dapat diselamatkan. Penyehatan BIMJ dilakukan dengan melakukan konversi pinjaman menjadi Modal Inti Tambahan sebesar Rp25 miliar dari seluruh pinjaman Bank BJB kepada BIMJ sebesar Rp39 miliar. Dengan konversi tersebut, perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank, menurut Tim Pengelola Sementara, mencapai 28,83% dan cash ratio rata-rata 3 bulan terakhir mencapai 27,03%.

KPMM dan cash ratio tersebut, bank sudah dapat memenuhi ketentuan tingkat kesehatan mengenai solvabilitas dan likuiditas. “Kami mengharapkan BIMJ dapat kembali menjalankan fungsi ekonominya sebagai Bank Perekonomian Rakyat bagi masyarakat di Kabupaten Indramayu dan sekitarnya. Kami juga mengharapkan seluruh unsur pemegang saham, pengurus, dan pegawai BIMJ dapat melakukan inovasi dan terobosan yang diperlukan agar BIMJ lebih maju lagi dan menjadi kebanggaan masyarakat Indramayu,” tutur Didik. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved