Trends

Destry Damayanti, Calon Tunggal Deputi Gubernur Senior BI

Destry Damayanti. (Foto : Bank Indonesia).

swa.co.id, Jakarta- Destry Damayanti dicalonkan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) untuk periode kedua. Sebelumnya, Destry menjabat DGS BI pada periode 2019-2024. Tahun ini, wanita kelahiran Jakarta pada 16 Desember 1963 ini difavoritkan melanjutkan tugasnya lantaran menjadi calon tunggal Deputi Gubernur BI periode 2024-2029. Pencalonannya termaktub pada Surat Presiden R-17/Pres/05/2024 yang disampaikan ke DPR.

Destry meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan melanjutkan pendidikan pascasarjana di Cornell University, New York dan memperoleh gelar Master of Science di bidang Regional Science​​. Dia berkarier di sektor ekonomi dan keuangan. Sebelum merambah dunia perbankan, Destry pernah menjadi atlet tenis nasional, sebuah fakta yang menunjukkan komitmennya terhadap disiplin dan kerja keras sejak dini​​.

Perempuan berkacamata ini memulai kariernya sebagai peneliti di Harvard Institute for International Development dan di berbagai institusi di Indonesia, termasuk Institut Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dan Pusat Antar Universitas untuk Ekonomi.Kemudian, dia bekerja di Citibank Indonesia sebagai ekonom sebelum menjadi Senior Economic Advisor untuk Duta Besar Inggris di Indonesia​​​​.

Pada 2005 hingga 2011, Destry menjabat sebagai Kepala Ekonom di PT Mandiri Sekuritas dan kemudian sebagai Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk hingga 2015. Dia juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN pada 2014-2015. Pada 2015, Destry dilantik sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebelum dipercaya sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2019​​​​ hingga tahun ini.

Destry dikenal sebagai seorang profesional dengan integritas tinggi, kemampuan analisis yang tajam, dan kepemimpinan yang solid. Filosofi hidupnya, yang meliputi be yourself, do what you love and love what you do serta dedikasi terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan, menunjukkan komitmennya untuk terus belajar dan berkembang​​​​.

Sebagai DGS BI, Destry memainkan peran penting dalam berbagai kebijakan moneter dan keuangan yang krusial bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Dia dikenal lantaran kontribusinya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengoptimalkan kebijakan moneter untuk mendukung pertumbuhan ekonomi​​.

Berdasarkan catatan swa.co.id, Destry memiliki lima visi untuk memperbaiki perekonomian Indonesia tatkala dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior BI oleh Mahkamah Agung pada 2019. Kala itu, dia menjabarkan lima hal prioritas yang dilakukan oleh bank sentral. Pertama, kebijakan moneter campuran bank sentral atau policy mix. “BI sekarang tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter tetapi juga kebijakan makroprudensial,” ujar Destry upacara pengucapan sumpah jabatan di Mahkamah Agung, Jakarta pada Rabu, 7 Agustus 2019.

Kedua, agenda untuk pendalaman sektor keuangan. Ketiga, menciptakan dan memperkuat sistem pembayaran digital. Keempat, memperkuat potensi keuangan syariah dan produk syariah lain di Indonesia. Kelima, menciptakan relasi koordinasi dan sinergi dengan lintas instansi. Dengan demikian, semua upaya mempertahankan stabilitas ekonomi bisa tercapai. Pada pelantikan Destry di 2019 itu sejumlah pejabat dan tokoh publik menghadiri kegiatan ini, diantaranya Gubernur BI, Perry Warjiyo beserta para deputi, Ketua Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso, pejabat Kementerian Keuangan, serta para ekonom seperti Aviliani, dan Mary Elka Pangestu, sampai Agus Harimurti Yudhoyono.

Menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dipublikasikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), total harta kekayaan Destry mencapai Rp46,55 miliar. Harta tersebut terdiri dari tanah dan bangunan senilai Rp19,81 miliar, alat transportasi dan mesin Rp1,02 miliar, harta bergerak lainnya Rp4,14 miliar, surat berharga Rp16,07 miliar, kas dan setara kas Rp6,03 miliar, serta harta lainnya senilai Rp681,99 juta. Destry juga memiliki utang senilai Rp1,21 miliar​​.

Jika terpilih sebagai DGS BI, Destry akan menghadapi berbagai tantangan, termasuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global, mengendalikan inflasi, memperkuat sektor keuangan, dan mengadaptasi kebijakan moneter terhadap perkembangan teknologi digital. Tantangan lain yang signifikan adalah bagaimana mengembalikan alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) menjadi 18% tanpa menyebabkan turbulensi pasar​​​​. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved