Economic Issues

Bank DBS Memacu Prinsip Perbankan yang Berkelanjutan

Foto : DBS Indonesia.

swa.co.id, Jakarta- Masa depan keberlanjutan menjadi tanggung jawab setiap pihak dan hilirisasi menjadi salah satu upaya menuju operasional bisnis yang lebih hijau. Anthony Utomo, Energy Transition Task Force di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), mengamati banyaknya peluang dari kebijakan hilirisasi. Salah satu yang paling bisa dilihat nyata misalnya di bidang otomotif. Sudah banyak sekali OEM (Original Equipment Manufacturer) yang mau masuk ke Indonesia.

Apalagi dengan adanya Perpres (Peraturan Presiden) terkait kebijakan EV (electric vehicle) itu ada beragam insentif, antara lain pembebasan bea impor dan lainnya. “Ini harus menjadi ceruk untuk Indonesia agar bisa membangun industrinya menjadi ekonomi hijau.” ujar Anthony seperti dikutip pada Jumat, (31/5/2024).

Pada kesempatan ini, Executive Vice President Commercial Product Development PT PLN (Persero), Ririn Rachmawardini, menyampaikan PLN mendukung program pemerintah tentang energi terbarukan dan mempersiapkan masa depan yang berkelanjutan. “Ini dalam sejarah PLN adalah RUPTL pertama yang langsung memasukkan EBT untuk menyiapkan kebutuhan-kebutuhan dari investor yang akan melakukan hilirisasi,” ujar Ririn.

PLN menargetkan penambahan kapasitas listrik ramah lingkungan (green electricity) sebesar 54 gigawatt di 2040. Perseroan menjajaki berbagai model kemitraan untuk mempercepat proyek energi terbarukan di Indonesia., PLN melalui PT State Grid Power Indonesia (SGPI) juga mendapatkan pinjaman senilai US$100 juta dari Bank DBS Indonesia untuk mendukung layanan Advanced Metering Infrastructure (AMI) di 2023.

Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan transformasi digital di sektor energi yang dapat memperbaiki akurasi transaksi listrik. Selain PLN, Bank DBS Indonesia pada 2023 mengalokasikan dana sebesar Rp6,1 triliun untuk pendanaan berbagai proyek hijau dan berkelanjutan di sektor otomotif, pangan, pertanian, minyak dan gas, serta energi. Sebesar 30% dari dana ini dialokasikan khusus untuk proyek energi terbarukan, sejalan dengan pilar keberlanjutan pertama Bank DBS Indonesia, yaitu Responsible Banking.

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, menegaskan pentingnya langkah berkelanjutan untuk masa depan Indonesia. Menurutnya, lonjakan ekspor dan investasi asing langsung, serta peningkatan status ekonomi Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas oleh Bank Dunia pada pertengahan 2023, menunjukkan potensi besar yang dimiliki Indonesia.

DBS Asian Insights Conference 2024 menghadirkan beberapa anak muda dan pendiri startup yang terkait prinsip keberlanjutan, yakni Founder & CEO Plana, Juan Apriliano Chandra serta Co-Founder & Chief Growth Officer Nafas, Piotr Jakubowski.

Plana merupakan social enterprise (SE) yang berfokus pada pengolahan sampah plastik menjadi bahan baru yaitu Plana Wood, sebuah alternatif kayu alami yang tahan lama dan dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Sedangkan Nafas menyediakan data kualitas udara (air quality index/AQI) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang polusi udara dan mendorong perubahan kebijakan.

Baru-baru ini, kedua SE tersebut dan dua SE asal Indonesia lainnya, yakni Magalarva dan Liberty Society, mendapatkan dana hibah senilai senilai 710 ribu dolar Singapura (Rp8,2 miliar) dari DBS Foundation (DBSF) Business for Impact Grant Award Programme 2023. “Dana hibah ini digunakan untuk meningkatkan dampak positif dan menginspirasi orang lain untuk bergabung dalam perjuangan demi masa depan yang lebih berkelanjutan,” kata Lim. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved